Kebetulan penelitian saya saat ini adalah tentang Penerimaan Konsumen Indonesia terhadap Apel Lokal (Malang)...
Mengambil sampel 300 responden dan tempat sampel adalah
Surabaya...
 
Dua hal yang menarik dari hasil pengolahan data dari kuesioner yang
ada adalah :
1. Responden tersebut berpendapat bahwa apel lokal kita
    memang kalah enak dibanding apel impor, tetapi mereka tidak
    menginginkan impor, dan berharap adanya tindakan untuk
    memperbaiki teknologi dalam menanam apel supaya bisa bersaing
    dengan apel impor.
    Hal ini saya pikir berhubungan dengan nasionalisme konsumen kita
    yang masih ada...?
2.  Nilai impor apel kita rata-rata tiap tahunnya sebasar antara
     30 - 50 juta USD (dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini ) dan
    memiliki porsi rata-rata sekitar 30% dari total nilai impor buah-buahan
    secara keseluruhan. (Deptan, 2004)
 
Salam,
yusuf romadhon
tokyo nodai

Aris Purwanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Eko,
 
Bisa dijelaskan lebih lanjut maksudnya hubungan perdagangan buah segar dengan patriotisme dan nasionalisme bangsa apa ya? Kalau saya bisa menduga ini seperti di jepang yang kuat sekali brand image made in japan nya kali ya? contohnya orang jepang sangat kuat image nya bahwa beras jepang lebih enak dari beras impor, apel dan jeruk jepang lebih enak, cherry jepang lebih enak dari US. Kalau itu yang dimaksud, saya sependapat, malah kalau bisa saya ingin bisa mengangkat local brand image produk pertanian kita supaya bisa go public. Seperti image kopi kilimanjaro, kan kopi toraja juga ngga kalah kualitasnya?
 
Setahu saya ungkapan konsumen adalah raja adalah benar, coba saja amati di pasar atau di super market, bandingkan mana yang lebih diminati konsumen? jeruk kino pakistan atau jeruk medan? apel malang atau apel USA/australia yang warnanya merah?
 
 
 
 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya akan melihat dari sisi yang lain, atau mungkin ini terlalu naif
untuk saya ungkapkan.  Satu kunci utama dalam menghadapi pasar bebas
yang cenderung membuat sektor pertanian kita secara umum kalah telak
adalah membangun jiwa nasionalis bangsa, tepatnya cinta produk dalam
negeri.  Lah, kalau kita semua ini nggak mengyokong mereka, multiplier
efeknya sangat banyak.  Tenaga kerja yang utama.  Saya melihat para
middleman dalam tataniaga pertanian kita masih mementingkan keuntungan
sendiri.  Mereka banyak yang memikirkan skala nasional dari apa yang
mereka kerjakan saat ini.  Contoh perdagangan buah segar adalah contoh
lain akan fenomena itu.  Proteksi dan subsidi atau bahkan damping yang
berlebihan, barangkali akan menimbulkan protes negara lain....  Jadi
sekali lagi sikap patriotisme bangsa, sikap nasionalis bangsa akan
menentukan kebaikan ini. 

Salam,
Eko




Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.

=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
           http://www.iasa-online.org/
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
           http://www.iasa-online.org/
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke