Di masa Orba, retail asing memang dilarang keras masuk ke Indonesia. Siapa yang senang? Singapura! Mereka menangguk duit dari para penggila belanja asal Indonesia. Belanja di Sarinah? Kampungan, katanya. Pasaraya (dulu kalau tak salah namanya Sarinah juga)? Kurang lengkap...
Nah, retailer asing yang pertama menginjakkan kaki di Indonesia adalah Sogo (bermakna: pemintal benang). Dulu sewaktu saya masih bekerja di majalah Swa, pernah mewawancarai seorang eksekutifnya yang asal Jepang. Waktu itu Sogo belum dibuka, Plaza Indonesia masih dalam tahap pembangunan. Begitu dimuat, dunia geger. Tulisanku menjadi ilham buat para wartawan untuk mempertanyakan keberadaan retailer asing di Indonesia. Akhirnya, Sogo lolos ujian. Ratusan anak muda bergabung menjadi karyawan disana, kebanyakan memang lulusan SMA saja. Episode berikutnya adalah kehadiran hypermarket Makro, berlokasi di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Ini juga sempat diributkan. Saya masih ingat, pak Teddy yang mantan bos Astra langsung menerapkan jurus-jurus yang unik. Akhirnya, Makro juga lolos ujian. Lagi-lagi, ratusan anak muda bergabung menjadi karyawan disana, kebanyakan memang lulusan SMA saja. Bayangkan tanpa kehadiran retailer asing, berapa ribu anak muda yang jadi pengangguran. Mau jadi pengamen atau pengedar narkoba. Sebagai catatan, tak semua retailer asing mencetak sukses besar di Indonesia. Sebagai contoh adalah Seibu yang sempat buka beberapa saat, namun pilih tutup karena salah lokasi.
