mBah Soeloyo wrote:
> ----Original Message Follows----
> From: By <[EMAIL PROTECTED]>
> Jauh lebih mudah bilang "Malu...." karena ikut opini mayoritas. Itu
> masalahnya kalau nggak pd dan bergaul dengan lingkungan yang nggak se visi.
> Puluhan ribu muslim mengungsi keluar Ambon dan entah berapa dibantai, nggak
> malu. Baru ada lasji mau bantuin kesana malu. Yang pd kenapa jadi muslim,
> katanya pemahamannya sudah tidak bisa diremehkan.
> By.
> -------------------
> mas by,
> rasanya yang disampaikan mas aswat tentang "aku malu" itu
> lebih banyak bermakna malu melihat sebagian orang mengenakan
> baju tidak pada tempatnya....
Justru itu. Di negara yang brengsek ini, memangnya ada yang mengenakan baju
sudah pada tempatnya? Diantara sebegitu banyak yang tidak pada tempatnya, kok
yang di 'malu' in justru lasji. Itu kan simple thing. Akibat sederhana dari
begitu banyaknya salah baju - salah baju yang lain. Ini benar2x tidak mau
melihat mana yang pantas diprioritaskan, atau memang sengaja mau membuat
opini, atau sekedar tidak pd aja?
> ibaratnya baju pesta untuk
> ke sawah. dan beliau (yang berkata malu itu) tidak sekedar
> bilang, tetapi merasakan. betapa sempitnya VISI yang
> dianut oleh orang-orang itu.
> terus terang, pernyataan malu itu salah satunya terjadi di
> milist yang saya kelola ([EMAIL PROTECTED]) tempat
> berkumpulnya orang-orang dengan berbagai VISI dan MISI,
> namun dengan satu kepedulian, yi. "gelisah melihat
> semakin meluruhnya nilai BUDAYA NUSANTARA.walaupun sebagai
> "ampuan" adalah budaya JAWA.
>
> Pernyataan malu itu tidak hanya keluar dari satu alamat
> e-mail..
Ya nggapapa, sudah jadi opini umum kok, untuk merasa malu dengan hal yang
"berbau itu" ... Tidak menjadikannya menjadi standard 'malu' yang benar toh
meski sudah jadi opini umum?
> tetapi beberapa orang yang cukup senior. itu terjadi
> setelah saya mempostingkan FOTO liputan aktifitas Lasji
> yang lengkap dengan atribut selayaknya sebuah LASYKAR,
> setelah sebelumnya saya menayangkan sekelompok bocah ingusan
> yang "didandani" dan dipajang di depan kelompok orang
> yang sedang berkumpul menyampaikan protes. Dari sini mereka
> merasa malu.... betapa teganya mendadani bocah-bocah ingusan
> untuk dijadikan "pajangan". akankah anak-anak itu nantinya
> sadar akan apa yang dikerjakan oleh orang-orang tua mereka?
Ya tergantung mBah, dilingkungan apa mereka dibesarkan. Kalau di standard
"International" mungkin mereka akan sadar dan malu juga, mungkin marah karena
telah didandani. Sekali lagi, standard, biar udah international, tetap belum
tentu benar kan?
Anda kaya' nggak ada photo yang lebih serem yang bisa dikomentari aja. Misalnya
korban Ambon yang disayat2x atau yang hangus terbakar dan sudah nggak lengkap
anggota badannya. Kalau nggak salah, banyak kan tersebar didunia maya ini?
> nah, terakhir, saya ingin bertanya. Apakah VISI yang sama
> itu? bila yang dibicarakan adalah kehidupan suatu bangsa
> dan negara? yang bangsa itu adalah kumpulan orang-2 yang
> berkelompok-kelompok lagi menjadi sub-sub bangsa yang
> berbeda-beda?
Anda kaya' GD aja yang beberapa hari lalu ngomong (redaksinya tidak persis
begini) : "Ada orang2x islam yang masih tidak mau melihat bahwa bangsa ini
terdiri dari beragam agama, bla...bla...bla...". Anda tentu tahu maksudnya
islam yang mana. Yang aneh buat saya, setahu saya islam "kanan" tuh cuma mau
menjalankan syariat islam sepenuhnya, bukan membuat DIR kaya' "idola" anda
Ahmad Sudirman itu :-)) , pernyataan GD itu kan jadi menimbulkan persepsi :
Ooo, jadi kalau mau fundamental, mau nganan, mau ngislam kenthel, itu artinya
tidak mengakui bahwa bangsa ini terdiri dari beragam bla...bla...bla. Aneh kan?
Sejak kapan islam sempit begitu? Itu juga yang saya tangkap dari pertanyaan
anda diatas. Moga2x saya salah tangkap.
> salam,
>
> mbah soel
> --------
Salam juga,
By.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!