----- Original Message -----
From: Pramudita Darana <[EMAIL PROTECTED]>
Meski out of topic saya coba tanggapi.
��:
Saya pikir belum out of topic. Bukankah subyek nya
Mawas Diri dimana Mas Pramu menuding budaya Jawa
sebagai biang keladinya masalah?
PD:
Definisi budaya :
secara dinamis : usaha manusia menghadapi tantangan
lingkungannya
menurut saya : Budaya adalah pencerminan
praktek-praktek yang terjadi di
masyarakat.
Pilih mana ? Atau anda punya definisi sendiri ?
��:
Apakah definsi budaya secara statis?
Kalau praktek-paktek penguasa (yang belum tentu
semuanya orang Jawa) brengsek maka bisakah kita
menurunkan sebuah kesimpulan bahwa budaya Jawa
brengsek?
Saya pikir, ada individu yang memiliki sistem nilai
tertentu. Ada pula kelompok yang memiliki sistem nilai
tertentu. Bila sebuah sistem nilai hidup dan berkembang
di lingkungan itu dan menjadi sistem nilai yang dominan
maka itu disebut budaya. Mungkin pertanyaan selanjutnya
adalah apakah sistem nilai itu?
setelah menetahui definisi budaya menurut Mas Pramu
maka saya bisa memaklumi pendapat Mas Pramu. Munginn
disinilah letak arti penting bahasa dan penggunaaanya.
Bahasa adalah alat komunkasi, sebagai alat komunikasi
baasa harus baku agar pemaknaan kosa kata yang
digunakan tidak berbeda.
PD:
Kalau bilang ORANG Jawa tidak punya prinsip,
plintat-plintut, berputar-putar,
enggak berani menerima kenyataan, beraninya main
kroyok. Tiba-tiba larinya
BUDAYA Jawa, paling jawabannya klise BUDAYA Jawa tidak
seperti yang dibilang
semua itu, semuanya bagus-bagus dan diawang-awang. Yang
dibicarakan adalah
tentang kenyataan dan praktek sehari-hari. Bukan hasil
empu masa lampau.
��:
Budaya Jawa tidak statis Mas Pramu. budaya Jawa itu
mempuyai kemampuan untuk menyerap unsur-unsur asing
untuk memperkayanya tanpa harus kehilangan
identitasnya.
PD:
Lihat saja sekarang orang Jawa itu bagaimana, itulah
buah budaya Jawa.
��:
Orang Jawa yang mana? Orang Jawa yang tinggal di
kota-kota besar dan menjadi penjabat atau penguasa?
Orang jawa yang tinggal di pesisir? Orang jawa yang
tinggal di gunung? Apaah kia bisa membuat generalisasi
untk mereka?
PD:
Saya tidak bermaksud menulis secara akademik seperti
yang anda harapkan karena itu diawang-awang, lihat saja
kenyataan yang ada. Penjarahan, pengeroyokan maling
ayam, dimana-mana ada korupsi, dll.
��:
Saya juga tidak suka yang akademik dan di awang-awang.
Saya hanya ingin mengetahui bahwa merah yang dimaksud
oleh mas Pramu persis sama dengan merah yang saya
bayangkan. dengan kata lain, saya mencoba untuk
menghindari hambatan komunikasi efektif.
PD:
Stereotyping dibentuk karena pengalaman sehari-hari.
��:
Nah benar kan, ternyata kita berbeda dalam pemaknaan
kosa kata stereotyping.
PD:
Inilah pengalaman sehari-hari saya saat di Solo dulu,
saat saya berinteraksi dengan banyak orang Jawa. Dan
pengalaman itu sungguh tidak mengenakkan.
��:
Sayang sekali mas Pramu memperoleh pengalaman yang bruk
dengan orang Jawa-Solo. seandainya saja, pengalaman itu
baik mungin mas Pramu akan berpendapat lain. Namun,
bisakah kita menggeneralisasi budaya jawa atau perilaku
orang jawa (yang belum terdefinisikan) berdasar
pengalaman di suatu daerah? Apakah tu bukan induksi
yang sarat dengan unpredictable dan systematic error?
PD:
Benar nama saya nama Jawa, tapi itu nama paksaan,
karena kekuasaan mengharuskan begitu. Inilah buah
budaya
Jawa. Budaya yang tidak mampu memberi pengayoman.
��:
Nama bagi orang Jawa sarat dengan harapan baik dimasa
yang akan datang. Saya pikir, sangat kecil kemungkinan
seorang anak mengatakan bahwa ia dipaksa untuk diberi
nama ketika lahir kecuali dengan maksud bercanda. Entah
kalau nama itu karena terpaksa ganti nama karena WNA.
Namun, KKG juga tidak ganti nama. Berbeda kan dengan
Jusuf dan Sofyan Wanandi?
Panca Darana
��
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!