Pak Kun dan Rekan, Saya ikutan nyoba berargumen subjektive.
1. Kemungkinan lembaga pendidikan gagal membuat siswa INGIN TAHU BENER-BENER TENTANG SEBUAH ILMU 2. atau, rata-rata siswa kuliah atau belajar di kelas bukan untuk belajar tentang sesuatu hal tetapi hanya ingin cepet-cepet lulus, pingin dapat nilai bagus di atas kertas 3. Kalau seseorang sudah niat ingin mengetahui sesuatu dia akan belajar benar-benar bukan hanya di kampus tapi di manapun. Saya punya kisah lucu ketika saya bekerja di perusahaan kecil dulu di Jakarta, suatu hari diadakan assessment entuk memilih technical supervisor, ada kira-kira 35 teknisi yang ikut serta di level test tertulis, kemudian dari 35 teknisi di kantor saya tersebut sisa 10 orang yg kemudian diminta presentasi di depan 6 manager dan seorang direktur, sungguh di luar dugaaan beberapa sarjana komputer (SKom) gagal memenangkan assessment tersebut, assessment justru dimenangkan oleh seorang lulusan madrasah aliyah yang kemudian menjadi supervisor dari para sarjana itu. Hal memalukan sering saya temukan di warnet saya, guru-guru yang sekarang kuliah s1 di UT atau lainya di Sukorejo ketika diberikan tugas oleh dosen nya bukannya dikerjakan sendiri tapi minta dikerjakan sepenuhnya oleh operator warnet saya, bukan hanya minta dicarikan data lewat internet tetapi pasrah bongko'an contoh: "*mas carikan karya tulis ilmiah populer mas*" sementara operator saya pun tidak tahu apa itu artikel ilmiah populer, akhirnya karyawan saya itu yg belajar dulu lewat google apa itu karya ilmiah populer, kemudian dia cari contohnya dan diberikan ke pak guru itu. Satu kata buat guru yg lagi kuliah s1 itu *"saya tidak rela anda mengajar anak saya, karena anda sendiri tidak mau belajar"*. - Mari semua orang tua harus memperhatikan belajar anak-anaknya. - Biasakan membaca alquran terjemah, bukan berapa lembar terbaca - Berdoa menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa arab - Jangan menginginkan anak sholeh, tapi inginkan anak baik, lebih mudah dicerna - Jelaskan arti wirid seperti Allahuakbar itu artinya apa, bukan memberikan anjuran mengatakan sekian kali, tapi memahaminya. - Pemilik pondok pesantren jangan sholat jamaah sendiri bersama murid-muridnya (menthal), tetapi sebaiknya ikut jamaah di masjid sebelahnya, istilah alm. Nurcholis Majid INCLUSIVE, bukan exclusive - Kalau punya komputer jangan larang anaknya megang karena takut rusak, buat apa dibeli kalau takut rusak? gunakan deepfreeze atau returnil untuk melindungi takut eror gara2 salah pencet. - Ibu-ibu boleh saja bekerja tapi sekedar membantu suami, tapi jangan lupa tugas utama sebagai ibu misal ngurus anak, jangan smapai pendidikan anak diserahkan pembantu - HindARI kebanyakan nonton sinetron yg ga bermutu, - hindari nonton berita kriminal - hindari membenci orang kaya juga orang miskin. semua harus dicintai - usahakan tidak meminjam tanpa agunan, meminjam dengan agunan ini akan menenangkan di terpinjam, Rasulullah suatu hari kelaparan perisainya diagunkan di Pedagang Yahudi untuk makan. Mari belajar terus ... Mari... ASROFI Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal Mobile : +6281 311 661 479 Yahoo : asrofism G-Talk : [email protected] Email : [email protected] Blog : www.asrofi.web.id Office : www.sentraproperty.com 2010/6/30 muhamad kundarto <[email protected]> > > > Sejauh pengamatan yang subyektif selama sepuluh tahun terakhir ini, > didukung oleh keluhan beberapa user yang mengatakan bahwa kualitas lulusan > sarjana semakin menurun, saya jadi tergelitik untuk mencari sebab > musababnya. Siapa tahu kupasan artikel ini bisa menjadi pijakan baru dalam > memperbaiki kualitas lulusan sarjana. > > > > Entah ada kesepakatan darimana, ataukah karena tuntutan persyarakat > akreditasi, maka waktu tempuh para sarjana dalam sepuluh tahun terakhir ini > relatif cepat, rata-rata 4-5 tahun. Bahkan ada yang lebih cepat dari itu. > Sementara itu lulusan jaman sebelumnya sekitar 6-7 tahun. > > Sistem saat ini lebih mendorong mahasiswa hanya fokus pada perkuliahan dan > praktikum saja. Kegiatan ekstrakurikuler semacam di HMJ, BEM, UKM dan > kegiatan keorganisasian di luar kampus mengalami penurunan tajam dalam > jumlah peminat. Padahal dalam kegiatan inilah pengalaman, mental dan jiwa > kepemimpinan diraih. Akhirnya ketika lulus hanya bermodalkan ijazah dan > transkrip nilai, tetapi sangat minim pengalaman kerja, bermental kurang > bagus dalam tekanan lingkungan yang kurang kondusif, dan kurang mempunyai > jiwa kepemimpinan. > > > > Berikutnya, ada kecenderungan pemberian nilai dari dosen semakin murah. > Jarang sekali ditemukan dosen memberikan nilai D dan E, yang dulu sudah > biasa diterima oleh para mahasiswa. Sehingga dulu mempunyai IPK > 3 itu > sudah sangat luar biasa dan mungkin perlu beberapa tahun untuk mengulang > beberapa matakuliah yang jeblok nilainya. Beda dengan sekarang dimana IPK > > 3,5 sangat mudah ditemukan. Bahkan banyak yang mendapat predikat cumlaude. > > Bermodal IPK tinggi tidaklah cukup untuk penempatan di daerah pedalaman > yang jauh dari keramaian kota. Tak jarang para sarjana baru ini sering > bertanya ke HRD yang mewawancarai mereka, "di sana ada sinyal hand phone, > gak?". Sungguh pertanyaan yang mengarah ketidaksiapan dalam suasana > lingkungan yang jauh dari keramaian. > > > > Berikutnya lagi, kegiatan mahasiswa, khususnya BEM dan HMJ telah bergeser > dari kajian ilmiah sesuai bidang ilmunya ke arah kegiatan politik praktis. > Tak jarang program kerjanya hanya seputar pemilu raya (pemilihan ketua > baru), OSPEK (orientasi kampus untuk mahasiswa baru) dan makrab (malam > keakraban, tapi sering dijadikan ajang doktrin senior pada yunior, yang > kadang menyimpang dari pakem akademik). Sangat jarang mereka mengadakan > kegiatan ilmiah, seperti ceramah ilmiah, kelompok ilmiah mahasiswa, karya > tulis ilmiah, penelitian ilmiah, dan sumbangan ilmu yang ditekuni kepada > masyarakat. > > Karena terbiasa berpolitik, maka wajar jika akhirnya melahirkan pada > politikus baru, dimana mereka banyak yang terjun ke dunia politik > kepartaian, dan sering kehilangan ilmu sesuai jurusan masing-masing. > > Latihan berpolitik terjun ke dunia politik itu pas. Tapi ketika terjun ke > dunia kerja perkantoran atau perkebunan, akan mengalami masalah karena > iklimnya jauh berbeda. Jangan sampai malah memicu gerakan politik di dunia > kerja. Dan politikus terbiasa bermain diantara orang-orang, jadi jelas tidak > siap untuk terjun di kesunyian (baca : perkebunan, lokasi terpencil, dll.) > > > > Argumen terakhir, para mahasiswa sekarang sangat termanjakan oleh fasilitas > teknologi dalam kehidupannya. Sering saya berseloroh ke mereka "anda boleh > betah pisah seminggu dengan pacar, tapi gak akan betah pisah satu hari > dengan hand phone anda!". > > Yah, fasilitas teknologi seperti hand phone, laptop, internet (facebook, > email, dll), dugem (dunia gemerlap : mall, diskotik, cafe, dll), TV, dan > motor; yang didukung oleh suasana kota yang serba ada untuk memenuhi > kebutuhan hidup. > > Belum lagi kiriman bulanan dari orangtua cenderung bisa jajan dimana-mana. > Beberapa mahasiswa yang aku tanya memberikan info bahwa kiriman bulanan > berkisar 1-2 juta per bulan (kebayang gak sich, ortu yg punya 4 anak kuliah > semua, per bulan harus setor 4-8 jt, tentu mereka bukan level PNS umumnya > atau petani hehe). Para mahasiswa dulu sudah biasa makan dengan memasak > sendiri berlauk mie instan. Sekarang untuk makan 3x sehari bisa berada di > warung yang berbeda, bak wisatawan kuliner. > > > > Sekali lagi, argumen di atas sifatnya subyektif, karena tidak didukung oleh > survey kuisioner, maka bisa saja salah. Tetapi saya berani berpendapat bahwa > tulisan ini mengandung kebenaran 80%. Artinya, ada juga lulusan saat ini > yang ber-IPK bagus, mental bagus, tahan banting dan mempunyai jiwa > leadership tinggi, tetapi jumlahnya tidak lebih dari 20% lulusan. > > > > Semoga tulisan ini menginspirasi para pendidik, anak didik dan orangtua. > > Jaman memang berubah, tapi jangan sampai perubahan itu malah menurunkan > kualitas generasi penerus dalam menyongsong tantangan ke masa depan. > > > > Tulisan ini terbuka untuk didiskusikan. > > Mohon koreksi dan saran. > > > > > > Ki Asmoro Jiwo > > >

