Benar tuh. Sejarah Indonesia adalah sejarah raja-raja, para pangeran,
serta para pemenang. Wajar kalau epos yang hidup dan berurat akar di
dalam pikiran orang Indonesia terutama Jawa adalah epos Mahabarata
dan Ramayana. Semuanya bercerita tentang para kesatria dan penguasa.
Tidak akan pernah ditemukan cerita bagaimana cara menanam yang baik.
Bagaimana menjual hasil pertanian, bagaimana berdagang yang
menguntungkan dalam kedua epos itu. Yang ada adalah cerita bagaimana
berkuasa dan bunuh-bunuhan.
Perwujudan epos dalam alam nyata ya sikap mengejar gelar dan jabatan,
dan akhirnya kekuasaan. Dari sini muncul yang namanya priyayi. Bila
sudah dapat jabatan dia merasa terhormat sekali, gengsinya naik meski
kere. Namun sekarang terjadi pergeseran, kehormatan tidak ada artinya
tanpa kekayaan, semua diukur dengan pencapaian lahiriah.
Guru pun rupanya demikian. Dulu guru adalah priyayi yang sangat
dihormati meski kere. Tetapi sekarang profesi guru dijauhi, karena
tidak menjanjikan kehormatan karena gajinya kecil. Kupikir kasus di
Indonesia lain dengan di Jepang. Meski gaji guru di Indonesia
disamakan dengan Jepang, secara umum orientasi mereka beda. Guru
Indonesia bila kaya maka orientasinya kehormatan serta gengsi, kalau
sudah begini jadinya jor-joran. Kalau Jepang orientasi mungkin
kepuasan batin dalam mengajar, atau peningkatan mutu murid.
Sebenarnya tidak ada korelasi antara mutu murid dengan besarnya gaji
guru. Yang berkorelasi adalah metode mengajar, serta kurikulum. Dan
ini lebih banyak berhubungan dengan budaya. Kalau budayanya
menghargai manusia dan kemanusiaan dan tidak model epos Mahabarata,
ya pasti mutu murid bagus. Meski gurunya gajinya jutaan, namun bila
mengajarnya model pawang, ya anak didiknya kayak pemain sirkus.
CBSA = Cah Bodo Sansaya Akeh (Anak Bodoh Makin Banyak)
chevia
--- Begaya Wisnu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Konsisten, ketundukan dan kepatuhan terhadap aturan,
> dalam sejarah yang amat panjang melahirkan kebiasaan
> dalam membuat rencana-rencana yang siap dijaga bak
> aturan-aturan itu sendiri, bahkan untuk rencana
> berjangka panjang sekalipun. Tiap langkah yang mereka
> lakukan tiap hari bukan saja menambah kokohnya
> realisasi dari rencana itu sendiri, tetapi juga
> menghasilkan penumbuhan wawasan-wawasan baru, sehingga
> bukan saja rencana itu menjadi lebih besar dari
> semula, tetapi juga lebih cepat tercapai. Hampir tak
> ada yang namanya crash-program, yang lebih banyak
> menghasilkan gesekan dibanding penempatan dasar-dasar
> kokoh untuk mempersiapkan masa depan.
>
> Apa sebenarnya kegagalan-kegagalan yang dilakukan oleh
> sejarah masa lalu bangsa ini ?
>
> Sejarah menunjukkan, bahwa keserakahan terhadap
> kekuasaan, dan kekuasaan yang digunakan menumpuk
> kekayaan pribadi dan keluarga yang amat dipaksakan
> dengan segala cara, melalui berbagai pemanfaatan
> kesempatan untuk melanggengkan kekuasaan, tanpa peduli
> apakah itu cuma sekedar menginjak kepala orang lain,
> yang kalau tak bisa diinjak mending dipenggal) atau
> bahkan mengabaikan hak-hak orang lain yang mestinya
> sama-sama memiliki hak atas apa yang tersedia di bumi
> ini.
>
> Contoh itu pun menular ke masyarakat yang lebih bawah,
> karena melihat kenikmatan yang seperti di surga, yang
> dinikmati oleh mereka-mereka yang ada di lapis atas
> mereka. Meski cuma kecil-kecilan, pemanjaan terhadap
> nafsu senantiasa dilakukan di sembarang tempat.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send online invitations with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!