Pak Andi,
 
Barangkali di situ persoalannya. Karena Anda berangkat dari posisi seseorang 
yang TIDAK PEDULI, maka dalam urun pendapat, sama sekali tak ada EMPATI. Mau 
digeser jamnya, gue EGP, mau gak pake penggeseran jam pun, gue EGP.
 
Milis ini adalah bagian dari "media massa" juga, Pak Andi. Jadi sudah benar 
jika orang yang tak setuju dengan suatu kebijakan publik menyuarakan 
pendapatnya di milis-milis. Apalagi jika ybs tak punya akses langsung ke DPR 
yang pintunya pakai pagar besi superberat itu.
 
Saya tidak berpretensi sedang memperjuangkan kepentingan umum. Saya gak mau 
pakai kata-kata ambigu seperti "umum" dlsb. Concern saya spesifik pada 
anak-anak sekolah. Bisa saja kepentingan anak sekolah ini berbenturan dengan 
kepentingan unsur masyarakat yang lain. Tapi yang jelas, bagi saya tidaklah 
jantan untuk membuat kebijakan yang mengorbankan unsur masyarakat yang lemah 
seperti anak-anak hanya karena ini dipandang sebagai cara termudah.
 
manneke

--- On Sun, 12/14/08, si_andi <[email protected]> wrote:

From: si_andi <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: "Rekor Dunia" Jam Masuk Sekolah
To: [email protected]
Received: Sunday, December 14, 2008, 9:24 PM






Pak Manneke,

Saya tidak akan terjebak pada posisi mendukung kebijakan Pemda DKI,
dus berlawanan dengan Anda. Seperti sudah saya bilang, saya ada di
posisi ketiga: tidak peduli.

Menggeser jam sekolah buat saya juga bukan kebijakan yang hebat-hebat
amat. Masih banyak yang bisa dilakukan selain itu: menertibkan angkot-
angkot yang ngetem di persimpangan, menertibkan pengendara motor yang
main serobot jalur berlawanan, menertibkan ibu-ibu rumah tangga kaya
yang kurang kerjaan yang memilih parkir menunggui anaknya di jalan
raya depan sekolah (ketimbang hanya mendrop anaknya dan langsung
pulang) dan menghabiskan 1-2 jalur jalan raya.

Tapi buat saya, kalau jam sekolah digeser juga bukan masalah besar.
Banyak kok warga Jakarta yang gaya hidupnya sama dengan saya: tidak
membiasakan anaknya bangun siang dan memilih sekolah yang dekat.

Kalau ada warga Jakarta yang tidak mau anaknya bangun terlalu pagi
karena sekolahnya jaraknya 4 kali angkot, mereka punya dua pilihan:
Diam dan menyesuaikan diri atau memperjuangkan KEPENTINGANNYA SENDIRI
lewat media massa atau ke DPRD.

Tentu saja kalau mau sukses memperjuangkan kepentingan sendiri tadi,
otomatis kepentingan Anda itu harus di-upgrade menjadi "kepentingan
umum". Kalau tidak Anda akan kalah dengan yang pro kebijakan Pemda
DKI yang juga sedang memperjuangkan "kepentingan umum".

Andi

Kirim email ke