Kalau meliahat ideal-idealan memang koperasi mungkin organisasi yang paling ideal buat menaikan bergaining power, menahan gempuran modal asing, bersaing dengan desakan produk impor, public service dll. Sudah banyak yang jadi Doktor dan profesor gara-gara meneliti koperasi.
 
Cuma kalau saya lihat sekilas dilapang dan di kategorikan ada 3 tipe koperasi di Indonesia yang mengaitkan antara kesuksesannya dgn komoditi yang diusahakan (maaf kalau saya salah dan bisa dikoreksi!) saya mengabaikan sisi manajemen lho:
 
1. Koperasi maju, yang mengusahakan komoditi bernilai komersial dan atau pangsa pasarnya sudah jelas.  Contohnya koperasi susu, koperasi mina dll, diluar pertanian ada koperasi batik, koperasi angkot dll
 
2. Koperasi madya, koperasi yang tidak memiliki usaha yg berkaitan dengan barang bernilai komersil atau pangsa jelas. Tapi mengusahakan komoditi yang berhubungan dengan kebutuhan khalayak sehari-hari spt koperasi petani padi, petani tebu, peternak dll
 
3. Koperasi lemah, koperasi non komoditi.
 
Nah disinilah kesalahankita mungkin. Kita kurang mensuport koperasi yg Madya. Padahal masyarakat pedesaan kita masih banyak yang mengusahakan tanaman tradisional dan non risk (komersil!).
 
Coba lihat teman-teman yg mengangkat koperasi maju dlm topik penelitian pasti larinya ke susu, ikan dan distribusi.   Padahal pemerintah harusnya lebih melihat masalah yg ada pada koperasi yg bergerak di sektor tradisional dan memecahkan masalah yg ada.
 
Mungkin ada teman yang mau nemambahkan,
 
Kuntoro Boga
 
 
 


eko_ipb <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Loh... sampai dimana diskusinya.   Lha...mangkanya organisasi
seperti koperasi itu sudah waktunya untuk direvitalisasi. 
Organisasi itu harus dimulai dari kebutuhan.  Kalau masyarakat
merasakan kebutuhan akan organisasi mereka perlu berkumpul bersama
dan membentuk organisasi yang mereka mau AD/ART-nya.  Lain kalau
organisasi itu datangnya dari langit, rasa memilikinya pasti
kurang.  Ada contoh koperasi ngupoyo mino? di YK, dimana saya
melakukan penelitian.  Koperasi ini sangat baik dalam melakukan
koordinasi dengan anggotanya dalam hal perencanaan produksi sampai
menentiukan harga ikan bagi konsumennya.  Karena kontinuitas
terjamin, mutu juga terjamin, koperasi ini sekarang assetnya sudah
ratusan juta, mungkin milayard. 
Kaitannya dengan pedagang menengah, selama pemerintah tidak mampu
mengambil peran seperti mereka akan sulit menembus mafia perdagangan
hasil pertanian kita.  Bulog dan Dolog harus direvitalisasi tidak
hanya seperti sekarang, tapi perlu mengembangkan sayapnya sampai
berperan sebagai layaknya pedagang tengkulak yang keluar masuk
kampung.  Saya rasa model-model mafia perdagangan ini ada di semua
lini perdagangan kita...  Apa kita perlu mencontoh italia dalam
menagani mafia ini...

Salam cinta buat petani,
eko





=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
           http://www.iasa-online.org/
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
           http://www.iasa-online.org/
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke