On Mon, 5 Jun 2000, By wrote:

> Heran terhadap rusaknya pela gadong di Ambon kok sekarang, mestinya sudah
> sejak dua tahun lalu dikemukakan, ketika pertama kali orang lagi Idul
> Fitri diserbu. Atau mungkin kita baru percaya atau tersentuh ketika ada
> yang langsung bercerita face to face. Kenapa juga dulu nggak dicoba
> menghadiri pertemuan2x yang biasanya menghadirkan saksi2x dari Ambon.
> Atau barangkali pertemuan2x tsb terlalu kekanan jadi saksinya benar atau
> tidak benar nggak usah dilihat?

WAM:
Saya juga heran.
Kenapa kalau orang Islam mencoba berbuat sesuatu untuk menyelamatkan orang
Islam yang dibantai semena-mena, segera dikomentari dengan sinis? Apa yang
sudah dilakukan orang-orang itu untuk menghentikan pembantaian biadab itu?
Boleh jadi, karena mereka bukan Islam. Jadi, tidak sedikitpun mereka
terketuk hatinya menyaksikan kaum Muslim dibantai semena-mena. Atau,
keislaman mereka tidak mampu menutupi hati mereka yang lebih dekat
kekafiran. Hanya orang Islam biadab yang mampu menyalahkan orang Islam
yang nyata-nyata dibantai di Ambon. Percuma saja mereka mengaku sebagai
orang Islam, namun tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan pembantaian di
Ambon.    

> Eh ada lagi yang mengkaitkan ke Lasji. Setahu saya sih lasji baru ada di
> Ambon beberapa minggu lalu. Lho kok bisa2xnya di kaitkan dengan rusaknya
> pela gadong. Dua tahun Ambon diacak-acak, nggak dikomentarin. Pemerintah
> nggak bisa2x mberesin urusan yang jelas2x urusannya nggak dikomentari.
> Giliran islam "Kanan" bikin lasji untuk membantu saudara2x nya yang ada
> di sana, bencinya setengah mati. Mbok yang agak proporsional.

WAM:
Presidennya aja asbun, gimana pengikutnya enggak?
Kalau saja keributan di Ambon bisa segera diberesi, tidak perlu ada
kelompok macam Laskar Jihad. Nggak bakalan laku.
Namun, dengan berlarut-larutnya masalah Ambon, belum lagi presiden yang
bicara asal njeplak, saya bersyukur masih ada kelompok macam Laskar Jihad. 
Seharusnya mereka mulai ada sejak dua tahun lalu.  

> Ambon itu memang harus dibikin tembok pemisah aja, kayak di Berlin dulu.
> Islam - kristen. Provokator atau bukan, yang jelas dendam itu sekarang
> pasti sudah mengakar sampai jauh kedalam hati. Ya dipisahkan aja
> sekalian. Sudah terlanjur rusak. Salah siapa? Entah. Siapa sih yang
> bertanggung jawab atas keamanan negara, kerukunan warga? Perasaan sih
> setiap bulan kita bayar pajak yang mestinya juga untuk keamanan.

WAM:
Boleh jadi. Aparat, dan presiden, tidak bisa lagi diharapkan ikut
melindungi masyarakat di Ambon.


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke