Infrastuktur buat perlatan dari selain AS juga sudah ada pak.
Rudal milik indoneia saat ini hanya maverick dan sidewinder, itu pun
jumlahnya tidak banyak dan masa pakainya bakalan habis. Yang masih
bayak itu bom bodoh. Jangan dilupakan pula AS tau frek  rudal yang
diekspor ke luar sehingga kalo rudal itu dipakai untuk menyerang milik
dia atau sekutunya dijamin rudal tersebut akan terdeteksi dan bisa di
jamming. Sekarang rudal buatan barat bisa dipasang di pesawat rusia,
ini di dipraktekkan di negara eropa timur yang masuk Nato.
Dari sisi politis pembelian ini tidak aneh karena sby adalah jendral
didikan AS. AS tidak akan mengembargo program pendidikan perwira
militer indonesia di AS karena biasa nya perwira yang sekolah di AS
selalu memilih produk buatan AS.

regards


2008/2/26 Jovin Rudi Atmanto <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> DI tahun 1980-an, pesawat tempur paling canggih yang dimiliki TNI AU adalah
>  F-5E Tiger II. Sulit untuk dikatakan "garang" dengan pesawat berkemampuan
>  seperti itu. Dalam prakteknya, semenjak era 60-an pada waktu konfrontasi
>  dengan Malaysia di mana TNI-AU dipersenjatai oleh Uni Sovyet pada waktu itu
>  dengan pesawat seperti MiG-21 (fighter) TU-16 (Bomber) dan IL-28 (anti
>  submarine), angkatan bersenjata Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk
>  melakukan ofensif, paling hanya cukup untuk bela diri saja. Saya pikir
> tidak
>  tepat juga istilah "garang" di tahun 80-an.
>
>  Kembali ke soal pesawat F-16. Lepas dari nuansa politis di belakangnya,
> IMHO
>  lebih ekonomis untuk melakukan upgrade terhadap pesawat F-16 daripada
>  membeli baru. F-16 walaupun lahir dari platform tahun 70-an, namun sudah
>  mengusung teknologi fly by wire yang revolusioner pada jamannya. Bahkan
>  dengan F-15 yang berdaya pukul lebih hebat, F-16 masih mengusung teknologi
>  yang lebih baru sehingga memudahkan untuk mengupgrade di masa depan.
>
>  Option lain untuk memodernisir TNI AU dengan membeli sukhoi seolah-olah
>  lebih murah, namun harus diingat bahwa seluruh infrastruktur TNI AU
>  dirancang untuk pesawat buatan AS. Jika TNI AU membeli pesawat AS, maka
>  system senjata, rudal, tanki bahan bakar, dan sebagainya bisa menggunakan
>  yang sudah ada, sementara pesawat buatan Rusia menggunakan rudal jenis AA
>  yang lain sama sekali sehingga harus membeli lagi.
>
>  Salam
>
>  Jovin

Kirim email ke