Naah, itu sudah mulai pinter. Jadi sekarang ada pengakuan bahwa Anda tidak sedang membela sebuah kasus umum, tapi kasus-kasus tertentu yang Anda sebenarnya tidak tahu kekerapannya.
Sekarang kita lihat "korban-korban" yang sedang Anda bela itu. Apa benar anak mereka TERPAKSA naik angkot 4 kali karena tidak ada pilihan, atau MEMILIH mengirim anaknya sekolah 4 kali angkot demi masuk sekolah favorit? Kedua pilihan ini tidak akan ada datanya untuk diverifikasi. Tapi bisa disimulasi (mengikuti metode Anda mencapai kesimpulan). Simulasi biasanya dilakukan dalam lingkungan yang mewakili sifat-sifat kunci dari kondisi sebenarnya, minus faktor resiko. Jadi kalau ada yang melakukan simulasi kebakaran Gedung BEJ di Parkir Timur Senayan, itu berarti kesehatan mentalnya dipertanyakan karena sifat-sifat gedung BEJ (gedung tertutup, kepadatan tinggi) jauh berbeda dengan lapangan parkir. Begitu juga kalau ada yang katanya mensimulasikan masalah DKI Jakarta tapi memilih kasus di kampung Citayam dengan faktor-faktor yang dikarang sendiri, mungkin perlu rajin-rajin olahraga. Jadi beginilah. Kalau Anda mau bikin simulasi, saya ajari cara yang benar: Silakan ambil peta Jakarta (DKI Jakarta, lho; bukan Depok. Nanti salah lagi). Taruh di tembok. Lalu lempar satu paser ke wilayah pemukiman menengah ke bawah (Tambora, Warakas, Kampung Melayu, dan sejenisnya). Tarik lingkaran sejauh 30 menit perjalanan angkot dari titik tersebut. Kalau Anda tidak bisa menemukan SD dan SMP negeri dalam lingkaran tersebut, berarti memang ada orang-orang yang patut Anda bela (tapi bukan berarti mereka mayoritas, karena untuk pernyataan tersebut Anda butuh data sesungguhnya, dan bukan simulasi). Kalau tidak ada, maka kemungkinan yang sedang Anda bela adalah orang- orang tua yang MEMILIH menyekolahkan anaknya jauh-jauh, dan bukan yang dipaksa keadaan. Paham kan apa yang saya bahas? Saya sedang membahas argumen Anda, Pak; bukan kebijakan Pemda. Soal kebijakan Pemda DKI sih saya tetap EGP. Saya ngomong begini berisiko, lho, Pak Manneke. Berisiko ada yang ngacung: "Saya, Pak, contohnya. Saya tinggal di Warakas dan SD terdekat dari rumah saya jaraknya 3 kali angkot.". Tapi berhubung saya bukan pahlawan pembela siapa-siapa, ya tidak apa-apa. Paling tidak ilmu saya nambah: Oh, ternyata memang ada orang yang terpaksa bersekolah sejauh 4 kali angkot di DKI. Andi --- In [email protected], manneke budiman <hepaest...@...> wrote: > > Memang saya tidak membela SEMUA anak. Saya membela semua anak sekolah yang dirugikan akibat kebijakan clomor yang Anda dukung tapi sambil pura-pura EGP ini. Jelas? Kalo ada anak sekolah yang udah masuk jam 5 pagi dan enjoy, ya sudah, baguslah. > > Di Citayam ada SD dan SMP Negeri boss, tapi penuh-sesak dan tak terima murid pindahan. Teman yang menempati rumah saya di Citayam itu pegawai honorer FIB UI, bukan orang berduit. Waktu saya berangkat studi ke LN, rumah saya biarkan ditempati dia daripada rusak dan kosong nganggur. Kalo saja dia bisa masukkan anaknya ke SD dan SMP Citayam, dia mungkin sudah selametan potong ayam! > > Dan lagi, skenario Binus School versus sekolah Depok itu saya sajikan sebagai SIMULASI. Tapi sekarang ketauan rupanya Anda tak mengerti apa arti kata "simulasi." Ya, saya maklumilah :)) > > Simulasi itu saya berikan dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa Anda membuat pernyataan-pernyataan tentang orang tua dengan 2-3 anak yang menyekolahkan anaknya sampai ganti angkot 4 kali sebagai orang tua BERDUIT yang LEBIH MILIH SEKOLAH UNGGULAN daripada sekolah lokal di tempat ia tinggal. Denga tiu, saya mau tunjukkan bahwa bagi orang tua, seringkali, itu pilihan terakhir, sebab sekolah yang dekat rumah mahalnya minta ampun atau daya tampung udah pol. Kalo orang tua yang bisa masukkan anak ke sekolah unggulan yang jaunya audzubillah, maka pasti dia punya cukup uang buat beli mobil dan sewa supir untuk anter anaknya sekolah, nggak akan paksa anak repot-repot naik angkot ganti 4 kali. > > Anda ngilang setahun kok bukannya jadi tambah pinter ya (hehehe, sori, saya pinjem pertanyaan Anda kemarin)? Logika simpel kaya di atas aja kaga ngerti, dan sampe repot-repot periksa peta Citayam cari info SD/SMP segala? Di Citayam itu juga tak ada BINUS HIGH, Bung, itu bagian dari simulasi. Jangan kebanyakan minum ah, Anda kok jadinya mabok melulu sih kalo diskusi? > > Iya, kita bicara DKI. Citayam sekali lagi adalah simulasi, sebab saya punya BTN di situ. jadi paling gampang dan konkrit buat saya ya pake contoh tempat saya sendiri. Karena Anda rajin cari-cari info, mungkin Anda bisa luangkan waktu cari info tentang arti kata SIMULASI itu apa. > > manneke
