Benar Mbak Che.... , itu semua lambang.

Lambang yang akan menjadi cermin bagi kehidupan yang
akan dipilih oleh manusia. Mau benchmark ke Sengkuni
atau Durna silahkan, mau benchmark ke sumantri ya
silahkan. Semua telah tersedia tingal pilihan peran
yang mana akan kita lakonkan. seperti Ahmad Albar
mengatakan:"dunia ini, panggung sandiwara ....,
ceritanya mudah berubah..)"

Namun, kalimat ini:  "Cerita Ramayana, Rama Tambak
misalnya sebenarnya adalah kisah sukses Raja Erlangga
yang
mensejahterakan rakyatnya karena membendung sungai
brantas (namanya porong, jadi nama kecamatan sekarang
di selatan Surabaya)" sungguh menambah pengetahuan saya
mengingat di milis seberang ada yang sibuk membahas
situs-situs dalam cerita Mahabarata dan Bharatayuda di
negara asalnya dan bukan di sungai Brantas. Yang pasti
satu wanita dengan suami 5 merupakan salah satu sisa
peradaban disana. Saya nggak tahu ya, atau karena
diperlambangi oleh peradaban itu maka di Wates baru
saja terjadi anak SMP melayani 6 temannya dalam semalam
di Parangtritis dan paginya langsung sekolah dengan
leher berlepotan.

Mbak Che, tulisan mengenai Porong itu sebuah
Gathukologi atau Memperologi atau sebuah analisis yang
memiliki dukungan literatur? Padahal tujuan pembentukan
bendungan antara Rama dengan Erlangga berbeda. Rama
membendung laut untuk membebaskan Istrinya sedang
Elangga membendung sungai brantas untuk mensejahterakan
dirinya.

��

----- Original Message -----
From: che <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, April 14, 2000 5:04 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain lagi)


Gimana to Embah ini, kok dianggap cuma lambang-lambang
? Kedua epos
itu sangat dihayati oleh orang Jawa. Cerita Ramayana,
Rama Tambak
misalnya sebenarnya adalah kisah sukses Raja Erlangga
yang
mensejahterakan rakyatnya karena membendung sungai
brantas (namanya
porong, jadi nama kecamatan sekarang di selatan
Surabaya). Agar
legitimasi kekuasaannya diakui oleh para brahmana, maka
kisah sukses
dia ditempelkan di cerita Ramayana. Erlangga juga
diwujudkan sebagai
Wisnu (bukan WAM) dewanya kaum tani, karena kesuksesan
dia
memakmurkan masalah pangan. Arjunawiwaha, atau
Bharatayuda karangan
Sedah dan Panuluh dipakai untuk legitimasi pertikaian
antara Jenggala
dan Panjalu.

Punokawan Semar Gareng cs yang asli made in Jawa itu,
sebenarnya
adalah usaha rakyat Jawa untuk masuk dalam lingkaran
kekuasaan
raja-raja Jawa serta kekuasaan para brahmana, yang
dimodelkan pakai
Mahabarata dan Ramayana. Hamengkubuwono juga mengambil
kisah wayang
untuk mensahkan tindakannya saat mengkhianati Pangeran
Diponegoro.
Soeharto yang suka sama Semar adalah contoh bagaimana
orang mencoba
mensahkan tindakannya lewat cerita Mahabarata. Sekarang
beberapa
kalangan ada yang bilang bahwa GD ibarat Semar, entah
kentutnya,
entah omongannya.

Dulu jaman Belanda bila besluit(SK) jadi guru keluar,
biasanya orang
yang bersangkutan selalu nanggap wayang Sumantri
ngenger, yang
melambangkan perjalanan seorang rakyat biasa yang
mengabdi pada
penguasa (Belanda), meski dalam pengabdiannya dia harus
menutup-nutupi/mengorbankan adiknya yang jelek
(asal-usulnya)agar dia
sukses (kayak kisah Malin Kundang).

Apa itu cuma lambang saja ?

chevia




- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke