Kemarin sore sekitar pk. 17.00, setelah Jakarta diguyur hujan lebat yang
mengakibatkan banjir dan macet parah di seantero Jakarta Raya, saya menjemput
putra saya (kelas 3 SD) dari daerah Panglima Polim hendak menuju daerah jalan
Bangka. Setelah melewati kantor walikota Jakarta Selatan, saya berniat belok ke
arah jl. Bank tapi ternyata jalan ditutup karena banjir. Jadi saya lanjut
menuju Prapanca untuk berbelok ke jl. Kemang Raya. Sebelum Hotel Prapanca, saya
menyalakan sen kiri untuk minta pindah jalur dari kanan ke kiri. Tapi sulit
sekali sampai mobil di depan saya (jalur kanan) sudah habis karena lampu ke
arah arteri sudah hijau. Saya tidak mungkin terus ke Arteri yang sangat macet,
jam berapa saya akan sampai rumah, kasian anak saya. Jadi saya tetap berniat
pindah lajur kiri.
Dari arah depan datang polisi yang masih sangat muda menghampiri saya, dan
menyuruh saya lurus. Saya bilang saya mau ke kiri tapi dari tadi gak bisa.
Polisi itu hanya berteriak-teriak dan membentak-bentak saya, "Kamu pake otak
mana bisa ke kiri..ayo ke kanan!" Saya tetap minta tetap boleh ke kiri.
"Otaknya dimana, mana bisa ke kiri..kalau mau ke kiri dari ujung..!!" dan dia
berdiri menghadang di depan mobil saya, sambil menunjuk-nunjuk kepalanya..
"pake otak, pake otak." Akhirnya saya mengalah kasih sen kanan. Tapi lampu lalu
lintas ke arah arteri sudah merah, dan lajur kanan sudah penuh mobil. Saya
tidak bisa pindah lajur kanan, sementara di depan saya (lajur kiri) jalan
kosong. Saya buka jendela bilang ke polisi itu, "Kalau mau tilang saya
silahkan, tapi ngomong yang sopan Pak, di sini ada anak kecil.." Dia masih
teriak-teriak.."Lain kali pake otak ya kamu.." dan berlalu meninggalkan kami
dengan muka yang sangat murka menunjukkan kekuasaannya dan terus
menunjuk-nunjuk kepalanya. Sayang saya tidak bisa membaca namanya karena
seragam polisinya dilapis jas hujan.
Saya malu sekali dibentak-bentak oleh polisi yang masih bau kencur itu di depan
anak saya, yang gemetaran melihat Ibunya dibentak-bentak seperti itu. Sementara
dimata anak saya polisi adalah pahlawannya... (Dia sudah wanti-wanti di acara
hari Kartini sekolah nanti mau pakai kostum polisi atau militer yang ada 4
bintangnya)... Karena emosi dan gemetaran saya bilang ke anak saya..."Kalau
besar nanti jangan sampai kamu jadi Polisi ya Nak...!"
Memang tidak semua polisi itu jelek...tapi itu kenyataan yang dilihat langsung
oleh seorang anak SD kelas 3...saya bisa bilang apa..?
salam,
ks
[Non-text portions of this message have been removed]