----Original Message Follows----
From: "Yap" <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru ( sisi Mahabarata)
Date: Mon, 17 Apr 2000 21:06:38 +0700
On Monday, 17 April 2000, che <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Ada satu hal yang tidak diceritakan Mbah Soeloyo, meski pendidikan
> Jepang bagus, namun pendidikannya tidak memerdekakan manusia. Sejak
> SD, bila kepingin sukses masuk PT favorit anak dipompa seperti mesin,
> sehingga sering tidak punya waktu untuk bermain. Tidak jarang ada
> anak SD baru pulang ke rumah pukul 9.00 malam. Kalau tidak begitu
> jangan harap bisa masuk SMP favorit, jenjang SMA juga demikian.
Sekedar cerita ya.
Disebuah kelas yang pernah saya lewati, saya baru baru tahu bahwa ada
sekolah yang bener bener bisa merobah kehidupan, jiwa dan raga. Butuh
totalitas, dan hasilnya berubah total.
Saya kira yang lain juga banyak yang mengalami, tetapi saya mengalami sekali
itu dan terkesan sekali.
Jadwalnya jam 08.00 sampai 17.00 waktu setempat. Ada 3 break untuk makan dan
sholat. dst..... di delete...
--------------- ngesoel di sini -------------------
walaaah... iki tambah berat lagi dikusinya.
yang aku ceritakan kemarin kan sudah tak kasih peringatan,
bahwa itu yang serba sedikit ku ketahui. berhubung hanya
memanfaatkan "inter-relasi" dan "komunikasi" antara 2 anakku
yang semuanya SD, antara ibunya dengan ibu-ibu lain yang
umum di sini ngurusin anak-anak ketika belum dewasa, dan
laporan ibuk-nya anak-anak ketika ikut SANKANBI (dibaca:
sang-kam-bi) yaitu hari di mana guru (sekolah) mengundang
ortumur, untuk menyaksikan:
1. cara mengajar guru
2. penampilan anak-anak sendiri dalam mengikuti pelajaran
3. penyampaian keluhan atau harapan bagi anak-anaknya, misal
bagi kami, karena "mengaku islam" harus diberi daftar khusus
makan siang yang ada daging babinya (atau bahan-2 dari babi)
4. rencana pertemuan (4 mata) antara guru dan ortumur, dalam
rangka melaporkan hasil pengamatan guru thd. anaknya....
5. dan lain-lain, hingga menyangkut kebiasaan sehari-hari sianak,
misalnya, tidur ngorok, sering "umbelen", kegiatan belajar atau
baca buku di luar buku sekolah, hingga frekwensi kunjungan
anak ke perpustakaan rakyat (ini kasus di kampung tempat tinggal
ku yang ndeso lho ya.... kalau yang kota besar sih nggak tahu)
soal dinamika anak muda jepang yang teramati oleh ku sih malah
kesannya "bubar" semua. seolah-olah orang jepang itu tak punya
public-figure dalam negeri. semua lari ke eropa atau ngamrik.
rambut mulai merah-merah hingga ungu. lipstik, warna kelopak mata,
warna bulu mata bahkan warna kulit telah banyak berubah.pokoknya
hilang begitu lho ciri budaya jepang... (padahal aku punya
pedoman, bangsa manapun yang berani membuang budaya sendiri
dan meggantikannya dengan budaya lain.... ya hancur minah bangsa
itu.. mungkin ini ada hubungannya dengan (hadist ya koh?) "barang
siapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia adalah anggota kaum
itu" (maaf ngepop bahasanya....) karena ya memang dari sononya,
manusia dicipta berbangsa-bangsa kan untuk saling kenal?
wis... malah nguawureeee.
mBah Seoloyo
moderator ML wjseto:
subscribe: [EMAIL PROTECTED]
HTTP://io.spaceports.com/~wojoseto
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!