Maaf, dari saya yang muda dan yang belum masuk ke dalam dunia
usaha dan birokrasi di Indonesia secara langsung...
 
Ada beberapa poin yang terpikir di dalam benak saya :
 
1. Saya melihat peranan pemerintah - akademisi - sektor swasta (petani
    dan pedagangnya), tidak berjalan dengan baik.
    Tidak adanya keadilan, masing-masing ingin mencapai kepuasaan
    yang setingi-tingginya tanpa menilai / melihat/ merasakan bahwa
    peranan masing-masing pihak ( terutama Produsen-Middlemen-
    Lembaga Regulator ) memiliki persentase yang sebanding.
    Disini tata niaga, sangat perlu diperhatikan.
 
2. Mengenai organisasi petani.
    Saat saya melaukan survey lapang untuk penelitian saya di S-1
     pada bulan Februari-Maret 2003, dengan tema Studi Kasus Produksi
    dan Pengolahan Apel, saya sempat tinggal di kota Batu dan Malang
    selama hampir 2 bulan.
    Dari lapangan yang saya lihat, petani apel kita tidak bisa bersatu,
    kepercayaan mereka satu sama lain tidak ada.
    Dua buah alasan yang membuat ketidak percayaan ini muncul
    adalah :
    a. Petani-petani tersebut pernah saling/ sepihak melakukan  tindakan
        yang tidak baik/ benar, seperti penipuan dalam berbisnis.
    b. Faktor dislike n like, sepertinya ada juga.
        Dengan melihat karakteristik masyrakat desa yang notebenenya
        adalah masyarakat yang statis, dalam satu desa bisa jadi ada
        hubungan darah satu sama lain. Dengan kondisi ini, maka
        faktor dislike n like sangat sensitif.
    Karena petani-petani kita ini tidak bersatu maka bergaining position
    petani apel kalah dengan pedagang / middlemen, dimana middlemen
    ini terorganisir rapi.
    
3. Mengenai koperasi.
    Maaf sebelumnya, dari kesempatan sewaktu survei di kota Batu dan
    Malang, terutama di kota Batu, saya melihat koperasi disana tidak
    bisa berjalan dengan baik. Lagi-lagi ketidakpercayaan petani terhadap
    koperasi menjadi alasan lagi. Petani merasa bahwa pihak pengelola
    koperasi memanfaatkan sendiri posisinya sebagai pengurus koperasi
    tanpa memperhatikan kepentingan anggota.
    Mungkin ini satu kasus dan berasal dari pendapat petani, dan belum
    ilmiah.
 
 
Segini dulu,
Yusuf Romadhon,
yang masih meski banyak belajar
 
   

Aris Purwanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mungkin ada yang lebih ahli bisa menjelaskan kenapa petani ngga punya bagaining power yang tinggi? Saya hanya bisa share pengalaman saja karena sebenarnya kalau petani/kelompok tani diberi kesempatan untuk bisa menembus pasar mereka mampu. Contohnya banyak temen-temen yang punya ide untuk membina kolompok tani di sekitar puncak, mulai dari pra sampai pasca panen dan diberi kesempatan untuk menembus pasar super market atau hotel. Hasilnya banyak yang masih eksis seperti sekarang. Cuman kadang pedagang kan penginnya untung banyak, mereka penginnya bisa menguasai sampai jalur hulunya. Ya jelas akan menang karena mereka menguasai akses ke hilirnya juga dan modalnya juga kuat. Kalau ada kemauan untuk mengangkat petani, ya harusnya ada regulasi yang jelas tentang peran masing-masing pelaku sektor pertanian biar adil. Jangan sampai nantinya petani cuman dapatnya dari sewa lahan, karena perannya diambil alih oleh para pedagang.
 
  

Kuntoro Boga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Aris Yth,
 
Kenapa ya tidak dipikirkan membuat Koperasi petani apel atau Assosiasi petani apel yang bagus sebelum ada investor masuk. Supaya petani kita punya bergaining power lah bila berbicara dengan investor atau pedagang besar. Atau ada yang salah dalam pengorganisasian petani kita? sehingga kalah dengan pedagang? apalagi kalau menhadapi investor dengan modal besar...
 
 
Kuntoro Boga
 
 
 


Aris Purwanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya pernah ikut riset tentang pemasaran produk hortikultura dan beras dengan akses masuk pasar Induk Jakarta dan pasar beras Cipinang. Ternyata memang tidak sembarang orang bisa menjual ke pasar tersebut. Mereka sudah punya jaringan sendiri dan kita sulit punya akses langsung tanpa melalui mereka. Ya kali kayak model singapore yang ambil barang dari kita terus mereka jual ke pasar dunia. 


eko_ipb <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Itulah mas Boga, seperti apa yang saya posting sebelumnya, perenan
pedagang perantara ini sangat vital dalam tataniaga produk pertanian
dan perikanan kita.  Mereka bisa bermain di tingkat produsen dan
konsumen.  Lha petani yang sudah kerja sampai bungkuk-bungkuk.....
imbalannya sangat tidak sesuai.  Malah pedagang yang relatif tidak
kerja keras untungnya banyak.  Barangkali petani kita perlu
membangun lembaga yang bisa meningkat bergaining dia dalam
menentukan harga dan tataniaga produk pertanian.  Maslahnya, kadang
petani sudah terlanjur punya komitmen dengan pedagang dalam bentuk
utang .....

Salam,
eko



--- In [email protected], Kuntoro Boga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak Aris dan Mas Yusuf
> 
> Sepengetahuan saya petani mau tanam apa saja asal ada pasar dan
harganya baik.  Komoditi apel sudah bukan barang asing bagi petani
di Malang-Pasuruan dan sekitarnya. Masalahnya ada invisible hand
yang bermain di lapang. Bayangkan harga di tingkat petani 2 ribu
perkilo, sedangkan di spot market Surabaya 6-7 ribu (Agustus 2003).
> Mas Yusuf Bagaimana ini? Apa yang terjadi di lapangan. Masak baru
di Surabaya yang jaraknya 60 km harganya sudah naik 300%. Kasian
petani?
> Bagaimana memecahkan masalah ini?
> 
> Kuntoro Boga 
>
> Aris Purwanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Menyambung tentang apel Malang, info dari senior di IPB bahwa
Mentan telah minta semacam proyek percontohan untuk penanaman apel
dan kaki (persimmon), kebetulan saya diminta untuk menghubungi ke
orang jepang yang tertarik untuk  mencoba menanam apel dan kaki di
Malang. Mudah-mudahan inisiasi semacam ini bisa membawa dampak
perbaikan kualitas dan kuantitas produk buah-buahan kita.
> 
> regards
> Aris
> (praktisi cold chain fresh agricultural product)
>
>
> Yusuf Romadhon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kebetulan penelitian saya saat ini adalah tentang Penerimaan
Konsumen Indonesia terhadap Apel Lokal (Malang)...
> Mengambil sampel 300 responden dan tempat sampel adalah
> Surabaya...
> 
> Dua hal yang menarik dari hasil pengolahan data dari kuesioner
yang
> ada adalah :
> 1. Responden tersebut berpendapat bahwa apel lokal kita
>     memang kalah enak dibanding apel impor, tetapi mereka tidak
>     menginginkan impor, dan berharap adanya tindakan untuk
>     memperbaiki teknologi dalam menanam apel supaya bisa bersaing
>     dengan apel impor.
>     Hal ini saya pikir berhubungan dengan nasionalisme konsumen
kita
>     yang masih ada...?
> 2.  Nilai impor apel kita rata-rata tiap tahunnya sebasar antara
>      30 - 50 juta USD (dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini )
dan
>     memiliki porsi rata-rata sekitar 30% dari total nilai impor
buah-buahan
>     secara keseluruhan. (Deptan, 2004)
> 
> Salam,
> yusuf romadhon
> tokyo nodai
>
> Aris Purwanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mas Eko,
> 
> Bisa dijelaskan lebih lanjut maksudnya hubungan perdagangan buah
segar dengan patriotisme dan nasionalisme bangsa apa ya? Kalau saya
bisa menduga ini seperti di jepang yang kuat sekali brand image made
in japan nya kali ya? contohnya orang jepang sangat kuat image nya
bahwa beras jepang lebih enak dari beras impor, apel dan jeruk
jepang lebih enak, cherry jepang lebih enak dari US. Kalau itu yang
dimaksud, saya sependapat, malah kalau bisa saya ingin bisa
mengangkat local brand image produk pertanian kita supaya bisa go
public. Seperti image kopi kilimanjaro, kan kopi toraja juga ngga
kalah kualitasnya?
> 
> Setahu saya ungkapan konsumen adalah raja adalah benar, coba saja
amati di pasar atau di super market, bandingkan mana yang lebih
diminati konsumen? jeruk kino pakistan atau jeruk medan? apel malang
atau apel USA/australia yang warnanya merah?
> 
> mereka kerjakan saat ini.  Contoh perdagangan buah segar adalah
contoh
> lain akan fenomena itu.  Proteksi dan subsidi atau bahkan damping
yang
> berlebihan, barangkali akan menimbulkan protes negara lain.... 
Jadi
> sekali lagi sikap patriotisme bangsa, sikap nasionalis bangsa akan
> menentukan kebaikan ini. 
>
> Salam,
> Eko
>
>

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
           http://www.iasa-online.org/
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke