Wak Abdul Hasan yg udah ganti jadi Ali Hasan [mungkin kabotan atau
keberatan nama ya hehehe]:

Reaksi wak Ali sepertinya khas reaksi orang-tua yg sudah mapan ya.
Terimkasih banyak atas pujian dan pelecehannya. Kelihatannya muji tapi
buntute nguenyeek pol nggak karu-karuan hahaha... Keahlian khas para
birokrat yg sudah aman. Ya nggak apa-apa, kita sangat menikmati budaya
ortu mapan, plus mungkin ada latar-belakang budaya Jawa feodalnya [sorry
wak Ali, saya juga ada latar belakang dan belajar budaya jawa lumayan
kok]. Dan tentu nanti diantara sesama tukang kentut kecil akan
terbahak-bahak menirukan berbagai kekonyolan penuh pralambang,
simbol-simbol ruwet yg intinya mau menunjukkan "eling lho, aku lebih tua
dan berkuasa, nggak boleh salah" hehehe....

Terus terang azha ya mbah Ali, generasi muda [meski saya sudah tua juga]
yang rajin mikir dan mbaca, sebetulnya nggak terlalu peduli Gus Dur
ngglundung atau pencilakan. Yang paling penting buat generasi muda yg
melek itu sederhana: secara bertahap mereformasi sistem dan membangun
dasar kokoh utk civilian society. Kelompok yg anda sebut group Lenin
tentu mau lebih radikal: "Sikat segera musuh-musuh revolusi y.i. Golkar,
Dwifungsi ABRI, Kelompok Pelacur Agama, Parasit dan kroni-kroni. Lalu
rombak sistem kapitalis birokrat yg tidak berpihak pada rakyat".

Susahnya memang sistem pemerintahan kita secara strategis dan sistematis
sudah habis-habisan dirusak oleh orang-orang tua kita. Rusak pol
disegala bidang dan lini. Ini juga atas nama mitos: Pembangunan dan
Stabilitas. Maklum generasi pemimpin setelah Sukarno udah males membaca
sih. Yang ahli dan rajin membaca dijadikan tukang dan kacung
hehehehe...Selebihnya: keserakahan dan kekejaman. Mau apa lagi. Negeri
ini sudah jadi negeri Hantu Pengisap Darah dan Uang Haram.

Sekarang yah terpaksa membangun kembali dari puing-puing mitos ke
realita.
Meski tiap kali membangun para orang-tua yg nggak mau anak-anaknya
berkembang selalu merusakkan dasar bangunan itu. Gus Dur memang salah
satu dari orang-tua yg mengerti dinamika generasi muda itu. Lepas dari
kelemahan manajemennya, dia sungguh meletakkan dasar demokrasi. Ini
tentu sangat berbahaya bagi generasi tua yang masuk dalam - meminjam
istilah wak Ali - golongan generasi tua tukang kentut besar setelah
kekenyangan kekuasaan, kekenyangan menjarah, kekenyangan makan uang
haram, kekenyangan mengadu domba, menginjak-injak dan membunuh rakyat
tak berdaya. Dan kekenyangan menganggap 210 juta rakyat Indonesia bodoh,
masih muda dan belum pengalaman. 

Nggak lupa kok kita akan pesan Bung Karno: "JASMERAH" = Jangan
Sekali-sekali Melupakan Sejarah. Apa artinya, yah nanti abis nangis
sampek ngompol bisa cerita-cerita lagi kalau sudah dapat ganti celana
hahaha...

Salam mukhlis,
nekad-nekadan mewakili generasi kentut kecil,
putranda, Amien Akbar Wiranto bin Tiut


Ali Hasan wrote:
> Lik Uhu ( Paman Uhu) wrote:
> Sebetulnya agak kecewa juga ikut milis ini. ........"
> =============================================
> Statement  bapak diatas mendebarkan kami semua. Jangan-jangan bapak tidak
> betah dimilis ini dan berencana meninggalkan kami semua. Tenaga dan fikiran
> bapak masih kami butuhkan. Demikian juga bimbingan serta pandangan bapak yang
> bisa memperkaya jiwa kami. Jadi tolong, kami mohon dengan sangat,  agar bapak
> tetap menemani kami. terutama pada momen-momen sedih menghancurkan jiwa bakal
> nggelundungnya pujaan kami yang juga kecintaan bapak : Paduka Yang Mulia Wali
> Langit Durrahman Wahit.....
> 
> Jangan Tinggalkan kami..... Tolong, Please...please.....lik
> .uhuuu.........tolong........
> ( airmata menetes, nggerojog membasahi celana.. sampai-sampai dikira
> ngompol...)
> 
> Salam Takzim,
> nekat2an mengatasnamakan bapak moderator,
> ponakanda , mas Dul.


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke