ya deh, mau dianggap lambang plus juga boleh.

mangkenye pan gue tulis di paling bawah:
"sayang hanya sedikit yang mau dan mampu...."
dan mbak che termasuk yang mampu mengorek
lambang-lambang itu.

memang sejak dulu orang jawa (khususnya) itu
selalu salah menangkap lambang. diberi lambang
oleh gajahmada, "tan amukti pa-lapa" malah diartikan
tidak makan buah palapa.. hehehe....

diberi lambang oleh sultan dan sunan mataram yang
nggak berdaya dengan "beringin kurung" agar rakyat
sadar bahwa kedaulatan si pengayom tak lebih hanya
sebatas pagar imperialisme, malalah kurungan ringinnya
dikeramatin... haha. bahkan lebih tua lagi diberi lambang
candhi BUDHA-SHIWA di kampung KALASA... malah
pecah ke jawa timur menjadi Medang dan Koripan...
hayo? (diberi peringatan bahwa seiman itu se saudara,
malah gontok-gontokan kaya anak-anak kecil serumah...
heheee)

waktu nonton pagelaran wayang yang ditanggap oleh
raja, adipati, bupati... ki dalang melakukan suluk pambuka
dan menyindir raja dengan contoh-2 negara sejahtera,
malah ditinggal tidur. giliran perang-perangan... bangun
semua dan bertepuk tangan. ya sudah... hancur minah.
lambang-lambang menjadi legitimator "PERANG",
yang membentuk alur sejarah berbumbu mitologi.
bukan begitu?

hanya orang tidak bisa meniru lambang-lambang itu
individual. orang tidak bisa berlaku sebagai BIMA,
tanpa mencakup ke-empat saudaranya. negara tak
akan semakmur dan sebesar HASTINA tanpa hadirnya
BHISMA, VIKARNA, SENGKUNI, dan KEBUTAAN destarastra,
kibijakan VIDURA. tak bisa kurawa saja berperan.
Orang tak bisa berlaku seperti SEMAR tanpa hadirnya
BAMBANGAN dan anak-anak semar.

pagelaran SEDEPA tak akan terwujud tanpa hadirnya
TANGAN KI DALANG dan bertumpuknya wayang SIMPINGAN.
Tangan Ki Dalang tak akan menarik tanpa ada Gamelan
dan lengkingan PESINDEN serta berisiknya GEBYAK.
dan semua pagelaran itu tidak akan nampak indah tanpa
adanya latar belakang layar berwarna PUTIH. ibaratnya sebuah
file dokumen yang warna font-nya sama dengan back-ground-nya,
tak akan nampak, mbak. maka kenalilah latar belakang dari
setiap pesan fenomenik sebuah faktum, sekalipun hanya berupa
sebuah BINTIK HITAM. ibarat filsafat biduk, maka biduk itu hanya
menunjukkan kehadiran SAMUDRA.

itu lho mbak che, lambang-lambang yang mampu tak baca...

salam,

-----------------------------------------------------
Soelojo
moderator ML JOWO WOJOSETO
[EMAIL PROTECTED]
http://io.spaceports.com/~wojoseto/index.html
http://www.alladvantage.com/go.asp?refid=DTG850

----- Original Message -----
From: che <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, April 14, 2000 7:04 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain lagi)


Gimana to Embah ini, kok dianggap cuma lambang-lambang ? Kedua epos
itu sangat dihayati oleh orang Jawa. Cerita Ramayana, Rama Tambak
misalnya sebenarnya adalah kisah sukses Raja Erlangga yang
mensejahterakan rakyatnya karena membendung sungai brantas (namanya
porong, jadi nama kecamatan sekarang di selatan Surabaya). Agar
legitimasi kekuasaannya diakui oleh para brahmana, maka kisah sukses
dia ditempelkan di cerita Ramayana. Erlangga juga diwujudkan sebagai
Wisnu (bukan WAM) dewanya kaum tani, karena kesuksesan dia
memakmurkan masalah pangan. Arjunawiwaha, atau Bharatayuda karangan
Sedah dan Panuluh dipakai untuk legitimasi pertikaian antara Jenggala
dan Panjalu.

Punokawan Semar Gareng cs yang asli made in Jawa itu, sebenarnya
adalah usaha rakyat Jawa untuk masuk dalam lingkaran kekuasaan
raja-raja Jawa serta kekuasaan para brahmana, yang dimodelkan pakai
Mahabarata dan Ramayana. Hamengkubuwono juga mengambil kisah wayang
untuk mensahkan tindakannya saat mengkhianati Pangeran Diponegoro.
Soeharto yang suka sama Semar adalah contoh bagaimana orang mencoba
mensahkan tindakannya lewat cerita Mahabarata. Sekarang beberapa
kalangan ada yang bilang bahwa GD ibarat Semar, entah kentutnya,
entah omongannya.

Dulu jaman Belanda bila besluit(SK) jadi guru keluar, biasanya orang
yang bersangkutan selalu nanggap wayang Sumantri ngenger, yang
melambangkan perjalanan seorang rakyat biasa yang mengabdi pada
penguasa (Belanda), meski dalam pengabdiannya dia harus
menutup-nutupi/mengorbankan adiknya yang jelek (asal-usulnya)agar dia
sukses (kayak kisah Malin Kundang).

Apa itu cuma lambang saja ?

chevia

--- mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> bagiku, mbak che.. mahabarata hanya sekedar sajian
> lambang-lambang amalan dan "unduh-unduhan"-nya orang
> hidup. inti cerita itu hanya menunjukkan bahwa seseorang
> berjiwa besar yang sangat teguh dan setia pada sumpah
> dan kedudukannya, harus membayar segala-galanya untuk
> mencapai "hakikat maqomah"-nya. dia harus rela terpisah
> dari segala urusan dunia, termasuk ber-keturunan. dia pun
> harus rela menentukan sendiri saat "mati"-nya. (bayangkan
> kalau manusia faktual diberi kekuasaan menentukan saat
> matinya... hiiiiyyyy ngeriiiii...). keluhuran pandawa dan
> kejelekan kurawa hanyalah "kembang-kembang" cerita saja.
> kebijaksanaan semar dan kecerdikan kresna hanyalah
> ilustrasi, pembumian kekuatan dewa-dewa nuuun di khayangan
> antah berantah sana.
>
> yang penting adalah membaca lambang-lambang itulah. sayang
> hanya sedikit yang mau dan mampu....
>
> salam,
>
>
> ngesoel lagi


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send online invitations with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!














- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke