Menyambung pernyataan mbak Erna tentang rekrutment berdasarkan merit,
sungguh hal ini menimbulkan optimisme berprestasi. Bila segala macam
lowongan pekerjaan (kecuali yang bersifat politik) diisi berdasarkan catatan
prestasi (bukan karena koneksi atau kesahabatan, kesaudaraan, keagamaan,
kesukuan, dll), maka saya percaya kemajuan akan lebih cepat tercapai.
Rekrutment berdasarkan merit tersebut tentu saja tak terpisahkan dengan
keterbukaan atau ketembus-pandangan. Karena bila tanpa ketembus-pandangan,
bagaimana orang tahu bahwa rekrutmen itu berdasarkan merit?
Kalau boleh cerita rekrutmen dosen gaya amerika, ssb. Tempat saya sedang
menjalani academic training adalah pusat penelitian dan pendidikan tanaman
tropika (disebutnya research station)yang berada di bawah Universitas
Florida. Di sini ada 13 dosen dengan pangkat dari asisten profesor sampai
profesor dan seorang direktur yang biarpun juga doktor tapi tidak mendapat
gelar profesor karena memang tugasnya adalah administrasi, bukan ngajar atau
penelitian. Station ini membuka lowongan asisten profesor bidang
entomologi. Pengumuman disebar ke berbagai universitas lain (dan biasanya
selalu ditempel di papan pengumuman kantor jurusan atau fakultas, tidak
hanya ditumpuk di meja ketua jurusan) 6-8 bulan. Setelah pelamar-pelamar
mengirimkan paketnya (cv berisi dengan pendidikan, publikasi, penghargaan,
seminar yang didatangi, jumlah dana yang berhasil dikumpulkan dll), paket
tersebut ditaruh di perpustakaan dan setiap staf station boleh melihat dan
seluruh staf dosen di tugasi memberi penilaian memakai standar yang sudah
dibuat sesuai dengan pekerjaan yang diiklankan. Standar bukan dibuat setelah
melihat kandidatnya, walaupun ini dalam hal-hal khusus juga terjadi di AS.
Dari penilaian dosen-dosen itu, lalu dibuat peringkat. Peringkat 1-3
diundang untuk memberi seminar yang dihadiri olah siapa saja yang mau
datang. Pada hari itu juga pelamar tersebut ngobrol-ngobrol dengan setiap
dosen masing-masing sekitar setengah jam. Pelamar satu dan yang lain tidak
dijadwalkan pada hari yang sama. Ngobrol-ngobrol dengan dosen-dosen lain
ini penting sebab merekalah yang akan bekerja bersama dengan dosen baru
nanti. Lalu setelah wawancara semuanya, dosen-dosen memberikan
rekomendasinya ke pimpinan universitas tentang siapa yang dimaui.
Keputusannya biasanya tidak akan di luar dari 3 calon yang telah dirangking
oleh tempat yang mengiklankan pekerjaan itu. Pihak universitas dalam
memutuskan juga mempertimbangan masalah politik misalnya affirmative action.
Kalau daerah sekitar station itu banyak petani asal Amerika Latin yang
berbahasa Spanyol, maka pelamar yang punya latar belakang Amerika Latin dan
berdua-bahasa, Inggris dan Spanish akan lebih diutamakan. Kalau perempuan
mungkin juga akan lebih diutmakan sebab dosen yang ada sementara ini
laki-laki semua, dsb-dsb.
Pendek kata, meritnya menjadi pertimbangan utama dan dilaksanakan secara
tembus pandang dan demokratis (diantara para dosen; staf biasa seperti staf
administrasi, teknisi dan mahasiswa tidak punya suara).
Mudah-mudahan bisa dicontoh semangatnya.
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/