From: "Lik Uhu" <[EMAIL PROTECTED]>
Wak Abdul Hasan yg udah ganti jadi Ali Hasan [mungkin kabotan atau
keberatan nama ya hehehe]:
================================================
Sorry berat soal nama. Ali Hasan adalah saudara saya yang kebetulan pinjam
compu saya buat kirim email. Saya lupa tidak merubahnya dulu. Jadi kasihan
dia, ndak tahu apa-apa ikut dikuyo-kuyo. Lain kali timpakan ke saya saja,
yang memang sengaja cari-cari. O.K ? terimakasih, ya ?
From: "Lik Uhu" <[EMAIL PROTECTED]>
"Susahnya memang sistem pemerintahan kita secara strategis dan sistematis
sudah habis-habisan dirusak oleh orang-orang tua kita. . Yang ahli dan rajin
membaca dijadikan tukang dan kacung hehehehe....Mau apa lagi. Negeri ..ini
sudah jadi negeri Hantu Pengisap Darah dan Uang Haram..."
=================================================
AH:
Berkoar menyalahkan orang tua itu memang kerjaan anak-anak. Mereka naif
tidak tahu bahwa jatuh -bangun atau keliru-salah itu proses alami yang tidak
bisa begitu saja diloncati. Yang penting jangan mengulang kesalahan. Yang
penting kita jadi arif karena melihat kekeliruan. Bukannya kita harus
memaafkan kesalahan. Kita mesti tahu salahnya dimana, tapi tidak lantas
tenggelam. Kita mesti maju.
Lik Uhu,
Berapa sih jumlah orang-tua yang salah itu ? Paling seribu-duaribu
dibandingkan ratusan juta yang ada. Lebih baik jangan gegabah. Dan bukankah
yang anda bilang orang-tua itu duapuluhtahun yang lalu juga semuda Martin
Manurung ?
From: "Lik Uhu" <[EMAIL PROTECTED]>
".. Gus Dur memang salah satu dari orang-tua yg mengerti dinamika generasi
muda itu. Lepas dari kelemahan manajemennya ....."
===================================================
AH:
Ini adalah contoh kenaifan, sikap membuta yang mengulang kesalahan. Apakah
anda tidak mendengar, bahwa GD mengendap-ngendap malam-malam jam sebelas
pergi ke suatu hotel untuk ketemu Tommy ? Patutkah orang-tua seperti itu
dicontoh, atau disowani ke istananya ( umpamanya oleh Martin,cs). Kita cuma
bisa mengingatkan. Kesasar, lho?!
Kalau Suharto dan antek-enteknya adalah koruptor skala besar yang alusan.
Gus Dur ini amat kampungan alias baru dalam tahap maling pitik. Korupsi
(cuma) 35 milyard lewat tukang pijetnya, dibagi-bagi pada sanak
lingkungannya,
tapi tertangkap basah. Mau main perempuan, juga kampungan sekali.
Di foto bersama mau. Posenya juga amat sederhana : pangkon bersama.
Mainnya di hotel kampung di raden saleh itu. Tertangkap basah pula.
Apakah anda sudah lupa bagaimana beracun lidahnya yang belepotan fitnah
yang memnbuat hati orang biasa bergidik ? Bagaimana Laksamana di fitnah
KKN ? Masak, kita akan mempertahankan Gus Dur , karena faktor kerakyatan
atau kekampungannya. Dia cuma maling kecil-kecilan, dan sebagainya...
Mosok sampeyan terus mbelani Syaiton yang kelihatan sederhana dan kampungan
itu ? Eling, lho mas! Eling....! Ingat Jas Merah!
Wassalam,
Abdullah Hasan.
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--