Bung Gigih,
Aku tergelitik untuk memberi komentar soal ini. Terutama soal penyerahan
ketua DPRD ke TNI-POLRI.
Kok bisa begitu ya..., apa ini bukan politik dagang sapi...?
Lagi pula hal seperti ini tidak mendidik dengan cara yang benar,
dijalan-jalan rakyat(terutama mahasiswa) sudah berteriak agar TNI-POLRI
keluar dari parlemen dan agar mereka kembali menjadi profesional dibidang
mereka masing-masing.
Jadi kalo Mega malah menggandeng mereka, itu sama saja dengan tidak
mendengarkan aspirasi rakyat.
Sudah waktunya kita harus menyadarkan TNI-POLRI bahwa mereka sama saja
dengan profesi lain seperti dokter, insinyur atau pengacara, yang bukan
kelompok politik, padahal parlemen mustinya hanya untuk kalangan politisi,
kalaupun profesional mau diwakilkan, itu mustinya di tingkat MPR yang memang
memiliki wadah untuk utusan golongan.
Lalu soal anda bilang 'Rakyat PDIP sudah menerima',
Kok begitu...., mustinya begitu orang sudah menduduki kursi di parlemen dia
tidak lagi milik partainya tapi milik semua orang dan mewakili semua orang
dan harus mendengarkan aspirasi semua orang.
Kalau PDIP bersikap seperti yang anda bilang itu, apa dong bedanya dengan
rezim ORBA....?
----- Original Message -----
From: GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, September 22, 1999 6:20 PM
Subject: RE: [Kuli Tinta] MEREKA TAKUT ISLAM MENANG
>
>
> --- Andriecht <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Salam,
> >
> > Pendapat ente kurang tepat,.
> >
> > PDI-P itu memiliki sasaran jangka panjang,
> > Mereka sengaja mendukung TNI menjadi ketua DPRD
> > Jakaruta,
> > Saya pikir maksudnya adalah agar TNI dapat diajak
> > koalisi dalam pemilihan
> > presiden
>
>
> mengapa ketua DPRD DKI diserahkan ke TNI-POLRI, sudah
> dijelaskan oleh Megawati, dan sudah diutarakan melalui
> Roy B. Janis, Ketua DPD PDI Perjuangan DKI. Semua
> rakyat PDI Perjuangan sudah faham, tak jadi soal.
>
> >
> > Yah, semacam tujuan menghalalkan segala cara, lah
> > Atau istilah halusnya untuk memperoleh tujuan yang
> > jauh lebih besar, hal
> > yang "kecil"-pun dikorbankan,.
>
> Menghalalkan segala cara hanya pas untuk juga
> menghalalkan yang kotor dan haram, serta dilakukan
> tanpa etika yang dimaklumi. Memilih kawan seiring yang
> TNI-Polri jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan
> dibanding harus dengan pihak-pihak yang sampai saat
> ini masih juga belum jelas platformnya. Bahkan sudah
> membuat komunika Ciganjur dan Paso pun, tetap membuat
> ulah yang lain.
>
> Juga pengalaman dengan KPU, yang begitu nyebelin dan
> membuat gatal, ketika gurem-gurem yang tak jelas
> niatnya kerjanya cuma mengganggu saja. Sudah kecil,
> nyebelin lagi. ya 'buang' saja.
>
> >
> > Jadi, suara rakyat DKI yang telah memilih PDI-P
> > harus berlapang dada karena
> > taktik tsb bukan bermaksud untuk melecehkan
> > suara/kepercayaan yang telah
> > diberikan pada PDI-P,
>
> Rakyat PDI Perjuangan sudah berlapang dada. Kalau
> tidak pasti sampai hari ini masih ramai. Nyatanya
> tidak, kan?
>
> >
> > Yah hanya strategi politik saja,
> > Tapi sedih juga ya, karena sekali lagi, rakyat
> > menjadi kuda tunggangan
> > saja,.
> >
>
> Selamat sedih. Anda pasti bukan rakyat PDI Perjuangan
> yang tak merasa aneh dengan strategi yang sudah
> diambil oleh pimpinan-pimpinannya. Cuma, ngapain Anda
> sedih ? Gara-gara strategi PDI Perjuangan itu lalu
> 'yang kecil terbuang' ?
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!