Ya Anda saja dari awal yang telmi. Baru sekarang dapet sedikit pemahaman. Ya biarlah bangga dikit, kasian... Dari Zaman Batu dulu saya juga kaga pernah berpretensi belain kasus umum, situ aja yang kebanyakan ngeboat jadi mikirnya kaga karu-karuan. Kaga tau saya apa mereka bener 4 kali naik angkot atau tidak. Yang jelas ada yang menulis bahwa sedemikianlah halnya, dan diskusi dalam milis ini semuanya berangkat dari tulisan. Semua diskusi dilakukan dengan asumsi dasar bahwa tulisan itu benar (sampai bisa digugurkan kebenarannya dengan info yang lebih akurat). Gitu aja kok refot banget sih? Kita belum pernah survey orang tua di sini atau di mana pun juga soal kenapa mereka sampai rela anak-anaknya naik angkot 4 kali, atau verifikasi lapangan apa betul anak-anak itu naik angkot sampe 4 kali. Yang jelas, seorang member milis ini menceritakan kasus tersebut, dan karena dia bukan tipe linglung kaya Anda, maka saya percayai omongannya. Kalo Anda, Bung, sori saja, saya tak gampang percaya sebab kredibilitas Anda di mata saya nyaris NOL. Anda sampai sekarang rupanya masih belum pinter juga. MASALAHNYA bukan pada ada sekolah atau tidak di sekitar rumah Anda. Masalahnya adalah sekolah itu masih ada ruang untuk menampung siswa lebih banyak atau enggak? Apakah sekolah yang dekat rumah itu sekolah berbiaya mahal atau bisa dijangkau masyarakat luas? Apakah sekolah itu sekolah agama atau sekolah umum? Sementara Anda dnegan pikiran Anda yang cethek itu tak mampu bergerak dari satu paradigma thok: JARAK! Jadi, mau Depok kek, mau Citayam kek, mau DKI kek, tak jadi soal. Namanya simulasi itu ya karangan, Bung. Kalo betulan bukan simulasi namanya (ancur banget sih Anda, hehehe). Yang penting itu skenario kasusnya mewakili kasus yang riil. Dan kasusnya di sini adalah apa yang terjadi jika ortu tak mampu menyekolahkan anak di sekolah yang lokasinya dekat rumah tapi penuh atau tak terjangkau. Ini gak terikat Depok atau DKI atau Planet Krypton. Kurang jelas juga toh? Lha kacau gini kok mau ngajarin orang simulasi? Sekarang liat apa kata Anda soal ada atau tidak adanya sekolah dalam radius jarak tertentu dari rumah (saya kutipkan): "Kalau tidak ada, maka kemungkinan yang sedang Anda bela adalah orang-orang tua yang MEMILIH menyekolahkan anaknya jauh-jauh, dan bukan yang dipaksa keadaan. Paham kan apa yang saya bahas? Saya sedang membahas argumen Anda, Pak; bukan kebijakan Pemda. Soal kebijakan Pemda DKI sih saya tetap EGP." Pertama, pernyataan ini adalah pernyataan KONDISIONAL, dan itu sebabnya dimulai dengan kata KALAU. Ini lalu dipakai untuk membuat pseudo-hipotesis bahwa saya sedang membela orang tua yang memilih menyekolahkan anak jauh-jauh bukan karena faktor terpaksa. Ini bukti Anda tak menyimak posting yang dikirim anggota milis ini yang bercerita tentang anak-anak yang harus naik angkot 4 kali untuk sekolah karena TERPAKSA. Kalo yang bukan terpaksa tapi demen, sampe kirim anaknya sekolah di Hong Kong sana, ngapai saya repot-repot bela, Bung? Saya masih waras, nggak seancur Anda. jangan samakanlah Anda sama saya, hehehe. Lha saya sudah bilang bahwa concern saya pada yang terpaksa, kok Anda mau tetap mencekokkan perkataan Anda sendiri--yakni bahwa saya membela orang yang tidak terpaksa--ke dalam mulut saya. Gilanya lagi, itu lalu dikalim sebagai argumen saya, yang Anda hendak lawan! Hahahaha, Anda kira Anda lagi maen sirkus ya, Bung? Paragraf terakhir Anda di bawah ini adalah paragraf yang paling ancur. Saya bahkan tak tau mesti komentar apa dengan paragraf tak nyambung ini. Jauh dari pokok persoalan, dan lagi-lagi mau memaksakan pikirannya sendiri ke mulut orang lain. Edan tenan! manneke
--- On Sun, 12/21/08, si_andi <[email protected]> wrote: From: si_andi <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: "Rekor Dunia" Jam Masuk Sekolah To: [email protected] Received: Sunday, December 21, 2008, 11:10 PM Naah, itu sudah mulai pinter. Jadi sekarang ada pengakuan bahwa Anda tidak sedang membela sebuah kasus umum, tapi kasus-kasus tertentu yang Anda sebenarnya tidak tahu kekerapannya. Sekarang kita lihat "korban-korban" yang sedang Anda bela itu. Apa benar anak mereka TERPAKSA naik angkot 4 kali karena tidak ada pilihan, atau MEMILIH mengirim anaknya sekolah 4 kali angkot demi masuk sekolah favorit? Kedua pilihan ini tidak akan ada datanya untuk diverifikasi. Tapi bisa disimulasi (mengikuti metode Anda mencapai kesimpulan). Simulasi biasanya dilakukan dalam lingkungan yang mewakili sifat-sifat kunci dari kondisi sebenarnya, minus faktor resiko. Jadi kalau ada yang melakukan simulasi kebakaran Gedung BEJ di Parkir Timur Senayan, itu berarti kesehatan mentalnya dipertanyakan karena sifat-sifat gedung BEJ (gedung tertutup, kepadatan tinggi) jauh berbeda dengan lapangan parkir. Begitu juga kalau ada yang katanya mensimulasikan masalah DKI Jakarta tapi memilih kasus di kampung Citayam dengan faktor-faktor yang dikarang sendiri, mungkin perlu rajin-rajin olahraga. Jadi beginilah. Kalau Anda mau bikin simulasi, saya ajari cara yang benar: Silakan ambil peta Jakarta (DKI Jakarta, lho; bukan Depok. Nanti salah lagi). Taruh di tembok. Lalu lempar satu paser ke wilayah pemukiman menengah ke bawah (Tambora, Warakas, Kampung Melayu, dan sejenisnya). Tarik lingkaran sejauh 30 menit perjalanan angkot dari titik tersebut. Kalau Anda tidak bisa menemukan SD dan SMP negeri dalam lingkaran tersebut, berarti memang ada orang-orang yang patut Anda bela (tapi bukan berarti mereka mayoritas, karena untuk pernyataan tersebut Anda butuh data sesungguhnya, dan bukan simulasi). Kalau tidak ada, maka kemungkinan yang sedang Anda bela adalah orang- orang tua yang MEMILIH menyekolahkan anaknya jauh-jauh, dan bukan yang dipaksa keadaan. Paham kan apa yang saya bahas? Saya sedang membahas argumen Anda, Pak; bukan kebijakan Pemda. Soal kebijakan Pemda DKI sih saya tetap EGP. Saya ngomong begini berisiko, lho, Pak Manneke. Berisiko ada yang ngacung: "Saya, Pak, contohnya. Saya tinggal di Warakas dan SD terdekat dari rumah saya jaraknya 3 kali angkot.". Tapi berhubung saya bukan pahlawan pembela siapa-siapa, ya tidak apa-apa. Paling tidak ilmu saya nambah: Oh, ternyata memang ada orang yang terpaksa bersekolah sejauh 4 kali angkot di DKI. Andi
