----- Original Message -----
From: Pramudita Darana <[EMAIL PROTECTED]>

> ��:
> Apakah definsi budaya secara statis?

Silakan cari sendiri, saya sudah sodorkan definisi
saya. Mana definisi anda ?

��:
Lho alinea saya yang berikutnya apa belum terbaca?
Padahal saya sudah menjelaskan. Apa saya harus
menulisnya dengan -> Definisi budaya: bla... bla.. ,
nanti seperti akademis seperti Mas Pramu mengatakan.

Mas Pramu mengatakan definisi budaya secara dinamis,
nah saya bertanya kalau yang statis bagaimana? Kan
sekedar ingin tahu.

>��:
> Kalau praktek-paktek penguasa (yang belum tentu
> semuanya orang Jawa) brengsek maka bisakah kita
> menurunkan sebuah kesimpulan bahwa budaya Jawa
> brengsek?

PD:
Baca saja kelakuan para penguasa Jawa sejak jaman
Sultan Agung, kelakuan para
bupati jaman Belanda. Selalu ABS, dan enggak punya
prinsip. Bukan budaya Jawa ?
Terserah, boleh saja pake istilah oknum Jawa. Biasalah
eufemisme gaya Jawa.

��:
Budaya Jawa telah lahir dan berkembang jah sebelum
Sultan Agung. Disamping itu, Sultan Agung tidak ABS
terhadap Belanda (menyerang Batavia 2 kali) juga ada
bupati yang tidak ABS terhadap Sultan Agung sebagai
misal Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang terkenal dengan
tombak Baruklinthing nya. Juga ada Diponegoro yang
tidak ABS. Untung Suropati, Mangkubumi dll. Juga ada
Marsinah, Wiji Thukul, dan para aktivis yang teraniaya
karena menentang penguasa. Mereka itu adalah orang Jawa
Mas. Masih banyak mas, di kantor-kantor pemerintah yang
tidak ABS dan tidak korupsi. Persoalannya mereka tidak
terkenal dan biasanya tersisih.

> ��:
> Saya pikir, ada individu yang memiliki sistem nilai
> tertentu. Ada pula kelompok yang memiliki sistem
nilai
> tertentu. Bila sebuah sistem nilai hidup dan
berkembang
> di lingkungan itu dan menjadi sistem nilai yang
dominan
> maka itu disebut budaya. Mungkin pertanyaan
selanjutnya
> adalah apakah sistem nilai itu?

PD:
Silakan cari sendiri. Lihat saja perkara korupsi dan
KKN. Itu dominan value atau
bukan ?

��:
He... he.... , Mas Pramu apakah dari sistem nilai tidak
melalui tahap koqnitif dan afektif sebelum ke perilaku?
Kayaknya, Mas Pramu mencampuradukkan hal ini dan
seperti pernah saya mengatakan itulah hasil dari
definisi budaya menurut Mas Pramu. Refot kan?

> ��:
> Budaya Jawa tidak statis Mas Pramu. budaya Jawa itu
> mempuyai kemampuan untuk menyerap unsur-unsur asing
> untuk memperkayanya tanpa harus kehilangan
> identitasnya.

PD:
Kalau dinamis mengapa selalu mengulangi kesalahan yang
sama ?

��:
Mas Pramu kayaknya sudah sampai pada kesimpulan negatif
dan merupakan harga mati mengenai Budaya Jawa bedasar
pengalaman empirik dan mencari pembenaran melalui kisah
negatif sejarah tanpa menyediakan ruang sedikitpun
untuk menampung sisi yang berlawanan atau menampung
informasi. Terkesan sekali Mas Pramu bukan lagi skeptis
namun sudah apriori terhadap setiap tanggapan yang saya
lontarkan. Saya hanya berharap mudah-mudahan nanti mas
Pramu akan bertemu dengan orang Jawa yang berbeda
dengan stereotype orang Jawa menurut persepsi Mas
Pramu.

> ��:
> Sayang sekali mas Pramu memperoleh pengalaman yang
bruk
> dengan orang Jawa-Solo. seandainya saja, pengalaman
itu
> baik mungin mas Pramu akan berpendapat lain. Namun,
> bisakah kita menggeneralisasi budaya jawa atau
perilaku
> orang jawa (yang belum terdefinisikan) berdasar
> pengalaman di suatu daerah? Apakah tu bukan induksi
> yang sarat dengan unpredictable dan systematic error?

PD:
Kenapa semua harus didefinisikan ? Tidak bolehkah kita
punya definisi sendiri,
terserah apakah definisi itu mempunyai systematic error
atau enggak ?

��:
Lha kalau tidak didefinisikan bagaimana kita tahu bahwa
pemaknaan kita tidak berbeda. Apakah kurang cukup saya
menjelaskan? Sekarang kita banyak mendengar kata
"heboh" digunakan untuk menjelaskan hebat. Padahal
heboh yang saya pahami sejak mulai mengerti kata adalah
onar, ramai. Kalau setiap orang bisa menggunakan
defisnisinya sendiri untk memaknai kosa kata yang
digunaan maka saya berpikir keras mengenai kegunaan
bahasa sebagai alat komunikasi. Derby Sehartian sebagai
contoh mengeluarkan bahasa gaul yang polanya tidak
jelas demikian pula aturannya. Apakah seperti itu?

PD:
Kenapa anda selalu bertanya bagaimana definisi budaya ?
Kenapa tidak ditanyakan apa arti budaya bagiku ?

��:
Pertama karena saya ingin menjalin komunikasi yang
efektif dimana saya berharap ada learning points yang
bisa saya peroleh. Dan, ternyata pemahaman kita
mengenai budaya berbeda. Ke dua, Apa saya perlu
memberitahu Mas Pramu bahwa budaya sangat berarti
bagiku?

PD:
Karena budaya bagaimana pun juga adalah lebih pada
kesan
dan sifatnya personal.

��:
Pertama, seperti pernah saya tanggapi namun tidak
diperhatikan karena mas Pramu cenderung menutup diri,
Mas Pramu terjebak kedalam apa yang disebut bias
perception. Ke dua, kalau personal maka namanya values
and attitudes Mas. Individu tidak bisa membentuk budaya
namun sistem nilai kelompok yang dominan bisa
mempengaruhi sistem nilai individu.


> ��:
> Nama bagi orang Jawa sarat dengan harapan baik dimasa
> yang akan datang. Saya pikir, sangat kecil
kemungkinan
> seorang anak mengatakan bahwa ia dipaksa untuk diberi
> nama ketika lahir kecuali dengan maksud bercanda.
Entah
> kalau nama itu karena terpaksa ganti nama karena WNA.
> Namun, KKG juga tidak ganti nama. Berbeda kan dengan
> Jusuf dan Sofyan Wanandi?

PD:
Berbahagialah KKG, karena dia telah menjadi dirinya
sendiri. Apalah artinya nama, begitu seseorang pernah
bilang.

��:
Saya banyak mempunyai teman keturunan Tiong Hoa yang
bersikap seperti KKG. Jadi, orang yang tidak bisa
bersikap seperti KKG berarti belum menjadi dirinya
sendiri ya? :-)

PD:
Tapi di Indonesia nama menjadi sangat penting. Bahkan
sinetron telenovela diprotes fundamentalis FPI karena
memakai
nama Fatima. Padahal nama itu bukan monopoli orang
Arab.

��:
Mudah-mudahan Mas Pramu tidak membuat generalisasi
mengenai hal itu. Tidak semua I berpandangan seperti
FPI!

PD:
Segala yang ngawur dan absurd ada di Indonesia. Nama
Fatima dipersoalkan, tapi nama Muhamad Soeharto tidak
pernah dipersoalkan. Padahal Muhamad jelas lebih
mantab, dan citranya wah.

��:
Ah ... itu kan masalah politik masa lalu dimana agama
digunakan sebagai kendaraan untuk berpolitik.

PD:
Memang repot di Indonesia lebih banyak penyembah BUKU
kitab suci daripada pembaca BUKU kitab suci yang
kritis. Sampai perkara nama pun dipersoalkan.

��:
Apakah yang terakhir ini tidak justru out of topic Mas?
:-)

> Panca Darana

��





- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke