ah, mbak che ini.
kenapa menyalahkan mahabarata dan ramayana?
lha justru keberadaan kedua wiracarita itu malah
menjiwai si syakamuni (dikenal sebagai sidharta)
untuk mengembangkan ajarannya kok ya.
dan inti ajaran syakamuni itulah yang menyebar
lewat jalur sutra pertama (pra muhammad) menyebar
ke timur ke puncak cong-mo-lau-mo terus mendatar 
ke semenanjung korea.

wira carita itu pula yang menyebar ke selatan
menyeberang laut ke jawa-dwipa menghasilkan
candi-candi berpatung penjaga yang murah senyum,
meski berujud raksasa GUPALA.

kedua cerita itu pula yang mengilhami pemikir-pemikir
jawa yang sempat dicatat oleh pengelana timur semasa
I-Tsing dll, menghasilkan tokoh-tokoh khayalan sekelas
tejamantri, ismaya dan manikmaya dengan sak anak-
turunnya?

juga menghasilkan tokoh tukang protes SABDA-PALON,
dan BANCAK DOYOK. yang harus rela bertapa di puncak
gunung Raung karena ditinggal berkelana oleh rajanya,
(berpindah faham). 

biar saja orang menganggap Kan Arok raja jahanam.. tapi
dialah ujud suatu cita-cita anak jalanan, brandal bandit
yang keturutan... (sayang diberi simbul karena berhasil
memetik mustika yang tersimpan di BAGA Ken Dedes...)
sukses memperbesar daulah sehingga anak-cucunya
berani menentang daulah KHAN yang AGUNG. minta agar
disejajarkan kedudukannya.... (lho malah ngelantur...)

bagiku, mbak che.. mahabarata hanya sekedar sajian
lambang-lambang amalan dan "unduh-unduhan"-nya orang
hidup. inti cerita itu hanya menunjukkan bahwa seseorang
berjiwa besar yang sangat teguh dan setia pada sumpah
dan kedudukannya, harus membayar segala-galanya untuk
mencapai "hakikat maqomah"-nya. dia harus rela terpisah
dari segala urusan dunia, termasuk ber-keturunan. dia pun
harus rela menentukan sendiri saat "mati"-nya. (bayangkan
kalau manusia faktual diberi kekuasaan menentukan saat
matinya... hiiiiyyyy ngeriiiii...). keluhuran pandawa dan
kejelekan kurawa hanyalah "kembang-kembang" cerita saja.
kebijaksanaan semar dan kecerdikan kresna hanyalah
ilustrasi, pembumian kekuatan dewa-dewa nuuun di khayangan
antah berantah sana.

yang penting adalah membaca lambang-lambang itulah. sayang
hanya sedikit yang mau dan mampu....

salam,


ngesoel lagi
----------------
----- Original Message ----- 
From: che <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, April 14, 2000 5:27 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain lagi)


Benar tuh. Sejarah Indonesia adalah sejarah raja-raja, para pangeran,
serta para pemenang. Wajar kalau epos yang hidup dan berurat akar di
dalam pikiran orang Indonesia terutama Jawa adalah epos Mahabarata
dan Ramayana. Semuanya bercerita tentang para kesatria dan penguasa.
Tidak akan pernah ditemukan cerita bagaimana cara menanam yang baik.
Bagaimana menjual hasil pertanian, bagaimana berdagang yang
menguntungkan dalam kedua epos itu. Yang ada adalah cerita bagaimana
berkuasa dan bunuh-bunuhan. 

Perwujudan epos dalam alam nyata ya sikap mengejar gelar dan jabatan,
dan akhirnya kekuasaan. Dari sini muncul yang namanya priyayi. Bila
sudah dapat jabatan dia merasa terhormat sekali, gengsinya naik meski
kere. Namun sekarang terjadi pergeseran, kehormatan tidak ada artinya
tanpa kekayaan, semua diukur dengan pencapaian lahiriah. 




- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke