Jadi bilang "banyak" itu (artinya mengakui ada yang lain yang
berbeda) lebih ngawur dari ngaku membela hak anak (tanpa pengakuan
bahwa Anda sebenarnya tidak sedang membela semua anak)? Monggo,
terserah.

Saya tidak sempat ke Citayam untuk bisa memverifikasi data Anda. Tapi
kalau di-google ternyata ada tuh SD Negeri Citayam dan SMP Negeri
Citayam. Kawan Anda saja yang tidak mau menyekolahkan anaknya di
sana. Barangkali gengsi bersekolah di sekolah kampung.

Lagian baru tahu saya kalau Citayam dan Depok itu sekarang masuk DKI.
Ini kita masih bicara DKI kan?

Balik lagi, Pak. Olahraga sebentar, lalu cari contoh yang tidak
ngawur.

Andi


--- In [email protected], manneke budiman
<hepaest...@...> wrote:
>
> Pak Andi,
> �
> Ini bukan soal saya melarang Anda ikut diskusi atau enggak. Ini
soal konsekuensi logis sikap EGP Anda. Justru aneh kalo berkali-kali
teriak "Tak Peduli" tapi terus aja berbuasa-busa dalam diskusi.
> �
> Mengenai saya kaya George Bush, iya memang betul, dalam hal
keberpihakan. Bedanya sama George Bush, dia ada di pihak penakluk dan
saya ada di pihak tertakluk. Anda? Anda ibarat mau bela George Bush
tapi gak punya nyali buat ngaku, jadi pura-pura EGP tapi nyerocos
terus kasih justifikasi. Lain kali kalo bikin bandingan, konteksnya
yang jelas biar bisa apple-to-apple. Jangan suka menyesatkan orang
lain demi pembentukan opini yang salah-kaprah.
> �
> Anda ini doyan banget bilang "banyak," "banyak", dan "banyak", tapi
banyaknya itu seberapa dan mana sumber beritanya? Lagi-lagi,
penyesatan khalayak dengan cara murahan. Pendapat Anda pada paragraf
yang berderet kata "banyak" ini menunjukkan sebetulnya Anda tidak EGP
EGP amat seperti yang suka Anda koar-koarkan. Anda ada di pihak Pemda
DKI kok. Jadi tak perlu bikin bandingan saya ama George Bush untuk
menutup-nutupi bahwa, tanpa saya harus kubu-kubukan pun--Anda sudah
ada di salah satu pihak yang berhadapan. Gitu aja kok pake mbulet?
> �
> Lucu bahwa Anda suruh saya berpikir kompleks dan tak
menggeneralisasi anak sekolah, sementara Anda sendiri bicara seenak
udel dengan bikin asumsi-asumsi tak mutu tentang orang tua yang
terpaksa beli rumah BTN murah jauh dari sekolahan (kalo punya duit,
siapa yang tak mau beli rumah gede dekat sekolah unggulan?). Kalo
ongkos 4 kali naik angkot tiap hari masih lebih affordable daripada
bayar SPP per bulan untuk sekolah dekat rumah tapi mahalnya selangit,
orang berotak encer ya akan pilih bayar angkot 4 kali. Masa gini aja
Anda mesti diterangkan sama saya sih?
> �
> Saya punya rumah BTN di Citayam sana yang cicilannya Rp. 1,4 jeti
per bulan (kini melonjka gara-gara suku bunga bank tinggi). Rumah itu
kini ditempati kawan sekantor yang punya dua anak perempuan, satu di
SD satu di SMP mau masuk SMA. Asumsikan di daerah itu ada sekolah
unggulan namanya Sekolah Bina Nusantara yang SPP-nya per anak per
bulan sampai 5 jutaan. Sementara, kalo dikirim ke sekolah negeri di
Depok I sana, SPP per anak cuma 200 ribu per bulan. Pakai akal sehat
aja deh, Bung, kira-kira kawan saya itu akan mengirim anaknya naik
KRL terus ganti angkot ke sekolahnya di Depok, atau memasukkan
anaknya ke sekolah Binus karena dekat?
> �
> Ini sebuah skenario untuk simulasi, sebab saya diminta data. Tentu
data konkrit seperti ini saya tak punya. Tapi simulasi ini mestinya
cukup memadai untuk menunjukkan yang nggak pakai akal sehat itu saya
atau situ. Logikanya, kalo ada sekolah dekat yang murah dan bermutu,
ngapain repot-repot cari penyakit ngirim anak ke propinsi lain sampe
ganti angkot 4 kali hanya cuma buat sekolah? Kecuali orang tuanya
sakit jiwa, baru penjelasannya bisa diterima. Kalo sanggup kirim anak
masuk High Scope yang batyar SPP-nya juta-jutaan tiap bulan, ngapain
suruh anak ganti angkot 4 kali? Wong beli mobil dan cari supir buat
nganter bisa kok dengan kekayaannya.
> �
> Debat ini jelas tak akan membuat Anda (atau saya) jadi pahlawan.
tapi jelas akan menunjukkan bahwa satu di antara kita adalah plin-
plan bin ngawur.
> �
> Masih EGP, Pak Andi? Atau udah mulai semangat '45?
> �
> manneke

Kirim email ke