membuat image bahwa masyarakat banyak itu bodoh harus diubah. publik tidaklah bodoh seperti yg diduga, pemberian informasi merupakan bagian dari pembelajaran masyarakat agar dapat menilai, memilah dan mengambil kesimpulan dari informasi. pemberian informasi yg cepat dari pejabat yg berewenang patut diapresiasi karena selama ini para pejabat lebih banyak tutup mulut dan menghindar utk memberikan informasi. pengkaitkan suatu ledakan bom terhadap suatu event yg akan atau yg sedang berjalan adalah suatu hal yg logis. kita mempunyai banyak pengalaman dalam hal bom ini yg berkaitan dengan suatu event. ketika tommy akan diperiksa kejagung terjadi ledakan bom di kejagung. ketika suharto akan diadili terjadi ledakan bom di pasar minggu. demikian banyaknya bom sampai menhakam machfud md waktu itu berkata lebih baik suharto tidak usah diadili jika membuat rakyat menderita. jadi jangan terlalu cepat menolak suatu info seperti alasan akan terjadi konflik horizontal. mendiamkan pemboman dgn tanpa memberikan informasi jelas menyuburkan teroris. pemberian informasi bagian dari melawan teroris. saya masih ingat ketika ketua kpk antasari diisukan sebagai dalang pembunuhan nasrudin, banyak resistensi yg menyebutkan itu bagian utk menghalangi pemberantas korupsi lah,dll. jadi yg penting harus dituntut pemerintah dalam hal ini instansi terkait utk memberikan info lebih lanjut siapa dalang bom marriot/ritz carlton, jangan terbatas sampai kepada eksekutor saja. eksekutor bisa oleh siapa saja, golongan mana saja tetapi otak, master mind, penyandang dana dari pemboman ini harus dikejar terus. banyak eksekutor yg mau bunuh diri jika diiming2i uang. juga ada yg punya uang mau menimbulkan suatu kepanikan utk bargaining atau utk memberikan sign atau warning agar tidak melakukan move lebih lanjut sama spt sign2 agar suharto tidak diadili.
sohib ==================================== --- In [email protected], Adyanto Aditomo <adyantoadit...@...> wrote: > > Bung Sohibmachmud, > > Pada dasarnya semua orang juga setuju kalau ada keterbukaan informasi bagi > masyarakat banyak. > Tetapi mengingat kemampuan masyarakat itu terbatas dalam menanggulangi Teror, > ya petunjuknya harus jelas saat menyampaikan informasi tersebut, biar rakyat > tidak bingung menyikapi informasi tersebut. > Jika SBY memang menginginkan masyarakat Indonesia bersatu padu melawan > Terorisme, ya sampaikan saja bahwa masyarakat diminta melaporkan kepada pihak > yang berwenang tentang segala sesuatu yang mencurigakan terkait dengan > keberadaan para Teroris ini. > Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada sebagian masyarakat kita yang " sangat > mengagumi dan melindungi" para Teroris Bom Bali, Bom Marriot 2003 dan > sebagainya, sehingga kelompok tersebut bisa "hidup sangat nyaman" di > Indonesia dan hal inilah yang membuat para Teroris sulit untuk dihancurkan > sampai ke akar - akarnya. > > Tetapi kalau SBY mengaitkan Teror Bom ini dengan Pilpres karena ada indikasi > ketidak puasan dari pihak Capres yang kalah dalam Pilpres yang baru lalu, > waduh informasi ini amat sangat berbahaya kalau dilepas begitu saja > kemasyarakat tanpa ada penjelasan lebih lanjut. > Oleh masyarakat informasi SBY tersebut berpotensi diterjemahkan sebagai: Para > pendukung SBY diminta untuk "mewaspadai" para pendukung dari Capres saingan > SBY, karena mereka itu berpotensi menjadi "Teroris Indonesia". > Waduh, ini kalau benar terjadi, berpotensi menimbulkan konflik horisontal > dikalangan masyarakat, sedangkan upaya SBY dan masyarakat melawan Teroris > malah bisa terabaikan. > > Jadi sebaiknya para pendukung SBY tidak mendukung semua tindakan SBY yang > menyimpang secara membabibuta, karena hal tersebut bisa berpotensi nasib > Indonesia bisa berubah menjadi Jerman di jaman Hitler atau Sovyet dijaman > Stalin atau China dijaman Mao, karena sesama masyarakat saling memata - matai > dan saling mencurigai satu sama lain. > Dampaknya sudah bisa kita saksikan bersama: Hancur lebur. > > Salam, > > Adyanto Aditomo
