On Monday, 17 April 2000, che <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Pemerintah juga sebenarnya telah memberikan sistem evaluasi yakni
> dengan sistem jabatan fungsional yang diharapkan dapat merangsang
> guru untuk berkarya dengan baik. Juga ada tunjangan untuk guru di
> daerah terpencil. Tetapi hal ini tidak berjalan dengan baik, kenapa ?
> Ya anda tahu sendirilah.

Ya berarti sistem evaluasinya yang perlu diperbaiki..
Evaluasi kan cara membuktikan apakah dia berperilaku atau menghasilkan
sesuatu seperti yang direncanakan atau telah mencapai standard yang
ditetapkan. Kalau sistem evaluasi tidak mampu menjamin ini, ya perlu
diperbaiki.
Misalnya, saya dengar guru yang ikut seminar dapat point tertentu. Juga
kalau bikin laporan hasil penelitian. Atau nulis dimedia massa. Atau apalah.
Kredit pointnya disebut cum, dikumpul, kalau tercapai jumlah tertentu dia
berhak naik grade.
Ini kan nggak nyambung. Apa hubungannya kegiatan itu dengan peningkatan
kapasitas dirinya?
Mestinya bisa dipertajam, karena terlalu banyak bias yang dapat terjadi
disana. Kalau masih pakai yang namanya DP3 ya jangan tanya, gampang saja
asal baik sama atasan semuanya diisi masing masing 90 atau 95. Untuk
kesetiaan pada Pancasila biasanya dikasi 100. Ukurannya apa, ya embuh. Habis
kalau nggak gitu nggak naik pangkat, kan kasihan.

> Ada satu hal yang tidak diceritakan Mbah Soeloyo, meski pendidikan
> Jepang bagus, namun pendidikannya tidak memerdekakan manusia. Sejak
> SD, bila kepingin sukses masuk PT favorit anak dipompa seperti mesin,
> sehingga sering tidak punya waktu untuk bermain. Tidak jarang ada
> anak SD baru pulang ke rumah pukul 9.00 malam. Kalau tidak begitu
> jangan harap bisa masuk SMP favorit, jenjang SMA juga demikian.

Sekedar cerita ya.
Disebuah kelas yang pernah saya lewati, saya baru baru tahu bahwa ada
sekolah yang bener bener bisa merobah kehidupan, jiwa dan raga. Butuh
totalitas, dan hasilnya berubah total.
Saya kira yang lain juga banyak yang mengalami, tetapi saya mengalami sekali
itu dan terkesan sekali.
Jadwalnya jam 08.00 sampai 17.00 waktu setempat. Ada 3 break untuk makan dan
sholat.
Satu hari biasanya terdiri atas 3 session untuk membahas 3 kasus.
Karena itu waktu sampai di dormitory, istirahat sebentar, mandi, makan,
sholat, langsung masuk shelter desk lagi, untuk mempersiapkan analisis kasus
untuk besoknya. Dengan bahasa Inggris yang gayuk gayuk tuno, waktu yang
dipakai mempersiapkan pembahasan itu rata rata 2 jam per biji. Berarti waktu
effektip 6 jam. Biasanya aku mulai jam 8 atau 9 malam, tergantung acara
TVnya ada yang bagus atau nggak. Jadi baru bisa tidur jam 2 atau jam 3. Jam
5 bangun lagi, sholat dsb sampai jam mulai belajar dikelas lagi. Begitu
siklusnya seminggu 5 hari. Sabtu dan Minggu bukan hari bebas, karena
disitulah kesempatan ngubek ubek buku teks dan referensi untuk membedah
kasus minggu berikutnya. Kenapa saya mau begitu? Kalau nggak nggak punya
persiapan cukup, dikelas cuma bisa jadi penonton. Padahal nilai tertinggi
bobotnya pada partisipasi dikelas (60%). Quiz dan Exam cuma diberi bobot
masing masing 10%. Yang lainnya praktikum. Presensi nggak dibobot blas.
Dua tahun dibegitukan, tidak terasa banyak sekali yang berubah dalam hidup
saya.Phisik sih segar bugar, wong gizinya bagus, akomodasinya enak. Tapi
cara memandang dan menjalani kehidupan ini jadi berubah total.

Apa point saya?

Saya setuju kalau anak SD mulai dikenalkan jam belajar seperti di Jepang
itu, karena cara itu sangat effektip untuk merobah kehidupannya. Setelah
lulus SD dia harus menjadi manusia yang berbeda dengan ketika baru masuk SD.
Sekolah bukan tempat rekreasi, ngeceng atau sekedar daripada nganggur. Juga
untuk sekolah lainnya. Makanya bagus sekali kalau 25% APBN untuk anggaran
pendidikan, salah satunya untuk menggratiskan biaya sekolah, baik negeri
maupun swasta. Kalau memang anak cucu nanti harus mbayar utang, ya nggak
penasaran, wong memang dia yang banyak menikmati.
Bandingkan dengan sistem Diknas kita, dimana beban belajarnya masih sangat
rendah, sehingga hasilnya ya jangan tanya. Sekolah rangkap diperguruan
tinggipun masih enteng saja disambi kerja. Belum lagi kalau gelar doktor
bisa didapet dengan Rp. 4 juta, langsung wisuda. Desertasi sudah disiapkan
penyelenggara. Hayooo apa nggak hebat.
Saya tidak mengatakan bahwa yang berbau asing pasti bagus. Disini juga ada.
Di Pesantren misalnya, butuh totalitas dan kesiapan berubah kehidupannya.
Mungkin juga di Akabri. Atau ditempat lainnya, seperti cerita cerita berguru
silat itu.
Jabang Tetuko juga dilempar kekawah candradimuko untuk bisa menjadi
Gatutkoco. Atau ketegaran iman Nabi Ibrahim juga masih harus diuji dengan
perintah menyembelih puteranya yang sudah lama didambakan sebelumnya. Butuh
totalitas.

> Sampai sejauh mana kita bisa beradaptasi ? Apa kayak sekarang gali
> lobang tutup lobang ?

Ya yang namanya adaptasi itu normatif saja. Kalau kita tidak mampu
merobahnya, ya menyesuaikan diri saja. Kalau nggak ya quit saja. Kalau
sampai gali lobang tutup lobang, ya balik sistemnya yang musti diberesi.
Nggak gitu la yaoo.

yap



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke