--- Yap <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bagaimana kalau pikiran meningkatkan kualitas guru itu dilakukan > SETELAH > gajinya diperbaiki. Misalnya dengan sistem evaluasi, atau > performance > appraisal yang memungkinkan mereka harus selalu berperilaku > layaknya guru > ideal yang kita idamkan. ================================== Saya setuju dengan tulisan di atas. Karena begitulah idealnya. Pemerintah juga sebenarnya telah memberikan sistem evaluasi yakni dengan sistem jabatan fungsional yang diharapkan dapat merangsang guru untuk berkarya dengan baik. Juga ada tunjangan untuk guru di daerah terpencil. Tetapi hal ini tidak berjalan dengan baik, kenapa ? Ya anda tahu sendirilah. Saya yakin guru Jepang itu juga akan > seenaknya > apabila sistemnya nggak mendukung. Tapi satu hal yang pasti, > infrastruktur > yang berupa kebutuhan primer itu telah dijamin adanya. Bisalah, > orang Jepang > juga manusia biasa kok. Jaman sekarang bahasanya mungkin yang perlu > dirubah, > sehingga nggak terjadi kisah tragis Umar Bakri lagi. ================================= Ada satu hal yang tidak diceritakan Mbah Soeloyo, meski pendidikan Jepang bagus, namun pendidikannya tidak memerdekakan manusia. Sejak SD, bila kepingin sukses masuk PT favorit anak dipompa seperti mesin, sehingga sering tidak punya waktu untuk bermain. Tidak jarang ada anak SD baru pulang ke rumah pukul 9.00 malam. Kalau tidak begitu jangan harap bisa masuk SMP favorit, jenjang SMA juga demikian. Baru-baru ini ada kejadian ada orang iri tidak bisa masuk sekolah favorit, dia melampiaskan diri dengan membunuh anak SD. Ini bukan sekedar kasus, karena masalahnya sampai masuk sidang kabinet. Di kalangan muda Jepang sebenarnya terjadi pemberontakan terselubung pada sistem nilai. Tulisan Mbah Soeloyo perkara banyaknya orang asing di Jepang sebenarnya menunjukkan ketakutan orang tua akan pemberontakan orang muda akan nilai budaya. Dan kupikir itu wajar. Pernah kupikir dulu tidak ada dinamika, ternyata ada dinamika yang kuat pada orang muda Jepang. > Ya pergeseran nilai budaya itu yang perlu diantisipasi. Kalau > sekarang > bahasa hidup enak itu lambangnya uang, ya berilah atau minimal > janjikan uang > secukupnya, baru dituntut keluhuran budi. Yang nggak berbudi luhur > ya harus > minggir by system. ================================== Saya tidak pernah tulis bahwa guru tidak berbudi luhur. Guru dalam keadaan sekarang (menyedihkan kata orang) ini karena akibat. Sikap pemerintah yang menaikkan gaji karena guru mogok ini sungguh hal yang buruk. Nanti semua akan meniru. Bila birokrasi ikut-ikutan mogok, bubar sudah negara ini. Masalah utama adalah masalah budaya. Dan satu yang terpenting disitu adalah masalah hukum. > Kepada uncontrollable factor pilihan kita kan cuma adapt to it. Ya > terpaksa. ==================================== Sampai sejauh mana kita bisa beradaptasi ? Apa kayak sekarang gali lobang tutup lobang ? __________________________________________________ Do You Yahoo!? Send online invitations with Yahoo! Invites. http://invites.yahoo.com - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
