Mas Ery, berpolitik itu sah-sah saja, kalo dia memang politikus atau didalam wadah politik tapi menurutku, pergeseran gerakan itu malah membuat mahasiswa kehilangan jatidiri ke jurusan/fakultas masing-masing. apalagi penamaan presiden, gubernur, menteri dalam keorganisasian mahasiswa itu adalah bagian dari euforia, yang kata mereka adl kemenangan menumbangkan orde baru sejatinya mereka tetap saja pion dari para pemain (baca:politikus) yang mendorong dari belakang ini pendapatku lho, bisa beda persepsi hehhehe
--- On Wed, 6/30/10, ery wijaya <[email protected]> wrote: From: ery wijaya <[email protected]> Subject: Re: [kendal-online] Masalah MENTAL pada lulusan terkini To: [email protected] Date: Wednesday, June 30, 2010, 9:43 AM Saya tergelitik dengan analisa Pak Kun berikut ini: Sistem saat ini lebih mendorong mahasiswa hanya fokus pada perkuliahan dan praktikum saja. Kegiatan ekstrakurikuler semacam di HMJ, BEM, UKM dan kegiatan keorganisasian di luar kampus mengalami penurunan tajam dalam jumlah peminat. Padahal dalam kegiatan inilah pengalaman, mental dan jiwa kepemimpinan diraih. Akhirnya ketika lulus hanya bermodalkan ijazah dan transkrip nilai, tetapi sangat minim pengalaman kerja, bermental kurang bagus dalam tekanan lingkungan yang kurang kondusif, dan kurang mempunyai jiwa kepemimpinan dan Berikutnya lagi, kegiatan mahasiswa, khususnya BEM dan HMJ telah bergeser dari kajian ilmiah sesuai bidang ilmunya ke arah kegiatan politik praktis. Tak jarang program kerjanya hanya seputar pemilu raya (pemilihan ketua baru), OSPEK (orientasi kampus untuk mahasiswa baru) dan makrab (malam keakraban, tapi sering dijadikan ajang doktrin senior pada yunior, yang kadang menyimpang dari pakem akademik). Sangat jarang mereka mengadakan kegiatan ilmiah, seperti ceramah ilmiah, kelompok ilmiah mahasiswa, karya tulis ilmiah, penelitian ilmiah, dan sumbangan ilmu yang ditekuni kepada masyarakat. Pandangan saya: Pertama, saya sebagai mahasiswa jaman sekarang hehehe...justru melihat bahwa animo mahasiswa untuk ikut kegiatan BEM dan HMJ itu meningkat drastis. Karena ikut BEM itu dianggap keren karena dekat dengan intrik politik hehe... Kedua, ketika pertama kali saya datang di Bangkok, hal yang sangat-sangat saya herankan adalah kegiatan mahasiswa di sini itu sungguh-sungguh tidak "sedewasa" mahasiswa kita. Jarang sekali mahasiswa di sini berbicara masalah politik, bahkan ikut ontra-ontra politik di negaranya. Kecuali memang mahasiswa ilmu pemerintahan dan politik, atau sosial. Kegiatan BEM mahasiswa sini yang ada ya hanya sekedar bersifat menghibur dan berkaitan dengan kegiatan akademik saja. Begitu pula hasil sharing kawan-kawan saya yang ngluru ilmu di negara lain, sama sekali berbeda dengan keadaan yang ada di Indonesia. Intinya, saya hanya ingin menyampaikan bahwa pada intinya mahasiswa kita itu tidak fokus dalam dunianya sendiri. Andaikan mahasiswa-mahasiswa ini fokus, tentu kita akan melahirkan ilmuwan, politisi, birokrat yang tidak setengah hati. Keilmuannya akan bermanfaat sesuai dengan karier yang sedang ditempuhnya. Padahal rasul kita Muhammad SAW, telah mengajarkan pada kita, bahwa apabila kita mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah dengan fokus dan sungguh-sungguh, apabila hanya dikerjakan dengan setengah hati, niscaya hasilnya pun akan setengah-setengah. Sedikit berkaca di almamater saya, di kampus biru, Jogjakarta. Rektor UGM telah menolak untuk mengesahkan susunan kabinet BEM KM UGM yang terbaru, hal ini di karenakan Presiden Mahasiswa yang terpilih, hanya memiliki IPK Nasakom (Nasib satu koma). Dengan terang-terangan Rektor mengungkapkan bahwa sang Presiden Mahasiswa terpilih tidak layak untuk memimpin ribuan mahasiswa di kampus biru yang terkenal dengan tradisi intelektualnya. Saya melihat bahwa langkah Rektor ini sebuah kemajuan, bukan berarti menciderai proses demokrasi kampus, namun beliau ingin menunjukkan kepedulian bahwa menjadi pemimpin pun tidak lantas melupakan keilmuannya. Sehingga kelak akan menjadi contoh bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berpikir dan bekerja sepenuh hati. Salam, Ery Wijaya http://erywijaya. wordpress. com/ http://energyplanni ng.wordpress. com From: muhamad kundarto <mask...@yahoo. com> To: milist alumni <up...@yahoogroups. com>; alumni faperta <lintas_alumni_ fape...@yahoogro ups.com>; tanah_upnvy@ yahoogroups. com; ilmu tanah <ilmuta...@yahoogrou ps.com>; milist dosen UPN <dosen_upnjogja@ yahoogroups. com>; milist pty <forum_...@yahoogrou ps.com>; curhat curhat <cur...@yahoogroups. com>; cnhm sc <cnhm...@yahoogroups .com>; Didin Sastrapradja <dinko...@indo. net.id>; sri hudyastuti <[email protected]. id>; Dani Lukman <daniju...@yahoo. com>; Eni Maftu'ah <eni_balittra@ yahoo.com>; mujiyo <mujiyo...@yahoo. com>; ninuk <ninu...@yahoo. com>; riyo <riyo...@yahoo. com>; rabiatul jannah <rabiatul.jannah@ yahoo.com>; Dewi Suryaningsih <miu...@yahoo. co.id>; prince.fox <takemysoulaway@ gmail.com>; diklat presentasi ainun <okusan_ainun@ hotmail.com>; diklat presentasi kiki bgr <ga_bisa_akur_ ama_fisika@ yahoo.com>; diklat presentasi kiyo sumsel <inik...@yahoo. com>; diklat presentasi silvia <vicya_a...@yahoo. co.id>; diklat presentasi tika gede <bluezy_cute@ yahoo.co. id>; diklat presentasi tika mgl <emerald.zone@ yahoo.co. id>; diklat presentasi wawan <arjuna_wawan@ yahoo.com>; diklat presentasi yuli klaten <yuliani.kurniasari@ yahoo.com>; diklat presentasi yuwan komunikasi <yuwan_y...@yahoo. co.id>; avie kusnadi <aviekusnadi@ yahoo.com>; endah bappeda <endtri...@yahoo. co.id>; tatok perhutani <tatok_s...@yahoo. co.id>; aceng hidayat <a.hida...@gmail. com>; agus langgeng 81 <langgen...@yahoo. co.id>; olive harjo <oliph....@gmail. com>; Mustofa Espos <tofa_es...@yahoo. co.id>; wartawan KR <agus_suwarto28@ yahoo.com>; agus planologi <aguspl...@plasa. com>; p5 undip <p5_un...@yahoo. com>; Arie Budiman <arie_...@yahoo. com>; bintari bintari <bintari.foundation@ yahoo.co. id>; budihartono uni <boedhihartono@ yahoo.com>; corsec.smd <corsec....@sumalind o.com>; claud claud <diol_de...@yahoo. com>; rori channel <rori_channel@ yahoogroups. com>; denny indrajaya <denny_...@yahoo. com>; rizal dr <rizal_upnyk@ yahoo.com>; lukito hasta <lha...@yahoo. com>; yuli irianto <muhammad_yuli. iria...@syngenta .com>; joko sulistianto <jk.sulistianto@ gmail.com>; dyah lucitasari <dlucitasari@ yahoo.co. id>; lingkungan upn <pstl_up...@yahoo. com>; milist alumni <fp_up...@yahoogroup s.com>; Nursanti Widi Arimbi <nw_ari...@yahoo. com>; eri triharso <e...@wilsonwalton. co.id>; enny Bu smg <enny.purwati@ gmail.com>; kendal online <kendal-online@ yahoogroups. com>; pipit kusuma <pipit_kusuma@ yahoo.com>; Arris R Riskiawan <arris.riskiawan@ aramco.com>; wahyu marjaka <wahyu_marjaka@ menlh.go. id>; berdy suphel <suphel2...@yahoo. com>; harry tirto <harry_tirto@ yahoo.com. sg>; IA-UPNVY Pengurus Pusat <pp_iaup...@yahoo. co.id> Sent: Wed, 30 June, 2010 7:41:40 Subject: [kendal-online] Masalah MENTAL pada lulusan terkini Sejauh pengamatan yang subyektif selama sepuluh tahun terakhir ini, didukung oleh keluhan beberapa user yang mengatakan bahwa kualitas lulusan sarjana semakin menurun, saya jadi tergelitik untuk mencari sebab musababnya. Siapa tahu kupasan artikel ini bisa menjadi pijakan baru dalam memperbaiki kualitas lulusan sarjana. Entah ada kesepakatan darimana, ataukah karena tuntutan persyarakat akreditasi, maka waktu tempuh para sarjana dalam sepuluh tahun terakhir ini relatif cepat, rata-rata 4-5 tahun. Bahkan ada yang lebih cepat dari itu. Sementara itu lulusan jaman sebelumnya sekitar 6-7 tahun. Sistem saat ini lebih mendorong mahasiswa hanya fokus pada perkuliahan dan praktikum saja. Kegiatan ekstrakurikuler semacam di HMJ, BEM, UKM dan kegiatan keorganisasian di luar kampus mengalami penurunan tajam dalam jumlah peminat. Padahal dalam kegiatan inilah pengalaman, mental dan jiwa kepemimpinan diraih. Akhirnya ketika lulus hanya bermodalkan ijazah dan transkrip nilai, tetapi sangat minim pengalaman kerja, bermental kurang bagus dalam tekanan lingkungan yang kurang kondusif, dan kurang mempunyai jiwa kepemimpinan. Berikutnya, ada kecenderungan pemberian nilai dari dosen semakin murah. Jarang sekali ditemukan dosen memberikan nilai D dan E, yang dulu sudah biasa diterima oleh para mahasiswa. Sehingga dulu mempunyai IPK > 3 itu sudah sangat luar biasa dan mungkin perlu beberapa tahun untuk mengulang beberapa matakuliah yang jeblok nilainya. Beda dengan sekarang dimana IPK > 3,5 sangat mudah ditemukan. Bahkan banyak yang mendapat predikat cumlaude. Bermodal IPK tinggi tidaklah cukup untuk penempatan di daerah pedalaman yang jauh dari keramaian kota. Tak jarang para sarjana baru ini sering bertanya ke HRD yang mewawancarai mereka, "di sana ada sinyal hand phone, gak?". Sungguh pertanyaan yang mengarah ketidaksiapan dalam suasana lingkungan yang jauh dari keramaian. Berikutnya lagi, kegiatan mahasiswa, khususnya BEM dan HMJ telah bergeser dari kajian ilmiah sesuai bidang ilmunya ke arah kegiatan politik praktis. Tak jarang program kerjanya hanya seputar pemilu raya (pemilihan ketua baru), OSPEK (orientasi kampus untuk mahasiswa baru) dan makrab (malam keakraban, tapi sering dijadikan ajang doktrin senior pada yunior, yang kadang menyimpang dari pakem akademik). Sangat jarang mereka mengadakan kegiatan ilmiah, seperti ceramah ilmiah, kelompok ilmiah mahasiswa, karya tulis ilmiah, penelitian ilmiah, dan sumbangan ilmu yang ditekuni kepada masyarakat. Karena terbiasa berpolitik, maka wajar jika akhirnya melahirkan pada politikus baru, dimana mereka banyak yang terjun ke dunia politik kepartaian, dan sering kehilangan ilmu sesuai jurusan masing-masing. Latihan berpolitik terjun ke dunia politik itu pas. Tapi ketika terjun ke dunia kerja perkantoran atau perkebunan, akan mengalami masalah karena iklimnya jauh berbeda. Jangan sampai malah memicu gerakan politik di dunia kerja. Dan politikus terbiasa bermain diantara orang-orang, jadi jelas tidak siap untuk terjun di kesunyian (baca : perkebunan, lokasi terpencil, dll.) Argumen terakhir, para mahasiswa sekarang sangat termanjakan oleh fasilitas teknologi dalam kehidupannya. Sering saya berseloroh ke mereka "anda boleh betah pisah seminggu dengan pacar, tapi gak akan betah pisah satu hari dengan hand phone anda!". Yah, fasilitas teknologi seperti hand phone, laptop, internet (facebook, email, dll), dugem (dunia gemerlap : mall, diskotik, cafe, dll), TV, dan motor; yang didukung oleh suasana kota yang serba ada untuk memenuhi kebutuhan hidup. Belum lagi kiriman bulanan dari orangtua cenderung bisa jajan dimana-mana. Beberapa mahasiswa yang aku tanya memberikan info bahwa kiriman bulanan berkisar 1-2 juta per bulan (kebayang gak sich, ortu yg punya 4 anak kuliah semua, per bulan harus setor 4-8 jt, tentu mereka bukan level PNS umumnya atau petani hehe). Para mahasiswa dulu sudah biasa makan dengan memasak sendiri berlauk mie instan. Sekarang untuk makan 3x sehari bisa berada di warung yang berbeda, bak wisatawan kuliner. Sekali lagi, argumen di atas sifatnya subyektif, karena tidak didukung oleh survey kuisioner, maka bisa saja salah. Tetapi saya berani berpendapat bahwa tulisan ini mengandung kebenaran 80%. Artinya, ada juga lulusan saat ini yang ber-IPK bagus, mental bagus, tahan banting dan mempunyai jiwa leadership tinggi, tetapi jumlahnya tidak lebih dari 20% lulusan. Semoga tulisan ini menginspirasi para pendidik, anak didik dan orangtua. Jaman memang berubah, tapi jangan sampai perubahan itu malah menurunkan kualitas generasi penerus dalam menyongsong tantangan ke masa depan. Tulisan ini terbuka untuk didiskusikan. Mohon koreksi dan saran. Ki Asmoro Jiwo

