Sedih sekali, benar-benar sedih.

I am with you Mbak Kiki.

Insya Allah bangsa kita akan lebih bagus, Insya Allah.

Very painful to hear your story.

Saya besar di JKT and I know exactly what you went through.

Pray please.

Ya Allah, tunjukanlah bangsa kita ke arah yang benar.

Amin.

sensei deddy mansyur
university of houston
www.uh.edu/shotokan
http://www.houstonshotokankarate.com/


----- Original Message ----- 
From: "Kiki Soewarso" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, April 07, 2009 3:46 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kalau besar jangan jadi polisi ya Nak...


>
> Kemarin sore sekitar pk. 17.00, setelah Jakarta diguyur hujan lebat yang 
> mengakibatkan banjir dan macet parah di seantero Jakarta Raya, saya 
> menjemput putra saya (kelas 3 SD) dari daerah Panglima Polim hendak menuju 
> daerah jalan Bangka. Setelah melewati kantor walikota Jakarta Selatan, 
> saya berniat belok ke arah jl. Bank tapi ternyata jalan ditutup karena 
> banjir. Jadi saya lanjut menuju Prapanca untuk berbelok ke jl. Kemang 
> Raya. Sebelum Hotel Prapanca, saya menyalakan sen kiri untuk minta pindah 
> jalur dari kanan ke kiri. Tapi sulit sekali sampai mobil di depan saya 
> (jalur kanan) sudah habis karena lampu ke arah arteri sudah hijau. Saya 
> tidak mungkin terus ke Arteri yang sangat macet, jam berapa saya akan 
> sampai rumah, kasian anak saya. Jadi saya tetap berniat pindah lajur kiri.
>
> Dari arah depan datang polisi yang masih sangat muda menghampiri saya, dan 
> menyuruh saya lurus. Saya bilang saya mau ke kiri tapi dari tadi gak bisa. 
> Polisi itu hanya berteriak-teriak dan membentak-bentak saya, "Kamu pake 
> otak mana bisa ke kiri..ayo ke kanan!" Saya tetap minta tetap boleh ke 
> kiri. "Otaknya dimana, mana bisa ke kiri..kalau mau ke kiri dari 
> ujung..!!" dan dia berdiri menghadang di depan mobil saya, sambil 
> menunjuk-nunjuk kepalanya.. "pake otak, pake otak." Akhirnya saya mengalah 
> kasih sen kanan. Tapi lampu lalu lintas ke arah arteri sudah merah, dan 
> lajur kanan sudah penuh mobil. Saya tidak bisa pindah lajur kanan, 
> sementara di depan saya (lajur kiri) jalan kosong. Saya buka jendela 
> bilang ke polisi itu, "Kalau mau tilang saya silahkan, tapi ngomong yang 
> sopan Pak, di sini ada anak kecil.." Dia masih teriak-teriak.."Lain kali 
> pake otak ya kamu.." dan berlalu meninggalkan kami dengan muka yang sangat 
> murka menunjukkan kekuasaannya dan terus
> menunjuk-nunjuk kepalanya. Sayang saya tidak bisa membaca namanya karena 
> seragam polisinya dilapis jas hujan.
>
> Saya malu sekali dibentak-bentak oleh polisi yang masih bau kencur itu di 
> depan anak saya, yang gemetaran melihat Ibunya dibentak-bentak seperti 
> itu. Sementara dimata anak saya polisi adalah pahlawannya... (Dia sudah 
> wanti-wanti di acara hari Kartini sekolah nanti mau pakai kostum polisi 
> atau militer yang ada 4 bintangnya)... Karena emosi dan gemetaran saya 
> bilang ke anak saya..."Kalau besar nanti jangan sampai kamu jadi Polisi ya 
> Nak...!"
>
> Memang tidak semua polisi itu jelek...tapi itu kenyataan yang dilihat 
> langsung oleh seorang anak SD kelas 3...saya bisa bilang apa..?
>
>
> salam,
> ks
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke