On Friday, 14 April 2000 che <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saya juga berharap seperti itu, kesejahteraan guru meningkat, > kualitas murid meningkat. Tapi logika ini terpatahkan bila kita > melihat guru-guru yang rata-rata kwalitasnya baik di jaman Belanda > dulu, yang menghasilkan banyak manusia berbudi baik dan bermutu. Bagaimana kalau pikiran meningkatkan kualitas guru itu dilakukan SETELAH gajinya diperbaiki. Misalnya dengan sistem evaluasi, atau performance appraisal yang memungkinkan mereka harus selalu berperilaku layaknya guru ideal yang kita idamkan. Saya yakin guru Jepang itu juga akan seenaknya apabila sistemnya nggak mendukung. Tapi satu hal yang pasti, infrastruktur yang berupa kebutuhan primer itu telah dijamin adanya. Bisalah, orang Jepang juga manusia biasa kok. Jaman sekarang bahasanya mungkin yang perlu dirubah, sehingga nggak terjadi kisah tragis Umar Bakri lagi. > > Jaman orba (orla enggak tau) guru dijadikan sapi perah oleh > departemennya sendiri, ada pergeseran nilai budaya, karena derasnya > informasi. Sayangnya informasi itu lebih banyak iklannya. Hal ini > semakin lama semakin mengurangi kehormatan guru. Pendidikan lebih > ditekankan pada science. Karena dianggap disitulah kunci sukses anak > didik untuk meraih kerja. Dari sinilah model pawang itu muncul, > sekolah jadi seperti diklat, karena musti memenuhi kebutuhan > industri. Penghargaan pada kemanusiaan jadi berkurang. Profesi guru > akhirnya jadi bahan tertawaan. Ya pergeseran nilai budaya itu yang perlu diantisipasi. Kalau sekarang bahasa hidup enak itu lambangnya uang, ya berilah atau minimal janjikan uang secukupnya, baru dituntut keluhuran budi. Yang nggak berbudi luhur ya harus minggir by system. Kepada uncontrollable factor pilihan kita kan cuma adapt to it. Ya terpaksa. Lain lagi kalau pola pikirnya dirubah drastis dimana kima mem-boost up semua internal factor yang kita miliki. Ganti orang lain yang adapt ke kita. Untuk menjual internal factor kita menjadi commodity dunia, butuh orang pinter yang banyak, karena kalau nggak gitu ya internal factor yang merupakan kekayaan kita, dirampas gratis begitu saja. Kayak freeport, batam, listrik swasta dan lainnya. Dalam kerangka membuat orang pinter yang banyak inilah kita bicara sistem pendidikan nasional. Dalam sistem inilah kita bertemu CSF (critical success factor) yang disebut guru. Ya disitu itu ketemunya. - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
