Guru (sisi yang lain lagi)
Membaca komen Yap dan Mbah Soel, perihal Guru, maka
komplitlah aku seputar bagaimana memahami profesi
(yang mestinya) luhur ini. Dia membawa tugas untuk
mempersiapkan anak-anak negeri ini agar mampu dan
lebih mudah mengunyah berbagai permasalahan yang
dihadapi bangsanya nanti, di suatu kelak, serta mampu
mengangan-angankan apa yang seharusnya bisa dilakukan
di masa depan, tak cuma 10-20 tahun di depannya saja,
tetapi juga ratusan tahunnya lagi.
Seperti sebuah bangunan yang besar, bagaimana pun,
harus dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana.
Siapa menyangka, kalau mesin-mesin pabrik itu dengan
berbagai perubahan dan penerapan kemampuan serta
angan-angan yang terjadi sebelum-sebelumnya itu bisa
menghasilkan sebuah burung besi yang enteng naik ke
udara. Mempersiapkan benih-benih yang penting, sebisa
dan yang terjangkau, namun dengan visi gamblang ke
arah yang lebih cihuy, menata bata demi bata,
merekatkan masing-masing dalam sebuah rencana yang
utuh, dengan 'luluh' yang merupakan campuran dari
nasionalisme, keeratan berbangsa nan bersuku-suku,
yang dilandasi oleh keimanan terhadap Tuhan yang
menjadi 'imam' bagi seluruh mahluk di permukaan bumi
ini (dan lebih-lebih di negeri sendiri).
Dari uraian mbah Soel, dan dengan melihat apa yang
telah diperoleh oleh bangsa-bangsa lain, maka ada
beberapa hal yang kira-kira dapat dipandang dan
dipertimbangkan untuk menjadi sebuah bangsa yang
besar, yang antara lain proses pembekalan dasarnya
diemban oleh para guru.
Pertama. Bangsa itu memiliki sejarah yang amat panjang
dengan filsafat keagamaannya. Agama bagi mereka telah
menyatu dalam budaya dan kehidupannya. Sehingga setiap
gerak dan langkah mereka benar-benar merupakan
cerminan kepercayaan mereka atas para dewa, yang
direplikasikan di dalam bentangan kehidupan dunia
mereka. Padahal inti dari apa yang mereka lakukan itu
semata-mata adalah untuk menjaga keseimbangan, namun
hasilnya bukan main dahsyat.
Mereka menjadi sangat kuat, tabah, namun memiliki
semangat kuat untuk tak kenal menyerah, lebih-lebih
oleh deraan kehidupan. Karena landasan ketuhanannya
sudah sangat menjiwai, maka langkah yang mereka ambil
pun sangat positif. Jepang, Korea, Cina, Taiwan,
bahkan India, adalah beberapa contoh dari mereka yang
berkembang karena mampu mengejawantahkan ajaran-ajaran
ketuhanan mereka sehingga menciptakan budi luhur dalam
terapan kehidupan nyatanya.
Indonesia tidak memiliki jejak panjang untuk sesuatu
hal. Silih berganti. Baik soal-soal seputar
kerohaniannya, dan soal-soal lainnya. Sehingga tak
sempat meletakkan dasar-dasar yang kuat, karena mereka
yang baru (penguasa, agama, dll) membongkar apa-apa
yang ditanam sebelumnya. Pun ekonomi.
Kedua. Bangsa tersebut menyadari keanekaragamannya,
dan melihat masing-masing sebagai saudara, tetangga,
dan pribadi-pribadi yang memiliki kebanggaan dan
integritasnya masing-masing, sehingga semua pihak
harus siap-siap untuk menghormatinya. Ringkasnya,
penjunjungan yang amat tinggi terhadap HAM. Untuk itu,
mereka telah mempersiapkan diri dengan perangkat
aturan, undang-undang, dan segala macamnya yang lain,
untuk membuat keanekaragaman itu tak membuatnya
berbenturan, namun malah menjadi perekat yang saling
menjaga. Unsur penting untuk menjaga agar
keanekaragaman itu tak menjadi sebuah keretakan, maka
masing-masing tunduk kepada aturan yang sudah mereka
bakukan, dan menjaga konsistensi serta ketaatannya.
Konsisten, ketundukan dan kepatuhan terhadap aturan,
dalam sejarah yang amat panjang melahirkan kebiasaan
dalam membuat rencana-rencana yang siap dijaga bak
aturan-aturan itu sendiri, bahkan untuk rencana
berjangka panjang sekalipun. Tiap langkah yang mereka
lakukan tiap hari bukan saja menambah kokohnya
realisasi dari rencana itu sendiri, tetapi juga
menghasilkan penumbuhan wawasan-wawasan baru, sehingga
bukan saja rencana itu menjadi lebih besar dari
semula, tetapi juga lebih cepat tercapai. Hampir tak
ada yang namanya crash-program, yang lebih banyak
menghasilkan gesekan dibanding penempatan dasar-dasar
kokoh untuk mempersiapkan masa depan.
Apa sebenarnya kegagalan-kegagalan yang dilakukan oleh
sejarah masa lalu bangsa ini ?
Sejarah menunjukkan, bahwa keserakahan terhadap
kekuasaan, dan kekuasaan yang digunakan menumpuk
kekayaan pribadi dan keluarga yang amat dipaksakan
dengan segala cara, melalui berbagai pemanfaatan
kesempatan untuk melanggengkan kekuasaan, tanpa peduli
apakah itu cuma sekedar menginjak kepala orang lain,
yang kalau tak bisa diinjak mending dipenggal) atau
bahkan mengabaikan hak-hak orang lain yang mestinya
sama-sama memiliki hak atas apa yang tersedia di bumi
ini.
Contoh itu pun menular ke masyarakat yang lebih bawah,
karena melihat kenikmatan yang seperti di surga, yang
dinikmati oleh mereka-mereka yang ada di lapis atas
mereka. Meski cuma kecil-kecilan, pemanjaan terhadap
nafsu senantiasa dilakukan di sembarang tempat.
Ini melahirkan budaya instan, siap dalam sekejap,
tanpa memandang apakah mereka berdiri di atas landasan
yang cukup kuat dan keras, jangankan untuk menapak
tataran yang lebih tinggi, bahkan sekedar agar ia
tetap bertahan di posisinya itu. Sogok, entit-entitan,
beli gelar, ngathok kepada atasan, sibuk cari peluang
dari celah-celah yang masih tersisa atau justru yang
diciptakan.
Budaya hedonis ini, sayangnya, tak memandang siapa
mereka. Bahkan untuk sebuah profesi (yang mestinya)
sangat dihormati, guru. Guru bagi mereka sekedar
alternatif profesi, bukan sebagai panggilan jiwa dan
misi kerohaniannya. Guru tak lebih pekerjaan pengecer
dari setumpuk materi kurikulum, yang sudah diatur
kapan dikeluarkan, bak sebuah skenario sandiwara
belaka. Dan karena materi-materi itu toh bukan materi
yang dilanmdasi oleh jiwa pengabdian dan kerohanian,
maka orang pun cenderung menggampangkan profesi ini.
Siapa saja, asal memegang silabus pasti bisa berdiri
di depan kelas, mengajar.
Mengajar ? Ternyata tak jauh bedanya dengan sekedar
mengulang apa yang pernah diterimanya dulu, komplit
plek kalimat, koma dan titiknya. Lalu apa yang bisa
kita harapkan dari situasi mengsle seperti ini ?
Persoalan guru akhirnya bukan hanya sekedar membuat
siapa saja senang menjadi guru karena rangsangan
penghasilannya saja. Menjadi guru adalah bagian dari
memilih apa nasib bangsa ratusan tahun ke depan.
Mempersiapkan seorang guru tak cuma pintar ekonomi,
matematik, fisika, kimia, biologi, semata-mata, tetapi
juga bagaimana guru melihat sisi-sisi kerohanian,
ketuhanan, dan keseimbangan dalam kehidupan di dunia
ini.
Jika tak mulai sekarang, mungkin kita masih perlu
waktu ratusan tahun lagi, agar semua manusia di negeri
ini punya otak yang cukup padat terhadap
tanggungjawab, dan bukan berisi angin, yang mudah
disusupi oleh ide-ide gila, sesaat, dan instan.
Pada akhirnya profesi guru jadi tak ada bedanya dengan
profesi-profesi lain. Prosedur instan, dengan harapan
segera mengeruk kenikmatan duniawi, abaikan
unggah-ungguh dan ubarampe yang seharusnya menyertai
profesinya.
Mungkin masih banyak yang harus kita bicarakan,
renungkan, saling tukar gagasan, dan bukan
membodoh-bodohkannya.
Salam.
=====
Pakai HIKAM, siapa takut....?
Embat terus PDI-P, GD dan MW ....
Semua posting mesti dibikin belok ke PDI-P, GD dan MW sebagai biang keroknya ....
Logis ndak logis, jalan terus .....
Wong aku 'intelektual', kok .......
Begaya...Begaya...
Seolah-olah si 'dia'
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send online invitations with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!