Mbak Che, Anda kritis benar. Saya setuju dengan analisa anda. Cerita2 itu kadang secara tidak sadar meracuni suatu bangsa. Cerita yang dimaksudkan sebagai lambang2, karena salah kaprah, jadi keliru dimengerti, kemudian jadi budaya keliru. Disini saya menangkap pesan Tan Malaka agar bangsa ini untuk ber-Madilog. Madilog ini tidak cuma bisa dilakukan dengan meng-imani marxisme. Saya melakukannya dengan beragama Islam. Saya yakin , bisa pula dengan Kristen, atau Budha atau Kong Hu Cu. Madilog lebih mudah dilakukan di jaman ini yang kaya informasi. Selalu membuka diri, tidak takut pada "pertanyaan" , tidak gampang tersinggung pada perbedaan, tidak alergi menerima perubahan , selalu membuka ruang "kebenaran baru", dll. anda bisa menambahnya. Dan interaksi diantara kita dapat membantu menajamkannya. Ada satu note tentang korelasi antara gaji guru dan mutu murid. Sebetulnya sampai satu garis tertentu sudah terang ada. Gaji yang amat kurang seperti selama ini , amat menghambat konsentrasi guru. Gaji yang tinggi pula bakal menarik banyak manusia cerdas untuk berprofesi guru. Masak tidak ada hubungan antara guru cerdas dan mutu ajarannya ? Setelah makan cukup , tempat berteduh memadai, barulah manusia sempat untuk mikir budaya. Wassalam. Abdullah Hasan. -From: che <[EMAIL PROTECTED]> Benar tuh. Sejarah Indonesia adalah sejarah raja-raja, para pangeran, serta para pemenang. Wajar kalau epos yang hidup dan berurat akar di dalam pikiran orang Indonesia terutama Jawa adalah epos Mahabarata dan Ramayana. Semuanya bercerita tentang para kesatria dan penguasa. Tidak akan pernah ditemukan cerita bagaimana cara menanam yang baik. Bagaimana menjual hasil pertanian, bagaimana berdagang yang menguntungkan dalam kedua epos itu. Yang ada adalah cerita bagaimana berkuasa dan bunuh-bunuhan. Perwujudan epos dalam alam nyata ya sikap mengejar gelar dan jabatan, dan akhirnya kekuasaan. Dari sini muncul yang namanya priyayi. Bila sudah dapat jabatan dia merasa terhormat sekali, gengsinya naik meski kere. Namun sekarang terjadi pergeseran, kehormatan tidak ada artinya tanpa kekayaan, semua diukur dengan pencapaian lahiriah. Guru pun rupanya demikian. Dulu guru adalah priyayi yang sangat dihormati meski kere. Tetapi sekarang profesi guru dijauhi, karena tidak menjanjikan kehormatan karena gajinya kecil. Kupikir kasus di Indonesia lain dengan di Jepang. Meski gaji guru di Indonesia disamakan dengan Jepang, secara umum orientasi mereka beda. Guru Indonesia bila kaya maka orientasinya kehormatan serta gengsi, kalau sudah begini jadinya jor-joran. Kalau Jepang orientasi mungkin kepuasan batin dalam mengajar, atau peningkatan mutu murid. Sebenarnya tidak ada korelasi antara mutu murid dengan besarnya gaji guru. Yang berkorelasi adalah metode mengajar, serta kurikulum. Dan ini lebih banyak berhubungan dengan budaya. Kalau budayanya menghargai manusia dan kemanusiaan dan tidak model epos Mahabarata, ya pasti mutu murid bagus. Meski gurunya gajinya jutaan, namun bila mengajarnya model pawang, ya anak didiknya kayak pemain sirkus. CBSA = Cah Bodo Sansaya Akeh (Anak Bodoh Makin Banyak) chevia --- Begaya Wisnu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Konsisten, ketundukan dan kepatuhan terhadap aturan, > dalam sejarah yang amat panjang melahirkan kebiasaan > dalam membuat rencana-rencana yang siap dijaga bak > aturan-aturan itu sendiri, bahkan untuk rencana > berjangka panjang sekalipun. Tiap langkah yang mereka > lakukan tiap hari bukan saja menambah kokohnya > realisasi dari rencana itu sendiri, tetapi juga > menghasilkan penumbuhan wawasan-wawasan baru, sehingga > bukan saja rencana itu menjadi lebih besar dari > semula, tetapi juga lebih cepat tercapai. Hampir tak > ada yang namanya crash-program, yang lebih banyak > menghasilkan gesekan dibanding penempatan dasar-dasar > kokoh untuk mempersiapkan masa depan. > > Apa sebenarnya kegagalan-kegagalan yang dilakukan oleh > sejarah masa lalu bangsa ini ? > > Sejarah menunjukkan, bahwa keserakahan terhadap > kekuasaan, dan kekuasaan yang digunakan menumpuk > kekayaan pribadi dan keluarga yang amat dipaksakan > dengan segala cara, melalui berbagai pemanfaatan > kesempatan untuk melanggengkan kekuasaan, tanpa peduli > apakah itu cuma sekedar menginjak kepala orang lain, > yang kalau tak bisa diinjak mending dipenggal) atau > bahkan mengabaikan hak-hak orang lain yang mestinya > sama-sama memiliki hak atas apa yang tersedia di bumi > ini. > > Contoh itu pun menular ke masyarakat yang lebih bawah, > karena melihat kenikmatan yang seperti di surga, yang > dinikmati oleh mereka-mereka yang ada di lapis atas > mereka. Meski cuma kecil-kecilan, pemanjaan terhadap > nafsu senantiasa dilakukan di sembarang tempat. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Send online invitations with Yahoo! Invites. http://invites.yahoo.com - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia! - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
