Yth. warga KOL
Dari milis tetangga semoga dpt meberi motivasi bagi kita utk lebih maju
Jaya lah Iindonesi ku tercinta
salam hormat
agus mst
Sebuah karya anak bangsa yang Luar Biasa,
>
> 7 tahun lalu saya membaca berita disurat kabar mengenai peluncuran roket
> oleh lapan di cilacap.
> yang saya rasakan saat itu pesimis, karena roket yang diluncurkan tidak
> jauh berbeda dengan kembang api yang sering saya mainkan dikampung.
> apalagi setelah membaca curhatan dari pejabat lapan sendiri bahwa ketika
> Lapan memperoleh kemajuan yang pesat, tiba2 pemerintah saat itu
> menyunat anggaran untuk riset Lapan. Waktu itu saya pikir butuh 30-50
> tahun roket Indonesia bisa berkembang, ternyata sekarang tahun 2009
> dengan dana riset 2,5M Ilmuwan kita memperoleh kemajuan yang luar biasa.
>
> Sekedar informasi, Teknologi roket tidak ada satu negarapun yang telah
> menguasainya mau membagi Ilmu terapan dengan Warga Negara lain, kecuali
> mau pindah kewarganegaraan, itulah kenapa saya bilang ini prestasi luar
> biasa, karena Ilmuwan kita benar2 belajar dan membuat roket dengan text
> book, tanpa bantuan negara lain. sekarang ini tinggal dikembangkan ke
> SLV untuk meluncurkan roket. namun sebelumnya pengembangan untuk militer
> juga perlu, baik ground to ground, ground to air, air to air dan air to
> ground selanjutnya menjadi rudal balistik.
>
> Merdeka...
>
> Iwan Yoga Andaya wrote:
>> FYI, dari milis sebelah.
>> Ternyata bangsa sebesar dan sehebat ini, tidak didukung penuh oleh
>> pemerintahan
>> yang dipilih oleh rakyat sendiri.
Roket RX-420 & CN-235 Militer: Getarkan Australia, Singapura, Malaysia
Oleh Cardiyan HIS
Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas
kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini
dijegal
justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah
yangsering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya
buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang sebenarnya.
Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.
Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan
ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di
Indonesia yang
lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu
saja di
negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni
Malaysia.
Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat
memberikan
daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu
membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila
struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi
ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu
pula
semua
komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam
negeri,
termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih
diimpor.
Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun "cuma" Rp 1 milyar.
Kalah jauh
dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan
Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50
milyar.
Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700
trilyun.
Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia?
Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa
Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama
Nano Satellite
sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada
ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik.. Bila ini terlaksana
Indonesia akan
menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan
sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member "Asian Satellite Club"
bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.
Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan?
Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan
damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat
Indonesia. Maka
otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket
sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka
sekarang ini
pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan,
maka
Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia.
Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan
Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok
Ambalat.
Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh
dari utara yakni
Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di
masa depan .
CN 235 Versi Militer
Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama "nyaho" kehebatan
insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket
RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih
jauh dari
CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang
sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan
dukungan dana dari pemerintah.
Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut
pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi
terlalu
banyak ("cuma" Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan
lain-lain) dan
hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki
mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235
terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40
insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah
penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat
mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat
cukup ditambah satu saja
CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang
ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.
Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang
Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya
insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista
dibilangin orang
Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa:
"Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya
lebih murah".
Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus
tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen
teknologi dengan
membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.
Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri,harus
dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli
pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work.
Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat
tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda
dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan
Kredit Ekspor
sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung
oleh duniaperbankan,
agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon
pembeli asing yang tak bisa bayar cash.-