numpang nanya:
pak haniwar, saya ini awam soal sapi. bisanya cuma makan, tapi paling senang 
makan daging kerbau dan ikan. pertanyaan saya, mana yang lebih menguntungkan 
dan bermanfaat
jika modal yang ditanamkan untuk sapi dengan pengelolaan atau pengembangan dunia
nelayan yang hasilnya tentunya saja ikan. bukankah potensi bahari kita yang 
dahsyaat dan saya kira lebih sehat ketimbang daging sapi.
pertanyaan kedua, dibandingkan sapi dengan beternak kerbau, mana yang lebih 
baik. saya
dengar kerbau lebih tahan penyakit dan lebih sehat.
tengkyu, salam,
halim hd.

--- On Thu, 10/2/08, Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] membangun peternakan sapi Indonesia
To: [email protected]
Date: Thursday, October 2, 2008, 6:34 PM











            Menurut kata data resmi   , kita punya sapi 11 juta ekor, dan anda

boleh tahu, bhw data itu stagnan selama 10 tahuun terakhir, gak

pernah naik..gak pernah ad akemajuan, walau konon kita bebas PMK.



kalau di tanya kepada para  praktisi, kebanyakan bilang bhw data 11

juta itu palsu, jumlahnya malah lebih kecil dr itu.



Misal Pak Djaya Gunawan , kini alm, praktisi yg seumur hidupnya  di

bidang petyernakan sapi , bilang pada ,saya , kalau ada 6 juta aja udah bagus..

Apa artinya  , status bebas PMK kita bagi kemajuan peternakan

???  gak berarti apa apa..  Peternakan kiita tetap terpuruk..



kenapa ??



Krn kebijakan yg salah,, krn ketiadaan investasi yg benar ..



Saya selalu berpendapat bhw penggemukan sapi impor dr Australia

adalah kebijakan yg salah .. kenapa .??? . ,  lha sapi  kok diimpor

utk di gemukkan. Misal berat datang 400 kg , lalu di gemukkan

jadi  500 kg, Komponen lokal cuma 20 persen, itupun kalau makannnya

dr produk dalam negeri, nyatanya banyak yg diimpor juga,



Dan usaHA INI  gak menambah populasi sapi Indoneisa. Menurut sy lebih

baik dipotong di Asustralia aja, ongkos angKut nya murah, krn gak

harus angkut darah , , tulang dan  manure nya,   .. belum lg selama

di perjalanan susut  beratnya.



Akibatnya harga daging yg diimpor dalam bentu sapi hidup jadi jauh

lbh mahal dr harga daging yg diimpor dlm bentuk daging ..  Sebagai

contoh di musim lebaran ini, harga daging yg di beli dlm bentuk

daging, hanya di jual seharga Rp.55.000 sedang daging yg berasal dr

sapi impor harganya Rp.75.000 .( harga sapi hidupnya aja sudah

Rp.23.500 per kg)



Ini fakta..



Kalau bgt kan mending impor daging.. aja  , kan ada pajak masuknya (

pajak sapi impor 0persen ) , dan pajak nya ini yg seharusnya bisa

digunakan utk membangun peternakan sesungguhnya. Konon di Malaysia ,

pajak bea masuk hsl pertanian dipakai utk mengembangkan komoditi

ituhingga suatu hari justru bisa berhenti impor.



Lebih bebat lg, kalau impornya dr negara yg murah dagingnya, pajaknya

bisa lebih banyak   .modal utk membangun peternakan sapi sesungguhnya

( bukan penggemukan) akan terkumpul.



Bagaimana dgn resiko  kalau kena PMK... ??

ah itu mudah..



Kita bisa bagi negara kita dua wilayah.. satu Zone peternakan.. , yg

harus bebas  dr masuknya segala yg berisiko penyakit, yaitu Kepulauan

Nusta Tenggara , Sulawesi dan Irian,  sementara 3 pulau gede, Jawa,

Kalimantan dan Sumatra , gak usah ada peternakan, dimana daging sapi

sehat adan aman berasal dr Free Zone bebas PMK , atau bahkan

compartemen yg bebas PMk , boleh masuk dgn di pajaki secara significant.



Jadi senadainya Suhadji dkk benar ada resiko PMK, maka krn di pulau

pulau itu gak ada peternakan ya gak papa, sementara bagi manusia, krn

daing sebelum dimakan pasti di masak ya gak maslah juga. PMK sangat

mudah di bunuh dgn pemanasan.



Dengan adanya batas perairan diantara kepulauan, bisa dipastikan

didaerah peternakan dapat diamankan dgn mudah.



Yang indah kalau kita juga menganut sis tim Zone beas, kalau

mengimpor .., maka kita juga bisa negekspor dgn sistim yg

sama.Artinya. . Bila Sulawesi misalnya bebas Avian Flue, tapi punya

banyak aya,m , maka kita tetap bisa  mengekspor ayam dr Sulawesi.

Kalau kita ngotot utk menganut sistin negara bebas.., maka jika satiu

kecamatan saja terkena avian flue atau penyakit lain, maka ternak dr

seluruh Indoensia tidak bisa diekspor.



Mana  yg lebih untung  ??.



Kompas, terus menerus menulis .. ucapan.., Suhadji, Mangku, yg

nyatanya cuma punya kebanggaan kosong ttk starus bebas PMK, tanpa bis

a membuktikann manfaatnya bagi bangsa Indonesia. Mrk inilahyg

bertanggung jawab atas mandeg nya peternakan Indoensia dan rendahnya

konsumsi per kapita daging rakyat Indoensia , yg berujung kurang

berkembangnya otak..



Buat Mas Agus , yg mau memuat tulisanku yg mengkoreksi KOmpas, terima

kaish..anda objektip utk berharap spy Kompas bisa berbuat lebih baik...

Ini kan saya gak sekedar kritik..  beri solusi juga...smiloe. .



HS


Kirim email ke