Mungkin dua-duanya harus difahami, mereka (polisi) sedang melaksanakan tugas dlm kondisi kehujanan. Tetapi dilain pihak, kegagalan Kiki masuk ke jalur yg diinginkan bukanlah urusan polisi. Bagaimanapun kiki dan polisi tersebut tdk mungkin menyalahkan pengendara lain yg tdk mau memberikan jalan ke kiki utk masuk jalur yg diinginkan. Dan sy sarankan jgn kemudian menghalangi keinginan anak anda seandainya dia berkeinginan menjadi polisi, itu jg kurang tepat. Berikan pengertian yg lebih bijak pada anak anda, kenapa hal itu terjadi.
Salam persaudaraan Jhony. ________________________________ From: Kiki Soewarso <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tuesday, April 7, 2009 1:46:36 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kalau besar jangan jadi polisi ya Nak... Kemarin sore sekitar pk. 17.00, setelah Jakarta diguyur hujan lebat yang mengakibatkan banjir dan macet parah di seantero Jakarta Raya, saya menjemput putra saya (kelas 3 SD) dari daerah Panglima Polim hendak menuju daerah jalan Bangka. Setelah melewati kantor walikota Jakarta Selatan, saya berniat belok ke arah jl. Bank tapi ternyata jalan ditutup karena banjir. Jadi saya lanjut menuju Prapanca untuk berbelok ke jl. Kemang Raya. Sebelum Hotel Prapanca, saya menyalakan sen kiri untuk minta pindah jalur dari kanan ke kiri. Tapi sulit sekali sampai mobil di depan saya (jalur kanan) sudah habis karena lampu ke arah arteri sudah hijau. Saya tidak mungkin terus ke Arteri yang sangat macet, jam berapa saya akan sampai rumah, kasian anak saya. Jadi saya tetap berniat pindah lajur kiri. Dari arah depan datang polisi yang masih sangat muda menghampiri saya, dan menyuruh saya lurus. Saya bilang saya mau ke kiri tapi dari tadi gak bisa. Polisi itu hanya berteriak-teriak dan membentak-bentak saya, "Kamu pake otak mana bisa ke kiri...ayo ke kanan!" Saya tetap minta tetap boleh ke kiri. "Otaknya dimana, mana bisa ke kiri..kalau mau ke kiri dari ujung..!!" dan dia berdiri menghadang di depan mobil saya, sambil menunjuk-nunjuk kepalanya.. "pake otak, pake otak." Akhirnya saya mengalah kasih sen kanan. Tapi lampu lalu lintas ke arah arteri sudah merah, dan lajur kanan sudah penuh mobil. Saya tidak bisa pindah lajur kanan, sementara di depan saya (lajur kiri) jalan kosong. Saya buka jendela bilang ke polisi itu, "Kalau mau tilang saya silahkan, tapi ngomong yang sopan Pak, di sini ada anak kecil.." Dia masih teriak-teriak. ."Lain kali pake otak ya kamu.." dan berlalu meninggalkan kami dengan muka yang sangat murka menunjukkan kekuasaannya dan terus menunjuk-nunjuk kepalanya. Sayang saya tidak bisa membaca namanya karena seragam polisinya dilapis jas hujan. Saya malu sekali dibentak-bentak oleh polisi yang masih bau kencur itu di depan anak saya, yang gemetaran melihat Ibunya dibentak-bentak seperti itu. Sementara dimata anak saya polisi adalah pahlawannya. .. (Dia sudah wanti-wanti di acara hari Kartini sekolah nanti mau pakai kostum polisi atau militer yang ada 4 bintangnya). .. Karena emosi dan gemetaran saya bilang ke anak saya..."Kalau besar nanti jangan sampai kamu jadi Polisi ya Nak...!" Memang tidak semua polisi itu jelek...tapi itu kenyataan yang dilihat langsung oleh seorang anak SD kelas 3...saya bisa bilang apa..? salam, ks [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
