Ikut nimbrung ya...

Kalo kita bicara rezim HAKI, ini topik yg terlalu luas utk dipersempit dalam
batas-batas regional Indonesia-Malaysia. HAKI adalah kepentingan dunia barat
(baca: negara2 maju) utk memproteksi teknologi mereka dari "bajakan"
negara berkembang dan sekaligus "mencuri" kekayaan intelektual negara
berkembang. Ribuan kekayaan intelektual dan budaya negara2 berkembang (ini
tidak hipebolis) telah terang2an diambil oleh negara maju utk kemudian
mereka pasarkan kembali ke seluruh dunia, termasuk kepada negara2 berkembang
dh harga berlipat. Ambil contoh sudah berapa byk obatan2 tradisional kita yg
diambil oleh negara2 maju? Dan ini tidak hanya terjadi di negara kita, tp
juga di afrika dan amerika latin. Dan tidak ada satupun kompensasi yg
diterima oleh negara2 berkembang sbg sumber kekayaan intelektual tsb
berasal. Kita juga sudah mendengar--bahkan berkali2--pengrajin bali gagal
memasarkan dan bahkan dituntut krn menjual produk hasil kreasinya oleh
karena pengusaha amerika telah mematenkannya terlebih dahulu. Kasus2 serupa
juga terjadi bagi org2 aborigin di Australia.

Akan sangat sulit memasukkan kebudayaan ke dalam rezim HAKI. Kebudayaan dan
kekayaan intelektual tradisional hanya akan diakui oleh lembaga2 kebudayaan
semacam UNESCO. Tp tidak oleh WTO dg TRIPS nya. Padahal, rezim HAKI
diciptakan oleh WTO; bukan UNESCO.

Malaysia (atau mungkin juga Indonesia) boleh saja memanfaatkan polemik HAKI
yg tak kunjung usai. Memanfaatkan tidak terlindunginya kebudayaan bangsa2
serumpun. Tp setidaknya tindakan preventif bisa kita lakukan. Pertama, coba
kenali budaya sendiri; paling tidak budaya setempat. Kedua, mengusahakan
pendaftarannya ke otoritas terkait. Ketiga, Indonesia harus memiliki data
base hasil kebudayaan bangsa. Keempat, mengusahakan pendaftarannya ke
lembaga pelestarian budaya internasional. Secara hukum, bisa saja upaya ini
masih terhitung lemah. Tp setidaknya ini sangat membantu guna pengakuan
dunia terhadap budaya bangsa.

On 12/12/08, elanto wijoyono <[email protected]> wrote:
>
> dialog antar budaya tampaknya sangat perlu ya...
>
> Aku sendiri capek kalo mau selalu tuding-tudingan antara mana yang lebih
> baik dan mana yang lebih benar. Nda akan selesai deh.. ^^
> Sudahlah.. ada banyak hal penting yang bisa dikerjakan, bahkan bisa pula
> dikerjakan bareng dengan temen2 kita di Malaysia utk membangun peradaban yg
> lbh baik.
>
> Lebih baik milis kita ini digunakan untuk mencari solusi dialog budaya yang
> lebih membangun, baik antar daerah maupun antar negara. Kesalahan-kesalahan
> memang akan selalu ada dan terjadi. Pertangungjawaban (atas kesalahan) juga
> memang akan bisa dituntutkan.
> Namun, ya itu tadi... itu semua ada tempatnya dan ada proporsinya sejauh
> mana dan sedalam apa akan terus dibahas. Lebih baik mendiskusikan bagaimana
> membangun solusi drpd sibuk mencari kesalahan, baik di diri kita maupun di
> diri pihak lain, yg tak akan kunjung habis.
>
> Aku coba mulai dengan sedikit usul solusi...
> Salah satu solusi membangun pemahaman budaya yang membangun (baca: baik)
> dengan dialog antar budaya bisa dimulai dengan tidak menggunakan
> kekurangan-kekurangan kita dan mereka sebagai sumber keluhan, yang akan
> saling dipertentangkan.
>
> Usul kedua...
> Soal klaim atas hak kekayaan intelektual dan termasuk hak atas kekayaan
> budaya... ini adalah diskusi mengenai rezim yang semestiya memiliki ruang
> khusus yang terbuka. Kasus klaim mengklaim ini sebenarnya tidak hanya
> terjadi untuk kasus antara pihak Indonesia dan Malaysia saja. Ada banyak
> kasus atas rezim hak cipta yang terjadi atas peran banyak pihak di seluruh
> dunia. Korporasi multinasional tentu saja menjadi aktor paling berperan
> dalam urusan menyuburkan rezim ini.
> Aku sendiri tidak cukup suka dengan konsep hak cipta yg tertutup seperti
> itu. Justru lebih baik jika diskusi diarahkan pada bagaimana cara melawan
> ketertutupan rezim hak cipta, menjadi keterbukaan akses pembacaan dan
> pengembangan terhadap berbagai sumberdaya budaya. Keterbukaan yang dilandasi
> oleh kebebasan berekspresi, bukan yang dilandasi atas kekuatan modal dan
> politik semata.
>
> Anda boleh berbeda pendapat
>
> Salam,
>
>
> elanto wijoyono
>
> :)
>
> http://elantowow.wordpress.com
>
> --- On *Thu, 12/11/08, laura wikarma <[email protected]>* wrote:
>
> From: laura wikarma <[email protected]>
> Subject: Re: Bls: [HISTORIA-INDONESIA] Re:Keris milik Malaysia??
> To: [email protected]
> Date: Thursday, December 11, 2008, 8:49 PM
>
> memang malaysia itu tidak punya citra diri..mereka kebanyakan mau semuanya
> dimiliki..apa yg ngetren di negara lain,mereka jg mau pny..misalnya mereka
> sudah pny subway yg semua jurusan lewati,tapi dia liat di negara lain pny
> monorail..mereka jg ikut2an bikin monorail walaupun jurusannya lebih dikit
> dan kemungkinan jurusannya sama dgn subway..pikiran mereka yg penting
> pny..oh iya di kereta api mereka tidak ada pengamen/pengemisny a emang
> negara mereka lebih bersih dari kita..tiap tahun mereka mengadakan
> pengecekan karbondioksida terhadap motor/mobil. .jika melewati batas yg
> ditentukan mereka akan didenda dan tidak diperbolehkan beroperasi lagi
>
> bedanya negara kita itu tidak bisa keluar dari kehidupan lampau..misalnya
> kita mau maju dengan dibukanya jalur busway yg ampir semua jurusan ada..tapi
> bus yg lama ada tidak mau dikurangi..yang ada bukannya tambah indah tapi
> tambah semerawut..nurut ku,kita hrs pintar memilih utk membangun sarana
> umum mana yg lebih penting..pilih salah satu..krn mengingat jumlah penduduk
> kita semakin meningkat..sedangka n jalanan tidak berubah2..
> memang negara kita tdk bs bikin subway(kereta api bawah tanah) mengingat
> kota kita sering banjir..setidaknya belajar displin dan patuh peraturan yg
> ada..ikutin seperti negara lain,seiring jalan kita akan disorot negara lain
> jika negara kita lebih indah..
>
> tourist mana yg mau dtg ke negara yg kotor,saling serobotan,buang sampah
> sembarangan, meludah dimana.apakah itu padangan yg indah?apakah tourist akan
> datang kembali di negara seperti itu?
>
> kenapa malaysia bisa satu tingkat perekonomiannya diatas kita?krn mereka
> belajar displin&tertib.
> 1malaysia ringgit itu senilai 3.500. kapan kita bs diatas mereka?
>
> masih banyak negara kita yg perlu dirombak..
>
> ini nurut pengamatanku selama disana,kalian mgkn sudah tahu hal ini,aku
> tulis hny untuk memberitahukan jika ada yg blm tahu,kebiasaan mereka yaitu:
>
> 1.jika anda berdua(suami- istri/sesama teman) naik escalator tidak boleh
> berdampingan. .kita naik/turun selalu harus sebelah kiri,sebelah kanan hrs
> kosong gunanya utk org lain yg tergesa2 naik keatas/turun kebawah).jika bawa
> anak kecil,anak kecil yg diatas anda setelah itu baru anda
> 2.selama ada petunjuk dilarang merokok,dilarang makan/minum mereka tidak
> melanggarnya, kecuali anda lagi sakit batuk yg perlu minum,krn setiap sudut
> ada kamera yg merekam wajah yg lewat.jika melanggar akan dikenakan denda rm
> 500
> 3.jika sedang menunggu kereta api tidak boleh berdiri di tengah2 pintu krn
> itu utk org keluar(kita berdiri disisi paling kiri/kanan)
> 4.system bus mereka bayar dimuka dan mereka akan memberikan karcis satu
> persatu kesetiap org yg masuk..karcis itu bisa dipakai utk seharian kemana
> aja..tanpa bayar lagi..
> 5.konter beli karcis kereta api berupa mesin ATM kita tinggal pilih tujuan
> yg kita mau lalu masukan koin/uang kertas kedalamnya.. jk ada kembalian
> mesin itu akan mengeluarkan kembalikan kita.jadi kita bisa belajar tdk
> melecekan uang krn mesin tdk dpt terima uang lusuh
> 6.jika kita mau naik taxi kita hrs beli karcis dulu baru ngantri utk
> mendptkan taxi,
> 7.selama dijalan mereka jarang menggunakan klakson,jk keterlaluan baru
> menggunakan klakson.
> 8.mereka petunjuk jalan mereka menggunakan 3 bahasa:melayu,
> inggris,mandarin
>
> etnis mereka ada 3:melayu,india, dan china
>
> memang ada sisi buruknya juga dinegara malaysia..diskrimin asi itu masi
> ada..
>
>
>
> LAURENCIA
>
>
> ------------------------------
> *From:* tono dj <tono_dewadjie@ yahoo.com>
> *To:* komunitashistoria@ yahoogroups. com
> *Sent:* Thursday, December 11, 2008 7:49:45
> *Subject:* Bls: [HISTORIA-INDONESIA ] Re:Keris milik Malaysia??
>
> itulah munafiknya Malaysia, mengaku sebagai negara Islam (Konstitusi
> Malaysia Islam sebegaia agamanegara) tapi mencuri hampir semua karya budaya
> Indonesia.
> Dari Tari Kuda kepang/kuda lumping, Tari Piring. Tari Lilin, Barongan,
> Batik, Angklung, Keris.
>
> Keris asli budaya Jawa sejak abad 6, salah satu bukti di refile Candi
> borobudur asal relief proses membuatan keris. Ketika Zaman Keemasana
> Majapahit, budaya keris ini menyebar hampir keseluruh Nusantara.
>
> Kata Batik sendiri adalah asli bahasa Jawa : "ba ato mba" awalan dalam
> bahasa Jawa asli melakukan atao menulis titik-titik.
>
> saya lebih setuju tarik Dubes Indonesia, kita harus berani tegas, saat ini
> di Negara Bag Johor, Sultan Jihor memerintahan siaran Keroncong dan gamelan
> di Radio Johor non stop 24 jam 2x seminggu dikelola oleh Lembaga Warisan
> Johor.
>
> Nantinya orang akan lupa bhawa Keroncong karya lokal jenius Indonesia,
> speprti halnya orang lupa dan tidak tau bahwa Bunga Tulis asalnya dari
> Turki, saat ini orang lebih mengenal Belanda sebagai Negara Tulip
>
> ------------------------------
> *Dari:* respati adr sastrosoewignjo <reszzp...@yahoo. com>
> *Kepada:* komunitashistoria@ yahoogroups. com
> *Terkirim:* Kamis, 7 Agustus, 2008 22:03:01
> *Topik:* [HISTORIA-INDONESIA ] Re:Keris milik Malaysia??
>
> Hm, jadi inget setaun lalu pas rame2 klaim Malaysia atas batik, saya iseng
> browse batik malaysia. Harus diakui meski motif batik2 mereka jauh di bawah
> batik kita, cara mereka mempresentasikan batik sebagai 'kebudayaan mereka'
> terbilang PD.
> Ada satu situs http://www.bahasa- malaysia- simple-fun. com/batik-
> malaysia. 
> html<http://www.bahasa-malaysia-simple-fun.com/batik-malaysia.html>yang 
> menjelaskan kata batik berasal dari "Malay word for amba and titik".
>
> Saya kontak penulis; saya sampaikan bahwa penggunaan kata 'Malay' di situ
> tidaklah tepat. Mungkin 'Malay' yang dimaksud penulis adalah 'Melayu'
> (sehingga batik dapat dianggap kebudayaan umum bangsa2 melayu). Namun
> penggunaan kata tersebut akan menimbulkan kesan seolah kerajinan tersebut
> berasal dari Malaysia. Padahal, kata2 tersebut berasal dari bahasa Jawa.
> Hm...tampaknya sudah diralat...
>
> Dari artikel yang ditulis soal keris, penggunaan kata Malay memang bisa
> 'menyesatkan' , antara Malaysia, atau Melayu (sebagai rumpun). Namun karena
> di artikel tersebut disebut 'Malay kingdom', tampak penulis memang merujuk
> pada Malaysia sebagai suatu bangsa. Kalau kingdoms (plural), masih bisa
> dimaklumi bahwa yang dimaksud adalah suatu rumpun bangsa di Asia Tenggara.
> However, istilah 'keris' berasal dari bahasa Jawa, yang artinya kurang lebih
> 'menusuk'.
>
> Bicara soal klaim negara tetangga atas hasil budaya kita, kerap dipakai
> argumen bahwa both nations share common culture and values, bisa saja mereka
> klaim ini - itu sebagai hasil budaya mereka (juga); menulis this
> craft/dance/ culture originated from Malay (memanfaatkan 'ambiguitas' kata
> 'Malay'), dan jurus-jurus lain. Namun saya pikir masih ada 'celah' lain
> untuk menguji apa klaim mereka benar atau tidak.
> Contoh, alat musik angklung. Mereka sempat mengklaim angklung sebagai milik
> mereka; tapi perhatikan: antara daerah Sunda (asal angklung) dan Malaysia
> dipisahkan oleh pulau Kalimantan: apakah alat musik tersebut dikenal juga di
> Kalimantan? Bahkan masyarakat Jawa Tengah yang paling dekat dengan mereka
> pun tidak memainkan alat musik ini. Apakah masyarakat Kalimantan memakai
> istilah 'beta' untuk kata ganti orang pertama?
>
>
>   Sebagai komunitas yang peduli warisan bangsa, perlu was-was saja atas
> apapun yang diklaim negara tetangga. Beberapa bulan lalu di Gatra ditulis
> bahwa beberapa oknum dari kalangan akademik Malaysia 'ketanggor' diam2
> memotret naskah kuno Sumatera. Mungkin dipikirnya, lantaran sama2 Malay yah,
> jadi setelah dikritik orang Indonesia rame2 atas kasus Rasa Sayange,
> angklung, batik, dsb,  budaya Melayu Sumatera paling memungkinkan untuk
> diklaim. Be aware.
>
> Anyway, ada link yang bikin saya lega, lantaran sempat baca situs yang
> nulis "wayang kulit berasal dari Malaysia". Perkara asal muasal keris,
> semoga link ini bisa membantu: http://www.unesco. org/culture/ ich/index.
> php?topic= 
> mp&cp=ID#TOC2<http://www.unesco.org/culture/ich/index.php?topic=mp&cp=ID#TOC2>
>
> cheers,
>
> respati
>
>
> ------------------------------
> Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru
> <http://sg.rd.yahoo.com/sg/messenger/maxwell/*http://id.messenger.yahoo.com/>Akhirnya
> datang juga!
>
> ------------------------------
> Get your preferred Email name!
> <http://sg.rd.yahoo.com/aa/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/>
> Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.
>
>
> 
>

Kirim email ke