Pak Manneke,

Saya tidak akan terjebak pada posisi mendukung kebijakan Pemda DKI,
dus berlawanan dengan Anda. Seperti sudah saya bilang, saya ada di
posisi ketiga: tidak peduli.

Menggeser jam sekolah buat saya juga bukan kebijakan yang hebat-hebat
amat. Masih banyak yang bisa dilakukan selain itu: menertibkan angkot-
angkot yang ngetem di persimpangan, menertibkan pengendara motor yang
main serobot jalur berlawanan, menertibkan ibu-ibu rumah tangga kaya
yang kurang kerjaan yang memilih parkir menunggui anaknya di jalan
raya depan sekolah (ketimbang hanya mendrop anaknya dan langsung
pulang) dan menghabiskan 1-2 jalur jalan raya.

Tapi buat saya, kalau jam sekolah digeser juga bukan masalah besar.
Banyak kok warga Jakarta yang gaya hidupnya sama dengan saya: tidak
membiasakan anaknya bangun siang dan memilih sekolah yang dekat.

Kalau ada warga Jakarta yang tidak mau anaknya bangun terlalu pagi
karena sekolahnya jaraknya 4 kali angkot, mereka punya dua pilihan:
Diam dan menyesuaikan diri atau memperjuangkan KEPENTINGANNYA SENDIRI
lewat media massa atau ke DPRD.

Tentu saja kalau mau sukses memperjuangkan kepentingan sendiri tadi,
otomatis kepentingan Anda itu harus di-upgrade menjadi "kepentingan
umum". Kalau tidak Anda akan kalah dengan yang pro kebijakan Pemda
DKI yang juga sedang memperjuangkan "kepentingan umum".

Andi

--- In [email protected], manneke budiman
<hepaest...@...> wrote:
>
> Jam biologis itu tidak alamiah sepenuhnya. jam biologis juga
dipengaruhi pola dan jadwal tidur di tempat seseorang hidup.
Pergeseran pola tidur/bangun satu jam lebih awal atau satu jam lebih
lambat butuh penyesuaian, walaupun secara alami terbit-tenggelam
mataharinya sama. Yang pertama terkait kebiasaan, sedang yang kedua
alami.
> �
> Mau enggak orang sini adzan maghribnya digeser jadi jam 7 malam dan
subuhnya jam 6 kurang seperempat kaya di Singapura? mari kita dengar
apa kata MUI. Jangan-jangan nanti dibilang "intervensi asing" segala.
Tapi kalo jam sekolah boleh ya?
> �
> Memang susah ya ternyata kalo mau "nyambung" pembahasan secara
konsisten?

Kirim email ke