> ��:
> Budaya Jawa telah lahir dan berkembang jah sebelum
> Sultan Agung. Disamping itu, Sultan Agung tidak ABS
> terhadap Belanda (menyerang Batavia 2 kali) juga ada
> bupati yang tidak ABS terhadap Sultan Agung sebagai
> misal Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang terkenal dengan
> tombak Baruklinthing nya. Juga ada Diponegoro yang
> tidak ABS. Untung Suropati, Mangkubumi dll. Juga ada
> Marsinah, Wiji Thukul, dan para aktivis yang teraniaya
> karena menentang penguasa. Mereka itu adalah orang Jawa
> Mas. Masih banyak mas, di kantor-kantor pemerintah yang
> tidak ABS dan tidak korupsi. Persoalannya mereka tidak
> terkenal dan biasanya tersisih.
Apakah mereka itu merupakan arus besar ? Atau hanya seorang Malin Kundang yang
sering malah dianggap aneh ? Kalau mereka arus besar, Soeharto tidak akan lama
bertahan.
> ��:
> He... he.... , Mas Pramu apakah dari sistem nilai tidak
> melalui tahap koqnitif dan afektif sebelum ke perilaku?
> Kayaknya, Mas Pramu mencampuradukkan hal ini dan
> seperti pernah saya mengatakan itulah hasil dari
> definisi budaya menurut Mas Pramu. Refot kan?
Repot apanya ? Anda saja yang cenderung akademik, dan diawang-awang. Lihatlah
kenyataannya. Rasakan juga, mana yang lebih dominan keinginan kuat untuk
menentangnya atau lebih enak menghanyutkan diri, dengan alasan cari selamat atau
enggak mau cari perkara ? Dan ternyata sikap ini telah menghasilkan seorang
Suharto. Orang bisa bilang dan ngomong diawang-awang dia bukan Jawa, padahal dia
tumbuh dan berkembang di Jawa. Atau Suharto hanyalah oknum orang Jawa ?
> ��:
> Mas Pramu kayaknya sudah sampai pada kesimpulan negatif
> dan merupakan harga mati mengenai Budaya Jawa bedasar
> pengalaman empirik dan mencari pembenaran melalui kisah
> negatif sejarah tanpa menyediakan ruang sedikitpun
> untuk menampung sisi yang berlawanan atau menampung
> informasi. Terkesan sekali Mas Pramu bukan lagi skeptis
> namun sudah apriori terhadap setiap tanggapan yang saya
> lontarkan. Saya hanya berharap mudah-mudahan nanti mas
> Pramu akan bertemu dengan orang Jawa yang berbeda
> dengan stereotype orang Jawa menurut persepsi Mas
> Pramu.
Mudah-mudahan.
> ��:
> Pertama karena saya ingin menjalin komunikasi yang
> efektif dimana saya berharap ada learning points yang
> bisa saya peroleh. Dan, ternyata pemahaman kita
> mengenai budaya berbeda. Ke dua, Apa saya perlu
> memberitahu Mas Pramu bahwa budaya sangat berarti
> bagiku?
Kita memang berbeda. Yang saya maksud apa arti budaya bagiku adalah bagaimana
budaya dapat memberikan penyadaran. Sehingga kesadaran itu bisa membedakan
sesuatu yang salah dan sesuatu yang benar. Dan bisa pula mengontrol. Tidak meski
salah ditabrak saja, penjarahan, atau pemeo adanya hukum untuk dilanggar
misalnya.
> ��:
> Pertama, seperti pernah saya tanggapi namun tidak
> diperhatikan karena mas Pramu cenderung menutup diri,
> Mas Pramu terjebak kedalam apa yang disebut bias
> perception. Ke dua, kalau personal maka namanya values
> and attitudes Mas. Individu tidak bisa membentuk budaya
> namun sistem nilai kelompok yang dominan bisa
> mempengaruhi sistem nilai individu.
bagaimana sistem nilai kelompok yang dominan di Jawa sana ?
> ��:
> Ah ... itu kan masalah politik masa lalu dimana agama
> digunakan sebagai kendaraan untuk berpolitik.
Bagaimana anda bisa bilang itu hanya masa lalu ? Yang sedang berlangsung
sekarang ini apa ? Apa anda mau mengabaikan fakta lagi, masih menghibur diri
lagi ? Perkara JP sudah sampai pada masalah halal dan haram seperti beberapa
posting di milis ini. Apa ini juga anda bilang sebagai masa lalu ?
> PD:
> Memang repot di Indonesia lebih banyak penyembah BUKU
> kitab suci daripada pembaca BUKU kitab suci yang
> kritis. Sampai perkara nama pun dipersoalkan.
>
> ��:
> Apakah yang terakhir ini tidak justru out of topic Mas?
Tidak, karena itu juga bagian dari MAWAS DIRI.
> > Panca Darana
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!