Emang kacian itu turis bule. Jadi daku sih gak heran waktu Borobudur 
dihapus dari seven wonder. Lha wong memang perlakuannya kayak gitu. 
Waktu itu daku lihat sendiri bule dengan tampang kusut berjalan cepat 
dan dibelakangnya mengikuti tukang2 asongan yang memaksa tuh bule 
buat beli. kemudian di pintu keluar ada lagi 3-4 orang bule lagi 
ngobrol2 dan dikelilingi oleh hmm 10-15 asongan dengan gaya khas 
borobudur (memaksa tentunya). Si Bule bilang dengan keras "No...No No 
and NO". kemudian aku jalan beberapa langkah dan guess apa yg gue 
temukan? sekelompok Polisi bouw. Tampaknya mereka tidak sadar kalau 
sebagian gaji mereka dibayar oleh pajak bule2 ini sebab mereka cuek 
bebek ajah.

Terus pengalaman ini bertambah ketika aku bertukar pengalaman dg 
teman ku yg biasa jadi guide bule. dia pernah bilang ke asongan itu, 
mas, udah, si bulenya gak mau tuh. dan jawaban asongannya? Aku gak 
nawarin kamu tuh, aku nawarin bulenya!! wah ketus banget yah?

Banyak lagi sih hal negatif lain hasil pengamatan disana. Tapi 
intinya memang manajemen Borobudur kudu dirombak total kalau pingin 
nih candi kembali jadi tempat favorit wisata.

rgd,
Joe

--- In [email protected], Maitreya Kasih 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Halo.... 
> Saya sekedar mau share nih, 2 minggu yang lalu, saya ajak beberapa 
orang saudara suami saya (asal dari Riau) yang nggak pernah ke tanah 
jawa. Terus kami ajak mereka jalan2 ke candi borobudur. Untuk 
menghemat, kami menggunakan semua dengan akomodasi yang murah meriah. 
Tanpa tour guide hanya sewa mobil saja.
> 
> Sampai di borobudur, kami membeli 9 lembar tiket masuk ditambah 
dengan tiket utk memotret (1 kamera - Rp. 2000). Total rombongan 
memang 9 orang (termasuk saya & suami). Di pintu masuk kami tidak 
mendapat masalah, sampai beberapa meter dari pintu masuk, tiba2 ada 
seorang petugas (yang mengaku bernama Bp Sutoyo) datang dan menegur 
kami, dia menanyakan apakah kami rombongan dari TAIWAN. Dia bilang 
kalau rombongan dari Taiwan, maka harus bayar beda dan beli tiket 
yang beda. Kami bilang kami dari kepulauan riau. Dia ngotot dan 
bentak2 kami utk menunjukan ktp kami semua (9 orang). Di depan orang 
banyak, dia ngotot bahwa kami harus mengeluarkan ktp dan menunjukan 
kepada dia kalau kami bukan turis dari TAIWAN.
> 
> Kami kecewa dengan pelayanan ini, apakah memang benar ada peraturan 
semacam ini? seingat saya nggak ada tertulis jika TURIS TAIWAN harus 
bayar lebih. Apalagi sebenarnya kami ini rombongan dari kepulauan 
Riau, dimana masih masuk wilayah Indonesia.
> 
> Mohon informasinya, apakah memang seperti ini perkembangan wisata 
di borobudur sekarang? Benar2 harus dibenahi, jangan sampai ada 
oknum2 yang memanfaatkan situasi utk mendapatkan keuntungan dari 
turis2 asing yang datang ke borobudur.
> 
> Ada yang punya contact person yang menangani keluhan/saran utk 
kompleks wisata candi borobudur?
> 
> Terima kasih
> 
> Aci
>


Kirim email ke