Hahaha, menghadapi kroco macam Anda, saya tak perlu repot-repot pake etika. Saya tau manusia macam apa yang sedang berbicara dengan saya ini. Buang-buang waktulah untuk bersantun ria dengan dirimu. Memang saya dan kamu nggak level sih. Dalam hal ini kamu betul hehehe. Ibarat cicak sama buaya kan, kaga level juga toh? Tapi akhirnya yang porak-poranda ya si buaya. Sama halnya di sini. Yang otaknya ngaco, opininya ngawur, rajin maen rekayasa, dan mau membalik opini publik di milis ini, pasti akan lintang-pukang babak-belur juga. Hehehe, definisimu tentang korupsi lucu banget ya? Kerah putih? Iya, tapi korupsi tidak kenal warna kerah, Bung. kerah coklat di jalan-jalan juga rajin nyemprit mangsa buat dikompasin dengan alasan ngelanggar jalan. Kerah item di gedung-gedung pengadilan juga sudah terkenal deket sama mafia alias "markus". Definisimu yang sempit itu kan sengaja cuma mau dipas-pasin ke orang KPK doang? Kamu kira siapa yang bisa kamu kbulin di sini, he? Jadi kalo tak mampu dapet bukti mutlak, lalu boleh seenak udelmu menuduh orang berbuat kriminal dan menjebloskannya ke penjara? WADUH! Ini pikiran orang sakit jiwa! Berbahaya kalo ada aparat logikanya kaya begini. Cari bukti kaga becus, kerja tak kompeten, lalu mau maen jebloskan orang ke bui hanya dengan jurus duga-duga. Saya kaga sudi punya polisi kaya begini! Ini bukan polisi yang melindungi rakyat, tapi memangsa rakyat. Sampaikan ya ini ke kawan-kawanmu yang lain. Pengadilan yang memenuhi rasa keadilan, berbasis akal sehat, dan punya nurani, tak pernah akan ditolak hasilnya. Cilakana adalah kalo pengadilannya penuh nuansa rekayasa, seperti yang selam ini dipamerkan oleh para petinggi pulisi! Jelas sampai kiamat tak akan dipercaya rakyat! Ngerti kamu? Soal saya menyesatkan atau enggak, biar sidang milis ini aja deh yang memutuskan, tukang sesat itu kamu atau saya. Gitu aja kok repot-repot! manneke
Thu, 11/12/09, aksay fortisimo <[email protected]> wrote: From: aksay fortisimo <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Korupsi adlh "Agama" diindonesia To: [email protected] Received: Thursday, November 12, 2009, 9:41 PM @Manneke..,wah. .anda tidak hanya awam hukum,tp jg tidak beretika!. Hanya krn sso berbeda pendapat dgn anda so..anda menganggap saya sbg intel,antek koruptor dsb. Sebenarnya saya meles ngeladeni orang spt anda,yg tdk tahu apa-apa,anda bukan level saya bung!. tp biarlah..saya turunkan derajat saya untuk mnjelaskan sdikit ttg korupsi dlm hubungannya masalah pembuktian bibit-candra. Korupsi adlh kejahatan kerah putih,krn dilakukan oleh orang2 "pintar".Sebagai kejahatan luar biasa..mk perlu penanganan yg luar biasa pula. Jika mengharapkan BUKTI MUTLAK (foto-foto penyerahan uang,bukti transfer rekening,dan disaksikan dihadapan aparat berwenang)sbgai prasyarat utk diajukan kasus bibit-candra ke pengadilan.. adlh MUSTAHIL!. Cukup dgn bukti kuat spt karcis parkir,list telpon ari muladi ke oknum kpk (bibit-candra) sudah yg merupakan BUKTI KUAT utk diajukan ke pengadilan. Persoalan apkh ini dapat diterima oleh pengadilan.. bersalah/ tidak adlh urusan lain.Sebenarnya polri bisa saja membuka fakta & bukti lebih ke masyarakat sebelum diajukan ke kejaksaan / pengadilan utk meredam emosi masyrkat awam spt anda!, tp buat apaa..? krn ini hanya mengganggu proses penyidikan & penyelidikan. Dan stlh di buka fakta&bukti tsb meskipun belum sampai kepengadilan? ..apkh akan meredam emosi masyarakat dodol spt anda? Jawabnya TIDAK!, krn kalian trlalu awam untuk diyakinkan dgn fakta & bukti baru. Meskipun disodorkan bukti & fakta baru yg lebih kuat,yg membuat para pakar hukum & pengacaranya terhenyak dan terdiam.,apkh akan membuat anda mengerti?.krn anda trlalu awam mk..seberapapun bukti yg dsodorkan tidak akan membuat anda paham!,krn dlm pikiran anda yg ada hanya:"MEskipun terbukti bersalah..selamatka n Bibit-Chandraaaa. .!,salah ataupun benar! Sekali lagi Bung Manneke..,jk anda orang awam & tidak ngerti persoalan yg sebenarnya.. ,jgn membuat statemen2 yg menyesatkan ya?? Bagi sesama awam..anda telah menyesatkan! , tp bagi orang yg "ngerti/linuwih" spt saya? anda akan dtertawakan! he..he..he. Terimakasih
