Untuk bisa menentukan apakah kebijakan Pemerintah DKI memajukan jam masuk sekolah anak adalah kebijakan ngawur atau enggak, saya tak perlu pakai baca-baca macem-macem literatur, Bung. Cukup pakai akal sehat dan hati nurani saja. � Justru saya yang ingin menasihati Anda dan juga kaum penguasa di Pemda DKI yang Anda bela itu supaya tidak terpuruk dalam SIMPLIFIKASI: mau mengatur lalu-lintas gak punya cukup akal, maen ambil gampangnya aja anak sekolah yang disuruh masuk lebih pagi. � Pengakuan Anda bahwa pemda DKI bersikap topdown dalam ambil kebijakan itu sudah jelas. Problemnya adalah pada sikap Anda yang menyepakati bahwa untuk merekayasa pola aktivitas masyarakat, anak sekolah yang harus dijadikan kelincinya. Masuk belum mengerti juga ya? Saya sampai bosen nih tanya: kenapa kok anak sekolah? Kok nggak karyawan/pegawai saja yang nyata-nyata jumlahnya jauh lebih besar daripada jumlah anak sekolah? Bisa nggak Anda kasih jawaban yang masuk akal? Lagi-lagi, jangan-jangan yang kaga nyimak itu Anda, Bung! � Yang ngomong anak-anak pada bunuh diri karena stress siapa? Anda mulai mau ajak saya masuk ke pelajaran "mengarang" cerita ya? Yang saya selalu tekankan adalah TIDAK PANTAS membebankan urusan kemacetan lalu-lintas ke anak-anak!!!!! Orang tua mau Anda suruh bilang apa? "Nak, kamu harus masuk lebih pagian ke sekolah sebab Pemda DKI mau mengurangi kemacetan lalu-lintas." Gitu ya? �Apa nggak bakal kedengaran bodoh sekali di telinga anak-anak itu? Mikir, Bung! � Jalan pikiran Anda makin lama makin keliatan ajaib, Bung. Kalo Anda beli mobil dan lalu terjebak dalam kemacetan MEMANG itu akibat egoisme dan kemanjaan Anda sendiri. Anak sekolah yang harus sekolah naik kendaraan itu apa karena KEMAUAN mereka? Mobil yang mereka naiki itu apa mereka yang BELI?� Lalu, APA PANTES menyuruh anak-anak BERTANGGUNG JAWAB pada kemacetan yang terjadi? KALU mau hukum orang tua mereka yang doyan beli mobil, silakan. TAPI JANGAN ANAKNYA YANG DIHUKUM! � Luruskan jalan pikiran Anda, Bung! membedakan sumber permasalahan saja Anda sudah nggak karuan, gimana mau bicara solusi? � manneke
--- On Tue, 12/9/08, Harya Setyaka <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Harya Setyaka <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kalau PNS masuk jam 06.30 wib To: [email protected] Received: Tuesday, December 9, 2008, 1:10 AM Pak Manneke yg budiman, mohon kesabarannya dalam mempelajari subjek baru, yaitu transportasi perkotaan... simak lah baik-2 buku-2/literatur mengenai subjek diatas.. perkayalah kepustakaan anda sebelum lebih jauh terpuruk dalam simplifikasi. demand transportasi/ pergerakan adalah fungsi dari aktivitas manusia/penduduk kota. karena aktivitas kota sgt kompleks, maka makin kompleks pula-lah pola pergerakan/lalu lintas dan kinerja jaringan jalan (--> kemacetan). solusi yg ditawarkan oleh pemprov adalah merekayasa pola aktivitas sebagian penduduk kota. hanya itu yg saya sepakati. sisanya tidak sy puja puji.. simaklah email sy dengan baik Bung.. sy pun menyatakan bahwa wajar apabila pemprov menerima respons negatif dari masyarakat karena bersikap top-down... sekali lagi.. simak Bung! Betul, bahwa sy tidak punya data berapa banyak anak yg sdh tiba di sekolah pukul 6.30. tapi tidak betul juga bahwa anak-2 stress karena bangun pagi, bahkan sampai bunuh diri. yg saya pahami, bunuh diri lebih karena malu ga bisa bayar uang eks-kul.. dll. di kota Bandung, Surabaya, sudah masuk 6.30.. di Yogya ada pula yang 6.45. namun demikian, tidak melulu siswa berprestasi berasal dari Jakarta. betul, bahwa kita perlu detailing utk hal ini. Data kita memang sgt terbatas, namun solusi sudah sgt mendesak. walhasil, kita seperti dokter/mantri di pedalaman... dengan segala keterbatasan alat diagnosis, melihat dan menganalisis gejala-2.. karena kalau menunggu invensi alat diagnosis yg super-canggih dan super-akurat, pasien-nya udah mati duluan. pahami juga Bung.. bahwa kemacetan itu bukanlah masalah yg ditimbulkan oleh orang lain.. tapi kita yg merasa 'terjebak' kemacetan, sebenarnya adalah 'penyebab' kemacetan. siapapun yg bermobil di jalan adalah penyebab kemacetan, dan semua orang berhak menjadi penyebab kemacetan dan karena hak itu dimiliki semua orang, maka menderita kemacetan (yg ditimbulkan bersama) adalah konsekuensi logis.. you did it to your-self... So, kalau mau 'terbebas' dari kemacetan, maka harus rela tidak menjadi 'penyebab' kemacetan.. termasuk anak-2 sekolah. sy sendiri sudah lama terbebas dari macet, karena setia dengan Busway dan bersepeda... (sekaligus mengurangi beban subsidi BBM) dari DurenTiga masuk kantor di Harmoni jam 7an, berangkat jam 6.20an dan pulang jam 4 (teng)... salam, -K- NB: Bung Manneke, cobalah bersepeda atau sport apa pun.. you could use the endorphins.
