Itulah mas Boga, seperti apa yang saya posting sebelumnya, perenan 
pedagang perantara ini sangat vital dalam tataniaga produk pertanian 
dan perikanan kita.  Mereka bisa bermain di tingkat produsen dan 
konsumen.  Lha petani yang sudah kerja sampai bungkuk-bungkuk..... 
imbalannya sangat tidak sesuai.  Malah pedagang yang relatif tidak 
kerja keras untungnya banyak.  Barangkali petani kita perlu 
membangun lembaga yang bisa meningkat bergaining dia dalam 
menentukan harga dan tataniaga produk pertanian.  Maslahnya, kadang 
petani sudah terlanjur punya komitmen dengan pedagang dalam bentuk 
utang ..... 

Salam,
eko 



--- In [email protected], Kuntoro Boga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak Aris dan Mas Yusuf
>  
> Sepengetahuan saya petani mau tanam apa saja asal ada pasar dan 
harganya baik.  Komoditi apel sudah bukan barang asing bagi petani 
di Malang-Pasuruan dan sekitarnya. Masalahnya ada invisible hand 
yang bermain di lapang. Bayangkan harga di tingkat petani 2 ribu 
perkilo, sedangkan di spot market Surabaya 6-7 ribu (Agustus 2003). 
> Mas Yusuf Bagaimana ini? Apa yang terjadi di lapangan. Masak baru 
di Surabaya yang jaraknya 60 km harganya sudah naik 300%. Kasian 
petani?
> Bagaimana memecahkan masalah ini?
>  
> Kuntoro Boga  
> 
> Aris Purwanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Menyambung tentang apel Malang, info dari senior di IPB bahwa 
Mentan telah minta semacam proyek percontohan untuk penanaman apel 
dan kaki (persimmon), kebetulan saya diminta untuk menghubungi ke 
orang jepang yang tertarik untuk  mencoba menanam apel dan kaki di 
Malang. Mudah-mudahan inisiasi semacam ini bisa membawa dampak 
perbaikan kualitas dan kuantitas produk buah-buahan kita.
>  
> regards
> Aris 
> (praktisi cold chain fresh agricultural product) 
> 
> 
> Yusuf Romadhon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kebetulan penelitian saya saat ini adalah tentang Penerimaan 
Konsumen Indonesia terhadap Apel Lokal (Malang)...
> Mengambil sampel 300 responden dan tempat sampel adalah 
> Surabaya...
>  
> Dua hal yang menarik dari hasil pengolahan data dari kuesioner 
yang 
> ada adalah :
> 1. Responden tersebut berpendapat bahwa apel lokal kita 
>     memang kalah enak dibanding apel impor, tetapi mereka tidak 
>     menginginkan impor, dan berharap adanya tindakan untuk 
>     memperbaiki teknologi dalam menanam apel supaya bisa bersaing 
>     dengan apel impor.
>     Hal ini saya pikir berhubungan dengan nasionalisme konsumen 
kita
>     yang masih ada...?
> 2.  Nilai impor apel kita rata-rata tiap tahunnya sebasar antara 
>      30 - 50 juta USD (dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini ) 
dan 
>     memiliki porsi rata-rata sekitar 30% dari total nilai impor 
buah-buahan 
>     secara keseluruhan. (Deptan, 2004)
>  
> Salam,
> yusuf romadhon
> tokyo nodai
> 
> Aris Purwanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
> Mas Eko,
>  
> Bisa dijelaskan lebih lanjut maksudnya hubungan perdagangan buah 
segar dengan patriotisme dan nasionalisme bangsa apa ya? Kalau saya 
bisa menduga ini seperti di jepang yang kuat sekali brand image made 
in japan nya kali ya? contohnya orang jepang sangat kuat image nya 
bahwa beras jepang lebih enak dari beras impor, apel dan jeruk 
jepang lebih enak, cherry jepang lebih enak dari US. Kalau itu yang 
dimaksud, saya sependapat, malah kalau bisa saya ingin bisa 
mengangkat local brand image produk pertanian kita supaya bisa go 
public. Seperti image kopi kilimanjaro, kan kopi toraja juga ngga 
kalah kualitasnya? 
>  
> Setahu saya ungkapan konsumen adalah raja adalah benar, coba saja 
amati di pasar atau di super market, bandingkan mana yang lebih 
diminati konsumen? jeruk kino pakistan atau jeruk medan? apel malang 
atau apel USA/australia yang warnanya merah? 
>  
> mereka kerjakan saat ini.  Contoh perdagangan buah segar adalah 
contoh 
> lain akan fenomena itu.  Proteksi dan subsidi atau bahkan damping 
yang 
> berlebihan, barangkali akan menimbulkan protes negara lain....  
Jadi 
> sekali lagi sikap patriotisme bangsa, sikap nasionalis bangsa akan 
> menentukan kebaikan ini.  
> 
> Salam,
> Eko 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Sports
> Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football 
> 
> 
=====================================================================
====
>                    "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 
> untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam 
Indonesia"
> -------------------------------------------------------------------
------
> Related homepages to IASA : 
>            http://www.iasa-online.org/
>            http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
> 
=====================================================================
==== 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
>    To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/iasa/
>   
>    To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>   
>    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Yahoo! Sports
>  Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football




=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 
 untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA : 
           http://www.iasa-online.org/
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
========================================================================= 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/iasa/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke