Pak Manneke,

Anda mengingatkan saya kepada George W. Bush ca 2002: Either you're
with us or you're against us. Memang kenapa kalau saya tidak peduli?
Kalau saya ikut berdiskusi bukan berarti saya harus memancang bendera
sebagai kawan atau lawan Anda.

Pendapat saya cuma bahwa kebijakan Pemda DKI itu tidak bisa dipukul
rata merugikan semua anak-anak. Banyak anak-anak yang sekolahnya
dekat rumah. Banyak anak-anak yang terbiasa bangun pagi, dus tidak
terpengaruh. Bahkan menurut saya itulah pilihan yang lebih pintar,
yang justru harus dipromosikan; bukan membela orang tua yang
menyekolahkan anaknya jauh-jauh. Moga-moga dengan demikian malah bisa
menyumbang sebagai salah satu solusi kemacetan.

Lucu juga kalau ada orang yang demi mencari kontrakan murah, lantas
memilih menghabiskan uangnya untuk sewa angkot. Apa gunanya? Saya
yakin Anda tidak punya data berapa beda ekstra harga kontrakan
dibandingkan ongkos beberapa kali angkot ke sekolah. Bisa jadi Anda
akan tertawa sendiri karena alasan tersebut akan mulai terdengar
konyol ketika Anda masuk ke detail hitung-hitungan rupiahnya.

Saya juga tidak sedang menentang agenda yang ingin Anda perjuangkan,
Pak. Tidak ada untungnya juga buat saya. Jam kerja resmi di kantor
saya jam 7.30; tapi saya memilih masuk jam 6.45 karena senang kerja
pagi-pagi. Kalau anak sekolah masuk kam 6.30, berarti bersamaan
dengan jam saya berangkat kerja. Tapi kalau ada bagian pendapat Anda
yang tidak saya sepakati, saya tidak merasa ada masalah untuk
berdebat. Tidak membuat saya menjadi pahlawan atau menjadi plin-plan.
Biasa saja.

Andi

PS: Kalau baca maki-makian Anda di posting yang lain, saya kok makin
setuju dengan saran salah satu miliser di sini: rajin-rajinlah
berolahraga. Baik untuk kesehatan mental.


--- In [email protected], manneke budiman
<hepaest...@...> wrote:
>
> Pak Andi,
> �
> Barangkali di situ persoalannya. Karena Anda berangkat dari posisi
seseorang yang TIDAK PEDULI, maka dalam urun pendapat, sama sekali
tak ada EMPATI. Mau digeser jamnya, gue EGP, mau gak pake penggeseran
jam pun, gue EGP.
> �
> Milis ini adalah bagian dari "media massa" juga, Pak Andi. Jadi
sudah benar jika orang yang tak setuju dengan suatu kebijakan publik
menyuarakan pendapatnya di milis-milis. Apalagi jika ybs tak punya
akses langsung ke DPR yang pintunya pakai pagar besi superberat itu.
> �
> Saya tidak berpretensi sedang memperjuangkan kepentingan umum. Saya
gak mau pakai kata-kata ambigu seperti "umum" dlsb. Concern saya
spesifik pada anak-anak sekolah. Bisa saja kepentingan anak sekolah
ini berbenturan dengan kepentingan unsur masyarakat yang lain. Tapi
yang jelas, bagi saya tidaklah jantan untuk membuat kebijakan yang
mengorbankan unsur masyarakat yang lemah seperti anak-anak hanya
karena ini dipandang sebagai cara termudah.
> �
> manneke

Kirim email ke