Ini bukti betapa buruknya pendidikan budi pekerti dan bersopan santun 
di sekolah-sekolah di Indonesia, sejak sekolah dasar. Hal ini juga 
nampak dari para anggota DPR kalau sedang bertanya atau melakukan 
dengar pendapat dengan menteri atau pejabat negara lainnya (kecuali 
dengan Panglima TNI atau Kapolri barangkali). Kalau dengan TNI atau 
yang berseragam seram tidak berani, menunjukkan besarnya inferiority 
complex. Tetapi begitu merasa berkuasa, akan keluarlah sopan santunnya 
yang asli.
Betapa banyak kenyataan-kenyataan yang menunjukkan betapa 
menyedihkannya bangsa ini.
KM


----Original Message----
From: [email protected]
Date: 07/04/2009 15:46 
To: <[email protected]>
Subj: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kalau besar jangan jadi polisi ya Nak...


Kemarin sore sekitar pk. 17.00, setelah Jakarta diguyur hujan lebat 
yang mengakibatkan banjir dan macet parah di seantero Jakarta Raya, 
saya menjemput putra saya (kelas 3 SD) dari daerah Panglima Polim 
hendak menuju daerah jalan Bangka. Setelah melewati kantor walikota 
Jakarta Selatan, saya berniat belok ke arah jl. Bank tapi ternyata 
jalan ditutup karena banjir. Jadi saya lanjut menuju Prapanca untuk 
berbelok ke jl. Kemang Raya. Sebelum Hotel Prapanca, saya menyalakan 
sen kiri untuk minta pindah jalur dari kanan ke kiri. Tapi sulit sekali 
sampai mobil di depan saya (jalur kanan) sudah habis karena lampu ke 
arah arteri sudah hijau. Saya tidak mungkin terus ke Arteri yang sangat 
macet, jam berapa saya akan sampai rumah, kasian anak saya. Jadi saya 
tetap berniat pindah lajur kiri. 

Dari arah depan datang polisi yang masih sangat muda menghampiri saya, 
dan menyuruh saya lurus. Saya bilang saya mau ke kiri tapi dari tadi 
gak bisa. Polisi itu hanya berteriak-teriak dan membentak-bentak saya, 
"Kamu pake otak mana bisa ke kiri..ayo ke kanan!" Saya tetap minta 
tetap boleh ke kiri. "Otaknya dimana, mana bisa ke kiri..kalau mau ke 
kiri dari ujung..!!" dan dia berdiri menghadang di depan mobil saya, 
sambil menunjuk-nunjuk kepalanya.. "pake otak, pake otak." Akhirnya 
saya mengalah kasih sen kanan. Tapi lampu lalu lintas ke arah arteri 
sudah merah, dan lajur kanan sudah penuh mobil. Saya tidak bisa pindah 
lajur kanan, sementara di depan saya (lajur kiri) jalan kosong. Saya 
buka jendela bilang ke polisi itu, "Kalau mau tilang saya silahkan, 
tapi ngomong yang sopan Pak, di sini ada anak kecil.." Dia masih teriak-
teriak.."Lain kali pake otak ya kamu.." dan berlalu meninggalkan kami 
dengan muka yang sangat murka menunjukkan kekuasaannya dan terus
 menunjuk-nunjuk kepalanya. Sayang saya tidak bisa membaca namanya 
karena seragam polisinya dilapis jas hujan.

Saya malu sekali dibentak-bentak oleh polisi yang masih bau kencur itu 
di depan anak saya, yang gemetaran melihat Ibunya dibentak-bentak 
seperti itu. Sementara dimata anak saya polisi adalah pahlawannya... 
(Dia sudah wanti-wanti di acara hari Kartini sekolah nanti mau pakai 
kostum polisi atau militer yang ada 4 bintangnya)... Karena emosi dan 
gemetaran saya bilang ke anak saya..."Kalau besar nanti jangan sampai 
kamu jadi Polisi ya Nak...!"

Memang tidak semua polisi itu jelek...tapi itu kenyataan yang dilihat 
langsung oleh seorang anak SD kelas 3...saya bisa bilang apa..?


salam,
ks


      

[Non-text portions of this message have been removed]




Kirim email ke