Saya tergelitik dengan analisa Pak Kun berikut ini:
Sistem saat ini lebih mendorong mahasiswa hanya fokus pada perkuliahan 
dan praktikum saja. Kegiatan ekstrakurikuler semacam di HMJ, BEM, UKM 
dan kegiatan keorganisasian di luar kampus mengalami penurunan tajam 
dalam jumlah peminat. Padahal dalam kegiatan inilah pengalaman, mental 
dan jiwa kepemimpinan diraih. Akhirnya ketika lulus hanya bermodalkan 
ijazah dan transkrip nilai, tetapi sangat minim pengalaman kerja, 
bermental kurang bagus dalam tekanan lingkungan yang kurang kondusif, 
dan kurang mempunyai jiwa kepemimpinan


dan
Berikutnya lagi, kegiatan mahasiswa, khususnya BEM dan HMJ telah 
bergeser dari kajian ilmiah sesuai bidang ilmunya ke arah kegiatan 
politik praktis. Tak jarang program kerjanya hanya seputar pemilu raya 
(pemilihan ketua baru), OSPEK (orientasi kampus untuk mahasiswa baru) 
dan makrab (malam keakraban, tapi sering dijadikan ajang doktrin senior 
pada yunior, yang kadang menyimpang dari pakem akademik). Sangat jarang 
mereka mengadakan kegiatan ilmiah, seperti ceramah ilmiah, kelompok 
ilmiah mahasiswa, karya tulis ilmiah, penelitian ilmiah, dan sumbangan 
ilmu yang ditekuni kepada masyarakat.  

Pandangan saya:
Pertama, saya sebagai mahasiswa jaman sekarang hehehe...justru melihat bahwa 
animo mahasiswa untuk ikut kegiatan BEM dan HMJ itu meningkat drastis. Karena 
ikut BEM itu dianggap keren karena dekat dengan intrik politik hehe...

Kedua, ketika pertama kali saya datang di Bangkok, hal yang sangat-sangat saya 
herankan adalah kegiatan mahasiswa di sini itu sungguh-sungguh tidak "sedewasa" 
mahasiswa kita. Jarang sekali mahasiswa di sini berbicara masalah politik, 
bahkan ikut ontra-ontra politik di negaranya. Kecuali memang mahasiswa ilmu 
pemerintahan dan politik, atau sosial. Kegiatan BEM mahasiswa sini yang ada ya 
hanya sekedar bersifat menghibur dan berkaitan dengan kegiatan akademik saja. 
Begitu pula hasil sharing kawan-kawan saya yang ngluru ilmu di negara lain, 
sama sekali berbeda dengan keadaan yang ada di Indonesia. 

Intinya, saya hanya ingin menyampaikan bahwa pada intinya mahasiswa kita itu 
tidak fokus dalam dunianya sendiri. Andaikan mahasiswa-mahasiswa ini fokus, 
tentu kita akan melahirkan ilmuwan, politisi, birokrat yang tidak setengah 
hati. Keilmuannya akan bermanfaat sesuai dengan karier yang sedang ditempuhnya. 
Padahal rasul kita Muhammad SAW, telah mengajarkan pada kita, bahwa apabila 
kita mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah dengan fokus dan sungguh-sungguh, 
apabila hanya dikerjakan dengan setengah hati, niscaya hasilnya pun akan 
setengah-setengah. 

Sedikit berkaca di almamater saya, di kampus biru, Jogjakarta. Rektor UGM telah 
menolak untuk mengesahkan susunan kabinet BEM KM UGM yang terbaru, hal ini di 
karenakan Presiden Mahasiswa yang terpilih, hanya memiliki IPK Nasakom (Nasib 
satu koma). Dengan terang-terangan Rektor mengungkapkan bahwa sang Presiden 
Mahasiswa terpilih tidak layak untuk memimpin ribuan mahasiswa di kampus biru 
yang terkenal dengan tradisi intelektualnya. Saya melihat bahwa langkah Rektor 
ini sebuah kemajuan, bukan berarti menciderai proses demokrasi kampus, namun 
beliau ingin menunjukkan kepedulian bahwa menjadi pemimpin pun tidak lantas 
melupakan keilmuannya. Sehingga kelak akan menjadi contoh bahwa pemimpin yang 
baik adalah pemimpin yang berpikir dan bekerja sepenuh hati. 

Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/
http://energyplanning.wordpress.com 







________________________________
From: muhamad kundarto <[email protected]>
To: milist alumni <[email protected]>; alumni faperta 
<[email protected]>; [email protected]; ilmu 
tanah <[email protected]>; milist dosen UPN 
<[email protected]>; milist pty <[email protected]>; 
curhat curhat <[email protected]>; cnhm sc <[email protected]>; 
Didin Sastrapradja <[email protected]>; sri hudyastuti <[email protected]>; 
Dani Lukman <[email protected]>; Eni Maftu'ah <[email protected]>; 
mujiyo <[email protected]>; ninuk <[email protected]>; riyo 
<[email protected]>; rabiatul jannah <[email protected]>; Dewi 
Suryaningsih <[email protected]>; prince.fox <[email protected]>; 
diklat presentasi ainun <[email protected]>; diklat presentasi kiki bgr 
<[email protected]>; diklat presentasi kiyo sumsel 
<[email protected]>; diklat presentasi silvia <[email protected]>; diklat 
presentasi tika gede <[email protected]>;
 diklat presentasi tika mgl <[email protected]>; diklat presentasi wawan 
<[email protected]>; diklat presentasi yuli klaten 
<[email protected]>; diklat presentasi yuwan komunikasi 
<[email protected]>; avie kusnadi <[email protected]>; endah bappeda 
<[email protected]>; tatok perhutani <[email protected]>; aceng 
hidayat <[email protected]>; agus langgeng 81 <[email protected]>; olive 
harjo <[email protected]>; Mustofa Espos <[email protected]>; wartawan 
KR <[email protected]>; agus planologi <[email protected]>; p5 undip 
<[email protected]>; Arie Budiman <[email protected]>; bintari bintari 
<[email protected]>; budihartono uni <[email protected]>; 
corsec.smd <[email protected]>; claud claud <[email protected]>; rori 
channel <[email protected]>; denny indrajaya <[email protected]>; 
rizal dr <[email protected]>; lukito hasta <[email protected]>;
 yuli irianto <[email protected]>; joko sulistianto 
<[email protected]>; dyah lucitasari <[email protected]>; 
lingkungan upn <[email protected]>; milist alumni 
<[email protected]>; Nursanti Widi Arimbi <[email protected]>; eri 
triharso <[email protected]>; enny Bu smg <[email protected]>; 
kendal online <[email protected]>; pipit kusuma 
<[email protected]>; Arris R Riskiawan <[email protected]>; wahyu 
marjaka <[email protected]>; berdy suphel <[email protected]>; harry 
tirto <[email protected]>; IA-UPNVY Pengurus Pusat 
<[email protected]>
Sent: Wed, 30 June, 2010 7:41:40
Subject: [kendal-online] Masalah MENTAL pada lulusan terkini

  
Sejauh pengamatan yang subyektif selama sepuluh tahun terakhir ini, didukung 
oleh keluhan beberapa user yang mengatakan bahwa kualitas lulusan sarjana 
semakin menurun, saya jadi tergelitik untuk mencari sebab musababnya. Siapa 
tahu kupasan artikel ini bisa menjadi pijakan baru dalam memperbaiki kualitas 
lulusan sarjana. 
  
Entah ada kesepakatan darimana, ataukah karena tuntutan persyarakat akreditasi, 
maka waktu tempuh para sarjana dalam sepuluh tahun terakhir ini relatif cepat, 
rata-rata 4-5 tahun. Bahkan ada yang lebih cepat dari itu. Sementara itu 
lulusan jaman sebelumnya sekitar 6-7 tahun. 
Sistem saat ini lebih mendorong mahasiswa hanya fokus pada perkuliahan dan 
praktikum saja. Kegiatan ekstrakurikuler semacam di HMJ, BEM, UKM dan kegiatan 
keorganisasian di luar kampus mengalami penurunan tajam dalam jumlah peminat. 
Padahal dalam kegiatan inilah pengalaman, mental dan jiwa kepemimpinan diraih. 
Akhirnya ketika lulus hanya bermodalkan ijazah dan transkrip nilai, tetapi 
sangat minim pengalaman kerja, bermental kurang bagus dalam tekanan lingkungan 
yang kurang kondusif, dan kurang mempunyai jiwa kepemimpinan. 
  
Berikutnya, ada kecenderungan pemberian nilai dari dosen semakin murah. Jarang 
sekali ditemukan dosen memberikan nilai D dan E, yang dulu sudah biasa diterima 
oleh para mahasiswa. Sehingga dulu mempunyai IPK > 3 itu sudah sangat luar 
biasa dan mungkin perlu beberapa tahun untuk mengulang beberapa matakuliah yang 
jeblok nilainya. Beda dengan sekarang dimana IPK > 3,5 sangat mudah ditemukan. 
Bahkan banyak yang mendapat predikat cumlaude. 
Bermodal IPK tinggi tidaklah cukup untuk penempatan di daerah pedalaman yang 
jauh dari keramaian kota. Tak jarang para sarjana baru ini sering bertanya ke 
HRD yang mewawancarai mereka, "di sana ada sinyal hand phone, gak?". Sungguh 
pertanyaan yang mengarah ketidaksiapan dalam suasana lingkungan yang jauh dari 
keramaian. 
  
Berikutnya lagi, kegiatan mahasiswa, khususnya BEM dan HMJ telah bergeser dari 
kajian ilmiah sesuai bidang ilmunya ke arah kegiatan politik praktis. Tak 
jarang program kerjanya hanya seputar pemilu raya (pemilihan ketua baru), OSPEK 
(orientasi kampus untuk mahasiswa baru) dan makrab (malam keakraban, tapi 
sering dijadikan ajang doktrin senior pada yunior, yang kadang menyimpang dari 
pakem akademik). Sangat jarang mereka mengadakan kegiatan ilmiah, seperti 
ceramah ilmiah, kelompok ilmiah mahasiswa, karya tulis ilmiah, penelitian 
ilmiah, dan sumbangan ilmu yang ditekuni kepada masyarakat. 
Karena terbiasa berpolitik, maka wajar jika akhirnya melahirkan pada politikus 
baru, dimana mereka banyak yang terjun ke dunia politik kepartaian, dan sering 
kehilangan ilmu sesuai jurusan masing-masing. 
Latihan berpolitik terjun ke dunia politik itu pas. Tapi ketika terjun ke dunia 
kerja perkantoran atau perkebunan, akan mengalami masalah karena iklimnya jauh 
berbeda. Jangan sampai malah memicu gerakan politik di dunia kerja. Dan 
politikus terbiasa bermain diantara orang-orang, jadi jelas tidak siap untuk 
terjun di kesunyian (baca : perkebunan, lokasi terpencil, dll.) 
  
Argumen terakhir, para mahasiswa sekarang sangat termanjakan oleh fasilitas 
teknologi dalam kehidupannya. Sering saya berseloroh ke mereka "anda boleh 
betah pisah seminggu dengan pacar, tapi gak akan betah pisah satu hari dengan 
hand phone anda!". 
Yah, fasilitas teknologi seperti hand phone, laptop, internet (facebook, email, 
dll), dugem (dunia gemerlap : mall, diskotik, cafe, dll), TV, dan motor; yang 
didukung oleh suasana kota yang serba ada untuk memenuhi kebutuhan hidup. 
Belum lagi kiriman bulanan dari orangtua cenderung bisa jajan dimana-mana. 
Beberapa mahasiswa yang aku tanya memberikan info bahwa kiriman bulanan 
berkisar 1-2 juta per bulan (kebayang gak sich, ortu yg punya 4 anak kuliah 
semua, per bulan harus setor 4-8 jt, tentu mereka bukan level PNS umumnya atau 
petani hehe). Para mahasiswa dulu sudah biasa makan dengan memasak sendiri 
berlauk mie instan. Sekarang untuk makan 3x sehari bisa berada di warung yang 
berbeda, bak wisatawan kuliner. 
  
Sekali lagi, argumen di atas sifatnya subyektif, karena tidak didukung oleh 
survey kuisioner, maka bisa saja salah. Tetapi saya berani berpendapat bahwa 
tulisan ini mengandung kebenaran 80%. Artinya, ada juga lulusan saat ini yang 
ber-IPK bagus, mental bagus, tahan banting dan mempunyai jiwa leadership 
tinggi, tetapi jumlahnya tidak lebih dari 20% lulusan. 
  
Semoga tulisan ini menginspirasi para pendidik, anak didik dan orangtua. 
Jaman memang berubah, tapi jangan sampai perubahan itu malah menurunkan 
kualitas generasi penerus dalam menyongsong tantangan ke masa depan. 
  
Tulisan ini terbuka untuk didiskusikan. 
Mohon koreksi dan saran. 
  
  
Ki Asmoro Jiwo 

 


      

Kirim email ke