On Fri, 15 Dec 2000, Tedi Heriyanto wrote:
> On Friday 15 December 2000 06:49, lukito wrote:
> > Hm...obyek garapan nih. Saya coba bantu kelak. Pelan-pelan.
> Jangan pelan2 Pak, dikebut aja Pak...he...he...kalo pelan2 kapan
> nyampenya. :)
He.he. full speed pakai V8 8-)
> dihilangkan dulu, jadi antara mahasiswa dg dosen itu bisa saling kerjasama.
> Tidak ada kesenjangan di antara mereka. Dosen harus nganggep mahasiswa sbg
> "peer"-nya.
Sebetulnya dosen itu memang saat ini lebih tepat seabgai
fasilitator.. tapi seringkali (ini yang sering) mahasiswanya yang minta
dosennya sebagai instruktor.. alias maunya diajarin secara detail. Pas
cuma dikasih pointer, atau diajak diskusi... mahasisnya "keluar
malesnya".. (memang nggak semua munkgin yang seperti ini
sekitar 80-90%..he.heh.e). INi berdasarkan pengalaman saya.. lho sebagai
pengajar.. (oh iya.. mahasiswa PTN itu cuma 10-20% mahasiwa PTS).
> > Problemnya, menumbuhkan semangat open source itu susah krn
> > untuk bisa memiliki semangat "memberi", seseorang harus "kecukupan"
> > dulu...
> Setidaknya mungkin dia harus nggak perlu mikirin urusan "dapur" kali
> yach....
Nah ini yang sangat relatuif 8-) Jadi inget wawancara Eric Raymond..
IMW
----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]