Bung Suryo Pratomo,
 
Setuju sekali kalau kita harus merapatkan barisan untuk melawan Para Teroris 
yang telah menghancurkan kemanusiaan kita.
Jadi yang harus diwaspadai oleh masyarakat Indonesia adalah Para Teroris ini 
dan keberadaannya harus segera dilaporkan kepada pihak Aparat Keamanan.
 
Dengan upaya SBY untuk mengaitkan antara Teror Bom ini dengan Pilpres yang baru 
lalu, ada potensi yang dilakukan masyarakat adalah Para Pendukung SBY 
"mewaspadai" Para pendukung Capres saingan SBY.
Jika ini yang terjadi, saya khawatir akan terjadi konflik horisontal antar 
masyarakat dan perang melawan Teroris jadi terabaikan.
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo

--- Pada Jum, 17/7/09, Suryopratomo <[email protected]> menulis:


Dari: Suryopratomo <[email protected]>
Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Bersatu Menghadapi Teror
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 17 Juli, 2009, 11:45 AM


Bersatu Menghadapi Teror
       Ledakan bom di hari Jumat pagi bukan hanya menggoyak Hotel Ritz Carlton 
dan JW Marriot, tetapi lebih dalam menggoyak kedamaian dan rasa kemanusiaan 
kita. Sepantasnya kita marah atas aksi teror tersebut karena perbuatan tidak 
bertanggung jawab itu membuat orang-orang yang mencari ketenangan dan kedamaian 
harus menjadi korban.
         Begitu banyak orang yang harus tewas secara sia-sia. Lebih banyak lagi 
orang yang harus merintih kesakitan.
         Di tengah keberhasilan kita membangun demokrasi secara damai, aksi 
teror itu benar-benar mencederai dan merusak kerja keras yang sudah kita 
lakukan. Suasana tenang dan damai yang berhasil kita bangun selama beberapa 
tahun terakhir ini, tiba-tiba rusak oleh aksi teror tersebut.
        Tepatlah apabila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa 
kita tidak akan memberi ampun kepada pelaku aksi teror tersebut. Aparat 
keamanan akan memburu mereka dan menjatuhkan hukuman yang berat kepada para 
pelaku aksi teror itu.
        Tidak boleh ada kompromi terhadap pelaku aksi teror. Kita bukan hanya 
harus bersikap tegas, tetapi juga keras karena mereka melakukan sebuah 
kejahatan kemanusiaan, yang membuat orang-orang tidak bersalah harus menjadi 
korban.
        Aksi teror seperti ini bukanlah yang pertama kali kita alami. Di hotel 
yang sama, JW Marriot pernah terjadi aksi yang sama pada tahun 2003 bahkan 
dengan korban yang lebih besar.
       Setiap kali aksi teror itu terjadi, maka kita segera bangkit untuk 
menghadapinya. Dengan segala daya kita berupaya untuk mencari jaringannya dan 
berhasil mengungkapkannya. Bahkan tidak hanya itu, terhadap pelaku Bom Bali 
2002 kita menangkap pelaku dan menghukum mati mereka.
         Namun seperti juga pengalaman banyak negara lain, tidaklah mudah untuk 
membongkar sampai ke akar-akarnya. Aksi teror seperti itu setiap saat selalu 
mengancam kembali, karena tidak terhindarkan munculnya kelompok-kelompok yang 
berpikiran sempit dan atas nama ketidakadilan bertindak di luar batas kepatutan.
         Dalam situasi seperti itu yang dibutuhkan adalah kebersamaan. Kita 
harus menyatukan seluruh kekuatan dan menggalang persatuan untuk sama-sama 
menghadapi tantangan tersebut.
        Itulah yang dilakukan Presiden George W. Bush ketika berkuasa dan 
menghadapi serangan teror 11 September 2001. Ia ajak seluruh rakyat Amerika dan 
bahkan dunia untuk bersama-sama menghadapi ancaman teror. Bahkan tidak 
tanggung-tanggung ia gunakan bahasa "Perang Melawan Teror".
         Karena itu di tengah keharusan kita menggalang kesatuan, kita 
menyayangkan dilemparkannya sinyalemen yang bisa memperlemah kebersamaan kita. 
Penjelasan Presiden untuk mengungkapkan adanya laporan intelijen yang 
mengatakan adanya keterkaitan aksi teror ini dengan proses pemilihan presiden 
bisa membuyarkan fokus kita menghadapi aksi teror.
        Memang data yang disampaikan Presiden sangat jelas. Ada foto yang 
menunjukkan pelaku teror berlatih menembak dengan gambar Presiden SBY sebagai 
sasaran dan bahkan juga dalam bentuk video.
         Laporan intelijen itu juga menyebutkan adanya upaya untuk menyabot 
proses demokrasi yang sedang kita bangun bersama. Ada kelompok-kelompok yang 
akan menduduki Kantor Komisi Pemilihan Umum, menggagalkan pelantikan presiden, 
menjadi pemilu kita seperti Pemilu Iran, dan bahkan akan melakukan revolusi.
        Tentunya kita menghormati keakuratan data intelijen tersebut. Namun 
laporan itu tidak pas untuk dibuka seperti itu. Seharusnya aparat keamanan 
menindaklanjuti dan menangkap pelaku-pelaku yang sudah diketahui tempat 
latihannya, bahkan direkam kegiatannya tersebut.
        Marilah kita fokus untuk melawan aksi teror yang menggoyahkan rasa 
keamanan dan kedamaian kita. Janganlah tenaga dan konsentrasi kita dialihkan 
oleh hal-hal yang bisa menjauhkan kita  mengungkap pelaku aksi teror ini. 
Dengan kebersamaan selama ini saja tidak mudah bagi kita untuk berperang 
melawan aksi teror, bagaimana lagi ketika kita tercerai-berai.
         Janganlah persaingan politik membuat kita terpecah-pecah. Kalah dan 
menang adalah hal yang biasa dalam sebuah kompetisi. Mari kita hormati yang 
menang, tetapi juga jangan melecehkan yang kalah.
         Menang tanpa ngarosake, demikian pepatah Jawa mengatakan. Kita menang 
tanpa harus mempermalukan yang kalah. Karena dalam demokrasi tujuan bersama 
kita adalah menyejahterakan kehidupan rakyat. Dan itu tidak mungkin bisa 
dilakukan satu kelompok masyarakat, tetapi harus oleh kita bersama.
       Pada akhirnya kita adalah satu saudara. Kita jangan bermusuhan, karena 
musuh kita bersama adalah pelaku aksi teror, yang sejak kita melakukan 
reformasi selalu berusaha menggoyahkan kebersamaan kita sebagai satu bangsa 
yang bersaudara.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kirim email ke