Joshua Partogi wrote: > > > > > 2009/6/9 Samuel Franklyn <[email protected] <mailto:[email protected]>> > > Joshua Partogi wrote: > > > > > > Ah di akhir-nya juga jelek. Banyak bug fixing. Makanya never ending. > > Omongan geblek. Dimana-mana banyak bug atau kagak bukan > tergantung bahasa yang dipakai tapi kemampuan developer dan > metode development yang dipakai. Kalau kayak di NASA > di mana 1 bug di kerjakan oleh team sebanyak 20 orang lebih, > yang masing-masing orang punya pengalaman diatas 10 tahun, > di analisa dampak perbaikannya selama 6 bulan, > di dokumentasi perbaikannya dan dampaknya kemana, > lalu ditesting 3 bulan perbaikannya dengan > seabreg test cases baru diaplikasi ke sistem produksi > maka biar bug sekecil apapun susah hidup. > Mau pakai bahasa assembly sekalipun bug modar kalau > diperlakukan kayak begitu. > > > Susah ah ngomong ama orang yang gak pernah turun ke management level.
Akang Joshua gua bukan cuma pernah jadi manager. Gua juga pernah jadi owner walaupun sekarang cuma staff biasa saja. > Programmer memang gak liat kek ginian. Ini bukan bahasa-nya yang secara > langsung menghasilkan banyak bug, tapi kerumitan bahasa tersebut > menghasilkan implementasi yang klien inginkan. Bisa jadi itu karena dipaksakan. Kalau misalkan mau bikinnya cepat tanpa peduli cost operational dan maintenance maka pemakaian Perl/Ruby/Python adalah hal yang tepat. Tapi yang jelas bahasa dinamis ada batasan skala kerumitannya. Kalau memang bahasa dinamis itu sama sekali nggak ada draw backnya orang kan sudah bikin core banking dan ERP pakai bahasa dinamis. > Karena Java butuh waktu yang cenderung lebih lama > (estimasi gw 2.5x lipat dari dynamic language) > untuk menghasilkan implementasi sedangkan timeframe-nya tetap sama, > walhasil muncul bug dimana-mana. Ini salah di project managementnya. Kalau memang pakai Java ya dialokasi waktu yang sesuai. Kalau mau cepat tanpa pertimbangan skala kerumitan dan pemeliharaan maka bahasa dinamis memang ok. Tapi apa benar bahasa dinamis bisa bikin software yang tingkat kerumitannya sangat tinggi atau butuh tingkat performance tinggi? > Kerumitan (dengan faktor LOC) bahasa > tersebut-lah yang menjadikan Java error-prone, sama kayak Javascript > yang juga error prone. Di akhir SDLC karena banyak bug fixing tersebut > ditambah kerumitan bahasa-nya, tinggal dikalikan aja berapa lama untuk > mengimplementasikan sebuah software menggunakan Java. In the end bisa > looping terus dan never ending seperti yang gw bilang. Dan tinggal > dikalikan saja berapa uang yang harus dikeluarkan oleh klien. > > *sigh* Joshua bukankah Javascript itu bahasa dinamis juga. Kayaknya nggak pernah gua dengar ada yang mengklasifikasikan Javascript sebagai bahasa statis. Kalau lu omong Javascript yang dinamis sama error prone dengan Java bukankah itu berarti bahasa dinamis dan statis sama-sama error prone. Mikir dulu kalau ngomong.

