Assalamualaikum.. saya hanya sekedar berbagi pengalaman sebagai orang awam...
pembahasan masalah teknik-teknik mempertahankan jalan nafas (airway) sungguh menarik dibahas karena berbeda sudut pandang antara rekan - rekan paramedis dan orang awam yang terlatih, tetapi semua sama dalam prinsip yaitu bagaimana membuat penderita bertahan hidup, mencegah kematian, mencegah kecacatan serta menunjang penyembuhan. saya pernah menangani penderita patah tulang leher, waktu itu kejadiannya perestiwa konser Band Gigi di UIN Jakarta tahun 2004 dimana banyak korban yang berjatuhan tercatat 2 orang meninggal di Rumah Sakit, dan salah satu korbannya saya yang menangani. korban tidak respon mengalami patah tulang leher, pendarahan di kepala disebabkan tertimpa pecahan canopy berserta orang - orang (penonton yang duduk di canopy ketinggian 20 meter) yang menyertainya. penanganan yang saya lakukan adalah tindakan airway dengan teknik TDAD (HTCL) karena kondisi sulit untuk jaw thurst.. saya menyadari bahwa tindakan saya beresiko tetapi selama perjalanan ke rumah sakit untuk mempertahankan kepala korban saya menggunakan jaw thurst dan tetap memeriksa nafas dengan nafas yang masih ada terasa lemah dan denyut nadi lemah Alhamdulillah sampai rumah sakit korban tetap ada nafas dan nadi dan bertahan selama 1 jam walaupun korban meninggal dalam penanganan di rumah sakit. saya berfikir dengan tindakan saya dulu apakah salah ? karena saya orang awam yang terpaksa menggunakan tindakan mempertahankan jalan nafas yang tidak sesuai dengan kasus yang terjadi dengan menghindari kematian korban dalam perjalanan menuju rumah sakit.... thanks Agus Rama Dani --- Pada Sel, 17/2/09, Adhi Nugroho <[email protected]> menulis: Dari: Adhi Nugroho <[email protected]> Topik: Re: Bls: [indofirstaid.org]: TEKNIK-TEKNIK MEMPERTAHANKAN AIRWAY ?? Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 17 Februari, 2009, 10:03 AM Sekedar berbagi pengalaman. Saya pernah menjumpai seorang pria yang tertabrak mobil di pintu tol karawaci. Saat saya dekati, korban mengerang, tercium bau pesing dan terdapat jejas racoon sign. saya langsung mencurigai adanya cidera spinal khususnya cervical (karena saat saya cubit lengannya,erangan korban tidak berubah), dan patah tulang dasar tengkorak (basis cranii). Pada keadaan ini saya perlakukan sebagai korban cidera cervical. Beberapa menit kemudian korban berhenti mengerang, setelah saya periksa ternyata tidak bernapas dan nadi tidak berdenyut. Hal pertama yang saya lakukan adalh membuka jalan nafas menggunakan jawthrust (dengan posisi pistol grip). Namun seperti mas agit bilang, sangat sulit untuk melakukan bantuan napas bersamaan dengan jawthrust. tanpa pikir panjang saya langsung gunakan head tilt chin lift. Setelah beberapa menit resusitasi denyut dan napas kembali ada. Saya mengambil keputusan diatas karena saya kembali pada prinsip prioritas pertolongan pertama : 1. Selamatkan jiwa 2. mencegah kondisi memburuk 3. Menunjang penyembuhan Menurut saya akan sangat berbeda jika penolong adalah seorang tenaga medis dengan orang awam yang belajar firstaid. Akan berbeda pula jika tenaga medis tersebut menolong orang di rumah sakit/ambulance yg notabene mempunyai peralatan lengkap dengan dilapangan yang tanpa menggunakan peralatan medis apapun. Tentunya jika berada di Rumah sakit prosedur head tilt chin lift tidak akan dilakukan pada korban curiga cidera spinal. Siapa kita, dan dimana posisi kita akan sangat mempengaruhi teknik pertolongan, namun tetap dengan prinsip yang sama. From: Agit Seno <agitx2...@yahoo. com> To: indofirstaid@ yahoogroups. com Sent: Monday, February 16, 2009 12:27:12 AM Subject: Re: Bls: [indofirstaid. org]: TEKNIK-TEKNIK MEMPERTAHANKAN AIRWAY ?? Terima kasih atas tanggapan dari rekans semua.. Mohon pencerahan dari rekans.. Bila ada sebuah kasus, seorang pengendara sepeda motor kecelakaan tunggal, dan saya adalah seorang petugas medis seorang diri. Kemudian didapatkan bahwa korban mengalami henti nafas dan jantung. Sementara juga DICURIGAI cedera servical (diagnosis PASTI hanya dari rontgen). Apa yang harus saya lakukan? mengingat bahwa tidak mungkin menggunakan jawthrust sambil melakukan mouth to mouth, sedangkan saya hanya menolong korban sendirian. Sedangkan bila dikatakan KONTRAINDIKASI, maka saya tidak boleh menggunakan head tilt chin lift pada pasien ini.(dengan head tilt chin lift, saya bisa membuka jalan nafas dan memberikan mouth to mouth pada pasien ini yang jelas mengalami henti nafas). Sedang bila saya lbh mempertimbangkan KEMUNGKINAN cedera lehernya, mungkin saya akan membuatnya tidak terselamatkan (karena dia jelas2 tidak bernafas). oiya, dalam ATLS, kalo tidak salah, saya tidak menemukan kata2 bahwa head tilt chin lift KONTRAINDIKASI pada korban cedera cervical. Hanya dikatakan bahwa jawtrust digunakan untuk membuka jalan nafas pada korban cedera cervical. Atau mungkin karena kekurangtelitian saya dalam membaca, mungkin rekans bs membantu untuk mengutipkan bahasan dari handbook ATLS tentang ini? Terima kasih... --- On Fri, 2/13/09, pro emergency <proemergency@ yahoo.co. id> wrote: From: pro emergency <proemergency@ yahoo.co. id> Subject: Re: Bls: [indofirstaid. org]: TEKNIK-TEKNIK MEMPERTAHANKAN AIRWAY ?? To: indofirstaid@ yahoogroups. com Date: Friday, February 13, 2009, 3:27 PM Dear all, Kami setuju dengan Sdr. Buchari, Pada penderita trauma dengan curiga fraktur servical memang diprioritaskan menggunakan teknik jaw thrust, karena tindakan ini dilakukan sambil menjaga / imobilisasi servikal agar tetap in line.NPA memang tidak boleh digunakan apabila penderita dicurigai fraktur basis cranii yang ditandai dengan keluarnya darah / cairan dari mulut, hidung dan telinga atau pembengkakan pada mata (racoon eyes).Sebagai rujukan dalam bahasa indonesia silahkan buka buku ATLS yang dikeluarkan oleh Ikatan Ahli Bedah Indonesia yang mengadop American College Of Surgeon. PRO EMERGENCY proemergency@ yahoo.co. id http://proemergency -ems.blogspot. com --- Pada Kam, 12/2/09, SC <an6...@yahoo. com> menulis: Dari: SC <an6...@yahoo. com> Topik: Re: Bls: [indofirstaid. org]: TEKNIK-TEKNIK MEMPERTAHANKAN AIRWAY ?? Kepada: indofirstaid@ yahoogroups. com Tanggal: Kamis, 12 Februari, 2009, 12:51 AM Rekan-rekan sekalian, Saya ingin berbagi pengalaman pengetahuan sebagai tanggapan dari pokok pembicaraan ini dari sdr. Jajat Sudrajat. Dengan garis bawah, prosedur tetap yang saya gunakan dari AHA dan New York State EMS. Dengan tidak mengurangi rasa hormat: Pembukaan jalan nafas pada pasien yg dicurigai menderita luka trauma di sekitar cervical lordosis, hanya menggunakan teknik JAW THRUST MANEUVER, bukan CHIN LIFT. Mungkin yg dimaksud oleh sdr. Jajat adalah chin lift sebagai implikasi gerakan jaw thrust. Penggunaan NPA (Nasopharyngeal Airway) tidak boleh dilakukan pada pasien yg dicurigai menderita luka trauma di sekitar cervical column. Treatment ini dilakukan sebagai skenario terburuk dalam pre-hospital setting. Alasan utama adalah untuk mencegah menembusnya NPA ke tulang Sphenoid yang terletak diantara perbatasan sisi hidung bagian dalam dan otak bagian bawah (orbital part, olfactory trigone) sebagai luka sekunder. Jadi dalam hal ini, OPA (Oropharyngeal Airway) lebih dianjurkan. Treatment yg dilakukan EMS selalu berasumsi pada skenario terburuk pada luka trauma cervical lordosis pada level BLS dan ALS. Panduan Teknik resustasi (CPR) pada pasien penderita trauma tertulis pada panduan prosedur tetap AHA, memang tidak dibahas secara detail teknisnya, krn AHA menyerahkan sepenuhnya kebijakan setiap negara bagian di US atau negara-negara lain utk mengatur teknis pelaksanaannya. Silahkan baca 2005 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Part 10.7: Cardiac Arrest Associated With Trauma pada link berikut di bawah ini http://circ. ahajournals. org/cgi/content/ full/112/ 24_suppl/ IV-146 Stay Safe and Stay Health ! Sincerely, EMT. A. Buchari Disaster Health Services American Red Cross in Greater New York 520 W 49th St. New York, NY 10019 Ph. 1-877-REDCROSS From: Jajat Sudrajat <zazat_sudrazat@ yahoo.co. id> To: indofirstaid@ yahoogroups. com Sent: Wednesday, February 11, 2009 3:52:33 AM Subject: Bls: [indofirstaid. org]: TEKNIK-TEKNIK MEMPERTAHANKAN AIRWAY ?? Dear, Agit Seno Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan : Tindakan head-tilt-chin- lift adalah kontraindikasi pada penderita yang dicurigai mengalami cedera leher (Fraktur servikal). Hal ini karena head tilt chin lift adalah tindakan pembebasan jalan napas yang mengakibatkan kepala pendeita menengadah (Ekstensi/Hiperekst ensi). Semua tindakan (buka jalan napas atau yang lainnya) pada penderita trauma yang dicurigai fraktur servikal harus selalu menjaga agar posisi penderita tetap lurus / in line position. Jadi tindakan head tilt chin lift tidak dibenarkan dilakukan pada penderita dengan kecurigaan fraktur servikal. Coba anda buka hand book of Advance Trauma Life Support dari American College Of Surgeon. Tindakan pembukaan jalan napas pada sumbatan karena pangkal lidah (dengan curiga fraktur servikal/patah tulang leher) dilakukan dengan manuver chin lift dan jaw thrust. Tindakan jaw thrust dan chin lift adalah tindakan yang diperuntukan bagi orang awam yang tidak memiliki alat untuk pembebasan jalan napas karena sumbatan pangkal lidah pada penderita yang tidak sadar. sedangkan petugas profesional dalam membebaskan jalan napas karena sumbatan pangkal lidah menggunakan alat yang namanya oropharyngeal airway (OPA) atau Naso Pharyngeal airway (NPA) jadi siapa bilang orang awam tidak boleh melakukan tindakan ini. Tindakan head tilt chin lift atau menengadahkan kepala penderita yang di curigai cedera leher justru akan berakibat fatal, semakin banyak menggerakan leher semakin besar kemungkinan akan terjadi cedera sekunder. karena di leher banyak sekali dilewati persyarafan, bukan tidak mungkin dengan menengadahkan kepala penderita, penderita akan mengalami henti napas dan henti jantung atau kelumpuhan yang permanen. Pada penderita dengan kecurigaan cedera tulang leher, didlam menjaga jalan napasnya harus selalu menjaga agar selalu dalam posisi segaris (cervical control), jadi sangat dianjurkan untuk selalu memakai neck collar atau fiksasi secara manual. Sekali lagi head tilt chin lift tidak boleh dilakukan pada penderita dengan curiga cedera tulang leher, tindakan manual yang dianjurkan adalah chin lift dan jaw trust. AHA adalan Asosiasi Ahli Jantung Di Amerika, kalau anda cek pada guideline itu tidak dibahas detail tentang tindakan resusitasi pada penderita trauma, mereka hanya menekankan pada penderita yang mengalami henti napas dan henti jantung saja dengan irama asistole, VT atau VF. Sedangkan untuk rujukan penanganan penderita trauma silahkan anda buka hand book ATLS atau BTLS.Terimakasih atas perhatiannya. Wassalam, Jajat Sudrajat --- Pada Sen, 9/2/09, Agit Seno <agitx2...@yahoo. com> menulis: Dari: Agit Seno <agitx2...@yahoo. com> Topik: [indofirstaid. org]: TEKNIK-TEKNIK MEMPERTAHANKAN AIRWAY ?? Kepada: indofirstaid@ yahoogroups. com Tanggal: Senin, 9 Februari, 2009, 2:11 AM Tindakan Head Tilt Chin Lift BUKAN KONTRA INDIKASI pada pasien dengan cedera leher. Sejak tahun 2005, guideline yang dikeluarkan oleh AHA, ILCOR maupun ERC menyatakan bahwa pada pasien dengan cedera leher, prioritas pertama adalah mempertahankan/ membuka jalan nafas. Syarat jawtrust adalah : 1. Harus dilakukan oleh tenaga medis profesional 2. Dilakukan oleh minimal 2 orang tenaga medis profesional Kenapa harus oleh tenaga medis profesional? Dari penelitian dinyatakan bahwa tenaga medis profesional- pun mengalami kesulitan dalam membuka jalan nafas yang adekuat dengan jawtrust. Karena itu, protap jawtrust hanya diajarkan kepada tenaga medis. Seorang relawan kesehatan tidak diajarkan manuver ini, karena pada keadaan pasien gawat, yang terjadi adalah gagal dalam membuka jalan nafas. Selain itu, bila pelatihan mengajarkan bahwa Head tilt chin lift tidak boleh dilakukan pada pasien curiga cedera leher, maka hal itu akan menyebabkan banyak korban tidak tertolong dengan angka keberhasilan membuka jalan nafas yang rendah. Penggunaan colar neck pada pembukaan jalan nafasjuga tidak dianjurkan, karena akan menghambat jalan nafas terbuka. Penggunaan colar neck hanya dianjurkan pada pasien dengan jalan nafas yang stabil. Kesimpulan : Sesuai dengan guideline yang berlaku international, maka ketika ada korban curiga cedera leher, yang dilakukan pertama kali adalah : Head Tilt Chin Lift, baru kemudian Jawtrust (dengan syarat penolong diatas). Bila yang menolong hanya ada seorang tenaga medis-pun, maka Head tilt chin lift tetap merupakan prioritas pertama. AHA adalah American Heart Association, protap RJP yang digunakan di indonesia kebanyakan mengacu pada organisasi ini. Tetapi masih banyak protap RJP di indonesia yang tidak sesuai dengan protap aslinya. ILCOR adalah gabungan organisasi kegawatdaruratan dunia, dimana guidelinenya merupakan kesepakatan organisasi besar dunia dalam melakukan RJP, termasuk didalamnya adalah AHA dan ERC. Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis. Download Yahoo! Toolbar sekarang . Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

