Pro dan kontra mulai terlihat disini. Di satu sisi polisi selalu jadi sasaran kesalahan. Padahal sudah jelas-jelas si ibu ini di kanan ya terus dong. Kalau semua melakukan seperti yang ibu lakukan kacau deh lalulintas Jakarta yang sudah semraut. Semua minta dimaklumi. Sementara beberapa waktu lalu ketika diskusi mengenai perilaku pengendara motor semua mencela motor yang seenaknya mau ke kiri dan ke kaanan. Sekarang giliran yang naik mobil mau ke kiri dari kanan malah dibelain oleh sinsei.
--- On Tue, 4/7/09, Deddy Mansyur <[email protected]> wrote: From: Deddy Mansyur <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kalau besar jangan jadi polisi ya Nak... To: [email protected] Date: Tuesday, April 7, 2009, 7:52 PM Sedih sekali, benar-benar sedih. I am with you Mbak Kiki. Insya Allah bangsa kita akan lebih bagus, Insya Allah. Very painful to hear your story. Saya besar di JKT and I know exactly what you went through. Pray please. Ya Allah, tunjukanlah bangsa kita ke arah yang benar. Amin. sensei deddy mansyur university of houston www.uh.edu/shotokan http://www.houstons hotokankarate. com/ ----- Original Message ----- From: "Kiki Soewarso" <kikisoewarso@ yahoo.com> To: <Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com> Sent: Tuesday, April 07, 2009 3:46 AM Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Kalau besar jangan jadi polisi ya Nak... > > Kemarin sore sekitar pk. 17.00, setelah Jakarta diguyur hujan lebat yang > mengakibatkan banjir dan macet parah di seantero Jakarta Raya, saya > menjemput putra saya (kelas 3 SD) dari daerah Panglima Polim hendak menuju > daerah jalan Bangka. Setelah melewati kantor walikota Jakarta Selatan, > saya berniat belok ke arah jl. Bank tapi ternyata jalan ditutup karena > banjir. Jadi saya lanjut menuju Prapanca untuk berbelok ke jl. Kemang > Raya. Sebelum Hotel Prapanca, saya menyalakan sen kiri untuk minta pindah > jalur dari kanan ke kiri. Tapi sulit sekali sampai mobil di depan saya > (jalur kanan) sudah habis karena lampu ke arah arteri sudah hijau. Saya > tidak mungkin terus ke Arteri yang sangat macet, jam berapa saya akan > sampai rumah, kasian anak saya. Jadi saya tetap berniat pindah lajur kiri. > > Dari arah depan datang polisi yang masih sangat muda menghampiri saya, dan > menyuruh saya lurus. Saya bilang saya mau ke kiri tapi dari tadi gak bisa. > Polisi itu hanya berteriak-teriak dan membentak-bentak saya, "Kamu pake > otak mana bisa ke kiri..ayo ke kanan!" Saya tetap minta tetap boleh ke > kiri. "Otaknya dimana, mana bisa ke kiri..kalau mau ke kiri dari > ujung..!!" dan dia berdiri menghadang di depan mobil saya, sambil > menunjuk-nunjuk kepalanya.. "pake otak, pake otak." Akhirnya saya mengalah > kasih sen kanan. Tapi lampu lalu lintas ke arah arteri sudah merah, dan > lajur kanan sudah penuh mobil. Saya tidak bisa pindah lajur kanan, > sementara di depan saya (lajur kiri) jalan kosong. Saya buka jendela > bilang ke polisi itu, "Kalau mau tilang saya silahkan, tapi ngomong yang > sopan Pak, di sini ada anak kecil.." Dia masih teriak-teriak. ."Lain kali > pake otak ya kamu.." dan berlalu meninggalkan kami dengan muka yang sangat > murka menunjukkan kekuasaannya dan terus > menunjuk-nunjuk kepalanya. Sayang saya tidak bisa membaca namanya karena > seragam polisinya dilapis jas hujan. > > Saya malu sekali dibentak-bentak oleh polisi yang masih bau kencur itu di > depan anak saya, yang gemetaran melihat Ibunya dibentak-bentak seperti > itu. Sementara dimata anak saya polisi adalah pahlawannya. .. (Dia sudah > wanti-wanti di acara hari Kartini sekolah nanti mau pakai kostum polisi > atau militer yang ada 4 bintangnya). .. Karena emosi dan gemetaran saya > bilang ke anak saya..."Kalau besar nanti jangan sampai kamu jadi Polisi ya > Nak...!" > > Memang tidak semua polisi itu jelek...tapi itu kenyataan yang dilihat > langsung oleh seorang anak SD kelas 3...saya bisa bilang apa..? > > > salam, > ks > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
